Wednesday, 9 November 2016

Hati-Hati Dengan Perasaan

“Kecil dimanja,  muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga”

Kalimat diatas sudah tidak asing ditelinga kita. Ketika kecilpun perkataan itu sering saya dengar. Kalau memang ada manusia mengalami seperti itu, alangkah beruntungnya nasib orang itu. Hidup didunia selalu bahagia, dan kebahagiaan itu bisa berlanjut hingga berpindah alam. Bisa ditebak zaman sekarang siapa yang tidak mau seperti hal diatas.  Tapi sayangnya hanya sebuah ungkapan yang sangat jauh dari realita. Biasanya ungkapan-ungkapan hal semisalnya muncul dari perasaan-perasaan yang terlintas. Sebuah angan-angan kosong yang tak jelas juntrungnya. 
Berbicara mengenai perasaan, ada manusia yang Allah ciptakan dengan perasaan yang besar. Yaitu wanita. Sensifitas perasannya jauh lebih besar dari pada laki-laki. Hasilnya, perhatian terhadap orang yang dicintai akan lebih tinggi. Makanya mereka nantinya mengambil peran sebagai seorang ibu untuk merawat anak. Namun tidak semua perasaan selalu mengarah kepada kebaikan. Bahkan disebutkan dalam suatu hadist, bahwa neraka banyak dipenuhi wanita tidak lain karena terkalahkan dengan perasaan. Khususnya yang telah berkeluarga. Mereka merasa pasangannya tidak pernah memberi hak.  Itu terjadi bila suaminya  melakukan hal yang tidak berkenan dihati sang istri. Padahal banyak kewajiban yang telah ditunaikan sang suami.
Dari situ seorang istri/wanita telah dikategorikan sebagai orang yang kufur nikmat. Mereka melupakan banyak kebaikan yang diberikan suami. Dan bila si suami melakukan satu saja kesalahan, sangat-sangat diingat oleh istrinya.
Kemudian kesalahan itu bisa berubah menjadi alasan untuk menuntut hak mereka yang belum dipenuhi. Seolah Hujan setahun benar-benar tidak teranggap dikarenakan adanya kemarau sehari.

Disebutkan dalam hadist bahwa banyak sekali wanita yang masuk neraka dibanding pria.
“Aku melihat ke dalam Syurga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah fuqara’ (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam Neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari dan Muslim).

Dari sabda diatas bukan berarti Allah sangat membenci wanita. Tapi karena mudahnya mereka dikendalikan oleh perasaan. Jika mereka telah dikuasai dengan perasaan, syetan akan mudah mempengaruhi. Hingga tanpa sadar telah dituntun menuju neraka melalui jalur kufur terhadap nikmat-nikmat Allah.
Rosulullah bersabda perihal kekufuran sang wanita kepada suami mereka,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Imam Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud hadist di atas dengan pernyataannya:
“Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk syurga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum lelaki dari akhirat disebabkan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat. Cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.”
(Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tazkirah halaman 369)

Maksud dari kufur disini adalah bukan kufur yang keluar dari Islam. Tapi kufur yang tidak mau bersyukur dari nikmat yang ada. Selain wanita, ada golongan manusia yang mudah tertipu dengan perasaan dan praduga belaka. Bahkan mereka lebih mudah sekali terperdaya. Yaitu manusia yang tidak taat akan perintah Allah.  Kebaikan dianggap buruk, dan keburukan dianggap baik.

وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu, (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi”. (QS. Fushilat: 23)

Mereka  merasa bahwa segala perbuatan yang telah dilakukan tidak ada yang melihat. Dan anggota tubuhpun seperti kulit, mata dan telinga tidak mungkin menjadi saksi.

“Mereka itu melakukan dosa dengan terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak menyangka bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka.” (Fushilat: 22)

Padahal salah satu anggota tubuh manusia yang bernama kulit, Allah takdirkan mampu berbicara sekaligus menjadi saksi dipenghakiman-Nya.  Sampai manusia dan kulit saling berbicara layaknya antar manusia.
“Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dia-lah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Fushilat: 21)

Maka alangkah baiknya bila kita tidak mudah untuk dimainkan perasaan-perasaan yang menuntun pada keburukan. Mari bermuhasabah diri dengan memeriksa perasaan yang selalu muncul dari hati kita. Sebab hati mudah sekali memunculkan perasaan-perasaan sesuai dengan kondisi hati. Jika perasaan itu bisa mengarahkan kepada kebaikan, maka pertahankan. Tapi jika perasaan itu justru menghilangkan suatu kebaikan dan maslahat, lebih baik kita jauhkan perasaan-perasaan itu, agar nantinya syetan tidak seenaknya mengendalikan kita.

#OneDayOnePost
Tulisanke21


No comments:

Post a Comment