Tuesday, 22 November 2016

Hikmah Lupa


Tidak ada manusia yang tidak pernah lupa. Lupa seolah menjadi tabiat manusia yang melekat. Bahkan unsur manusia terdiri dari dua sifat yang tidak pernah dapat dihindari. Yaitu salah dan lupa. Namun tidaklah Allah memberi kekurangan, melainkan ada sisi kebaikan didalamnya. Lupa yang disatu sisi menjadi penyakit, ternyata disisi yang lain ia menjadi kebaikan tersendiri bagi manusia.

Kita terkadang mendatangi dan bahkan memandikan mayat saudara/tetangga. Lalu mengurusnya hingga selesai pemakaman. Selang beberapa hari kita sudah lupa dengan peristiwa kematian. Malah
tak jarang bisa tertawa kembali seperti sebelum ada berita kematian datang. Tidak mungkin bayangan saat mayat dimandikan, dikafani, dan terakhir dimasukkan keliang kubur terus-terusan ingat. Jadi bayangan itu telah hilang dan lupa dengan datangnya urusan-urusan duniawi yang datang. Kalau saja bayangan itu terus menghantui, tentu untuk aktifitas pribadi serasa tidak bergairah. Akan terganggu dengan ingatan-ingatan yang tak disukai manusia.
Ada suatu kisah yang menggambarkan hikmah dari lupa. Dikisahkan Nabi Yusuf di jebloskan ke penjara karena hasutan Zulaiha, istri menteri. Selang beberapa tahun kemudian Yusuf bilang ke temannya agar menyampaikan ketuannya atas kondisinya di penjara. Namun Syetan membuat teman Yusuf lupa. Sehingga Pesan yang seharusnya disampaikan kepada Tuannya tidak tersampaikan. Akibatnya Nabi Yusuf semakin lama berada di penjara. DIkabarkan bahwa Yusuf dipenjara selama 7 tahun.

“Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Yusuf: 42)

Ternyata semakin lama Nabi yusuf tinggal dipenjara, Allah sempurnakan karakternya dalam hal kedermawanan, amanah, jujur, perilaku baik, memperbanyak ibadah dan mengetahui ta’wil mimpi, untuk sebuah rencana besar di masa mendatang. Maka temannya yang  lupa itu menjadi kebaikan tersendiri bagi Nabi Yusuf.

Lupa apa yang terjadi atas temannya Yusuf mengandung kebaikan. Dimana biasanya lupa sering dianggap negatif, tapi sekali lagi, bahwa dibalik lupanya manusia pasti ada hikmahnya. Tapi terkadang kita sudah terburu-buru melebel sifat dasar manusia itu sebagai sesuatu yang membawa petaka.
Dalam suatu ibadah, lupa termasuk bagian dari udzur. Sebagaimana saat menjalani puasa. Kemudian dia lupa dan makan ditengah puasanya, maka tidak mengapa melanjutkan puasa karena lupa. Bukan atas dasar kesengajaan. Jadi lupa dalam hal tertentu mengandung sisi kebaikan. Tapi bukan berarti kita mengabaikan sisi buruknya. Sebab kalau mau ditelusuri keburukan dari sifat ini pasti tidak diragukan lagi keberadaannya. Bahkan hanya persoalan lupa bisa berpotensi terancam sampai di akherat. Yaitu saat lupa bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah Ta’ala berikan, dan lupa bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah.

#OneDayOnePost



4 comments:

  1. Yang sering menghinggapi, lupa pada kebaikan manusia tetapi selalu ingat keburukannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak...lupa terhadap kbaikan manusia dan jadi jnius kalo tehadap kburukan orang lain...makaksih mbak udah mmpir...

      Delete
  2. Replies
    1. Hehhehe..iya mbak karhien...sukanya ke religi aja...buat puisi atau cerpen susah..makasih mbak udah mw mmpir...

      Delete