Saturday, 12 November 2016

Hidupmu Berbeda Denganku


Kisah hidupmu sangat jauh apa yang kurasakan. Ya. Kita memang sama-sama seumuran. Dunia kita masih dunia bermain. Tapi duniaku dan duniamu seakan tersekat sesuatu. Sebuah peristiwa yang menjadikan antara diriku dan dirimu berbeda.

Mungkin engkau gembira saat dibelikan banyak mainan dan sedih bila apa yang kau harapkan tidak terpenuhi. Bagiku, itu adalah lagu lama. Aku baru merasakan sedih ketika orang tuaku tidak kembali. Karena orang tuaku tidak jauh beda dengan masyarakat muslim lainnya. Nyawanya menjadi incaran oleh manusia yang nuraninya telah mati. Mereka tidak membiarkan orangtuaku hidup. Teman-temanku sudah banyak menjadi yatim piatu.

Aku sangat gembira bila datang relawan membagi makanan dan apa saja yang mereka punya. Tidak mengenyangkan memang. Tapi adanya makanan hari itu yang aku makan, sudah membuat kami senang. Jika tidak ada makanan, terkadang aku terpaksa mencari sisaan roti yang telah jatuh ditanah. Aku tidak peduli kotor atau tidak. Yang terpenting bisa menambal rasa lapar sementara.

Bila engkau disana asik bermain bersama teman-teman, canda gurau, saling kejar. Aku pun tetap mendapatkan seperti itu. Namun dengan cepat satu persatu dari temanku berkurang. Bukan pindah kesekolah yang lain karena harus ikut orang tuanya pindah. Bukan pula pindah karena tidak cocok dengan lingkungan sekolah. Tapi teman-temanku benar-benar tiada meninggalkanku dari dunia. Konflik panjang ini menyeret mereka terkena dampaknya.
 
Akibat bom dijatuhkan dari pesawat oleh pemerintah Suriah saat anak-anak sedang sekolah
Jangan sebut bahwa ini sekedar konfllik sesama saudara, sesama umat Islam, atau juga konflik politik belaka. Sebutan itu makin membuat hati kami makin sakit. Tapi ini adalah konflik antar agama. Kenapa aku bisa berkesimpulan seperti itu, padahal aku terbilang masih kecil? Tuhanku adalah Allah. Setiap hari aku beribadah kepada-Nya. Masa ketika bapak teman-temanku bertemu tentara pemerintah disana, disuruh sujud kepada gambar Assad, dan bilang “tidak ada tuhan selain Assad?” Bila tidak mengatakan itu akan dibunuh. Yang kutaku dari dulu tuhan kami adalah Allah, tapi mereka menyuruh untuk sujud kepada selain-Nya. Apa ini bisa disebut konflik politik, perang saudara dan perang antar muslim? engkau pasti tahu jawabannya.

Terkadang engkau senang melihat kapal terbang berlalu lalang diatas langit. Tapi bagiku adalah bencana. Akan ada sesuatu yang dijatukan. Bukan duit, atau barang yang aku harapkan. Tapi benda yang mampu menghancurkan bangunan. Benda yang meluluhlantakkan bangunan disekitarku. Benda yang sudah banyak memakan korban, khususnya teman-temanku. Pesawat-pesawat itu menjatuhkan bom dengan berat berkilo-kilo gram. Berniat meratakan bangunan tanpa sisa. Hingga mungkin jika diberi kesempatan untuk berkunjung kesana, engkau akan banyak menemukan kota yang mati.
 
Kota Raqqa, Salah satu kota di Suriah
Jika engkau memiliki cita-cita dimasa depan dengan berbagai profesi, Aku hanya mendambakan satu hal saja. Yaitu kedamaian. Kedamaian ditempatku telah hilang tidak tersisa. Kedamaian diduniaku diperebutkan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Disana aku hanya mempertahankan nyawa. Melanjutkan hidup. Terkadang orang tua dari teman-teman yang masih hidup berusaha membalas yang telah dilakukan pemerintah terhadap keluargaku. Hanya itu saja. Tapi kami dicap sebagai pemberontak. Padahal kami butuh keadilan. Butuh kehidupan yang nyaman. Tidak lebih. Coba bayangkan, jika seandainya semua keluargamu dibunuh satu persatu oleh seseorang, lalu kau memberontak untuk membalas. Kemudian dengan enteng orang itu menganggapmu pemberontak, bahkan teroris. Bagaimana sakitnya??? Kami sudah kehilangan keluarga, tempat tinggal, teman-teman, kenyamanan dan kedamaian, lalu dicap sebagai pemberontak. Apa yang kau rasakan? kalian pasti tahu jawabannya.

Itulah duniaku yang sangat jauh berbeda dengan duniamu hari ini. Aku mewakili dari anak-anak sebayaku disana. Disebuah tempat yang berjarak ratusan ribu kilo dari tempatmu. Dipisah dengan lautan dan puluhan negara. Yaitu negara Suriah. Itulah tempatku berada. Kematian disana mudah aku temukan setiap hari. Jika kalian sholat 5 kali sehari. Kami disana sholat 6 sampai 8 kali sehari. Karena selebihnya dari sholat wajib adalah sholat jenazah. Sholat atas saudara, teman dan tetangga kami yang mati.


Memang TV tidak memberitakan keadaanku yang sesungguhnya. Tentang tubuhku yang koyak terkena pecahan mortar. Peluru yang menembus badan, anggota badan yang harus diamputasi dan darah yang mudah sekali keluar, mengalir disetiap sudut kota. Hanya media saudara seimanku yang selalu memberitakan keadaan disana dengan detail. Tidak ada sedikitpun mereka memiliki kepentingan sendiri demi meraup keuntungan. Murni meringankan beban kami. Karena mereka adalah saudara kami. Saudara seiman yang ikatannya jauh lebih kuat dari sekedar tali ikatan darah. Menembus batas negara hingga kenegeri kami.
Sudah tidak dapat dihitung penderitaan yang aku rasakan. Tapi tidak membuatku sedih berkepanjangan. Karena banyak orang-orangmu berdatangan memberi bantuan. Obat-obatan, makanan, minuman, dan terkadang mainan. Aku tidak tahu dengan jelas siapa sebenarnya yang tega menghancurkan kedamaian. Namun yang aku tahu duniaku sudah berbeda dengan duniamu hari ini. Masa kecilku telah dirampas. Tak seindah yang kau rasakan. Aku tidak minta apa-apa dari kalian. Karena mungkin kalian sibuk dengan urusan masing-masing. Aku hanya berharap bisa melantunkan do’a-doa kepada kami agar kedamaian yang memang sulit didapat, bisa berpindah dihati kami semua.

#OneDayOnePost
TantanganMingguke6



No comments:

Post a Comment