Thursday, 17 November 2016

Islam Bukan Seperti Demokrasi


Hari ini banyak orang mengira bahwa pemahaman yang benar adalah jika banyak pengikutnya. Merasa dengan jumlah yang besar seakan kebenaran berpihak pada yang banyak. Akibatnya, manusia yang beda pemahaman dengan kebanyakan orang akan mudah dilabeli sesat dan melenceng. Padahal kalau mau belajar lebih dalam, bisa jadi ajaran yang dirasa asing itu ada tuntunannya. Justru terkadang ajaran yang banyak dilakukan masyarakat hari ini memiliki landasan yang lemah.  Cuma kebiasaan sebagian masyarakat kita langsung menuduh tanpa ditanya dulu, adakah tuntunannya.
Patut kita ketahui bahwa kebenaran tidak datang dilihat dari mayoritas manusia. Tapi kebenaran adalah mutlak datangnya dari Allah.
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ
“Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.S Al-Baqarah : 147)

Sebanyak apapun pengikut suatu ajaran atau sebuah kelompok yang memiliki satu pemahaman, maka tidak ada garansi bahwa kelompok itu benar-benar membawa kebenaran. Seseorang bisa menilai benar tidaknya suatu golongan hanya dilihat dari kebenaran seperti apa yang mereka pegang. Apakah mereka mengikuti Allah dan Rosulnya? Jika iya, berarti kebenaran ada pada mereka. Karena perlu kita garis bawahi, kebenaran tidak dilihat siapa pengikutnya. Tapi dilihat dari seberapa tinggi dalam mengikuti kebenaran itu sendiri.
“Kebenaran itu”, kata salah seorang ulama,  “tidak bisa dikenali dengan manusia. Tetapi justru manusia itu dikenali dengan kebenaran”.
Islam jangan disamakan dengan system demokrasi. Menilai kebenaran dilihat dari banyaknya pengikut. Tapi Islam adalah milik Allah, meski hanya segelintir orang yang mengikutinya.
Justru bila kita lebih mengikuti mayoritas orang, akibatnya mudah sekali tersesat. Karena mayoritas manusia hanya sekedar mengikuti persangkaan belaka. Tidak memiliki tuntunan yang pasti dalam hidup.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al An’am: 116)
Hal itu bisa dinilai saat Al-Qur’an banyak mengatakan kondisi yang sebenarnya tentang umat hari ini. Karena manusia cenderung mudah untuk menuruti dan mengikuti hawa nafsu dari pada wahyu Allah.

“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187)

“Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102)

“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40).

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS. Yusuf: 103).

Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling. [al-Anbiyâ’/21:24]

Allah tidak mengatakan bahwa manusia yang berakal, beriman dan taat sangat banyak jumlahnya. Tetapi sebaliknya. Jumlahnya sangat sedikit.

Bahkan digambarkan dalam hadist, keadaan umat hari ini kembali terasa asing. Sebab berat sekali orang yang mengikuti kebenaran. Kendatipun demikian, sebenarnya orang yang sedikit jumlahnya hanya karena berpegang pada kebenaran patut berbahagia.

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145, dari Abu Hurairah).

Merasa asing itu muncul saat pemahaman yang salah telah mendominasi. Kebenaran seakan tidak memiliki ruang untuk bergerak. Hingga pelakunya akan merasa asing bila mengaplikasikan kebenaran. Berjenggot, celana cingkrang, wanita menutupi aurat termasuk ajaran yang benar. Tapi asing dimata manusia. Bahkan ada yang menuduh sebagai ajaran sesat.
Tapi sebaliknya, pacaran, kumpul antar muda mudi, karaoke dianggap hal yang biasa..
Jadi memang keterasingan ini muncul, kata Syaikh Shalih Fauzan, ketika sudah ramainya kejelekan dan kesesatan. Akhirnya yang ada keterasingan pada kebenaran.” (Syarh Al Masail Al Jahiliyyah, hal. 41).

Maka alangkah lebih baiknya bila kita menilai suatu kebenaran dilihat dari timbangan Allah dan rosul. Jadi perlu diingat kembali kita tidak bisa menilai seenaknya baik buruk suatu pemahaman. Tidak ada hak sama sekali menduga kelompok A sesat, dan kelompok B benar, sampai disetarakan pemahaman itu dengan ajaran apa yang rosul bawa, dan dilanjutkan oleh pewaris nabi hingga hari ini.
Jika semua masyarakat memiliki pandangan yang baik saat merasa ada pemahaman beda dan belum pernah dilihat, tentu tidak mudah menyimpulkan pada hal yang negatif. Kedepannya lahirlah kedamaian antar perbedaan dan saling menghormati dalam naungan Islam. Semoga kita berharap seperti itu.
Wallahu a’lam bisyowab

#OneDayOnePost






No comments:

Post a Comment