Saturday, 5 November 2016

Aksi Damai Penuh Hikmah


Apa yang anda lihat dari gambar diatas?
Jika ada berkumpulnya manusia seperti itu, mungkin biasa kita anggap demo. Demo para buruh untuk menaikkan gaji, pelengseran presiden dan lain sebagainya, demi menuntut keadilan.
Bila hanya demo-demo yang melatarbelakangi tuntutan dunia, tentu tidak akan sepenuh sebagaimana gambar diatas. Tapi karena ini adalah demo demi menuntut satu orang yang telah menistakan agama, maka panggilan bukan dari dalam kota saja. Tapi satu Indonesia terpanggil. Karena Al-Qur’an bukan milik satu suku dan daerah. Bukan pula punya satu negara. Namun Al-Qur’an adalah punya umat Islam. Sangat tidak mustahil ratusan, bahkan jutaan umat Islam terpanggil demi menuntut sang penista Agama.
Lautan manusia berbaju putih menyebar seantero bundaran Bank BI dan sekitarnya. Kalau gambar ini lebih luas lagi, tidak hanya dibundaran itu saja, tapi dari Bundaran Tugu Tani hingga rute perjalanan Ke Istana Negara dipenuhi padatnya manusia. Hitamnya aspal telah tertutup massa aksi damai. Sebuah aksi yang tumbuh dari panggilan jiwa. Tidak memandang golongan, karena ini bukan aksi untuk golongan dan kelompok tertentu. Aksi ini adalah ikatan iman. Tanpa ikatan iman, mustahil mereka akan datang dengan kerelaan.
Terserah dengan anggapan bahwa aksi itu telah dibayar hingga mengumpulkan massa. Seperti yang dikira oleh Blonde, Sidney Jones. Dia memang biasa dibayar untuk memojokkan Islam. Maka tidak kaget mendengar ucapan yang penuh fitnah itu.
Terserah dengan anggapan bahwa aksi ini mengandung sara. Bukankah ketika Ahok menistakan agama, tanpa sadar dia telah masuk kepekarangan Islam dan mengusik harga diri umat lainnya?

Beberapa orasi terus terjadi ditengah-tengah ratusan/jutaan manusia untuk membangkitkan semangat para pendemo. Ulama yang biasanya mengisi kajian-kajian Islam dan siraman rohani, dengan panggilan hati harus kelapangan. Diantara mereka adalah Arifin Ilham, AA Gym, Bakhtiar Nashir, Habib Rizieq, Syaikh Ali jabir, Felix Siau, Abu Jibril dan deretan ulama lainnya.
Tidak hanya itu. Anggota DPR, Fadli Zon dan Fahri Hamzah ikut membaur bersama massa. Karena mareka adalah perwakilan bagi rakyat. Bila lewat DPR tidak bisa memberi aspirasi rakyatnya, maka merekapun tidak sungkan berjalan bersama para rakyat menuntut keadilan yang nyaris hilang.
Fahri Hamzah, bersama da'i lainnya dalam Aksi Damai 411
Lautan manusia itu mulai berkurang saat 8 delegasi  tokoh Islam utusan aksi damai telah usai rapat bersama ketua pimpinan DPR dan MPR. Kaum muslimin telah berpisah kedaerah masing-masing.
Penuh perjuangan dengan aksi dengan massa sebanyak ini. Sebab bila tidak hati-hati mudah tersusupi dan akan ada saja provokator. Terbukti sudah ada 50 lebih penyusup yang masuk, kata salah seorang tokoh yang ikut dalam aksi damai.
Penyusup yang mengatasnamakan HMI

Tidak hanya itu, tembakan gas air mata terus ditembakkan kepada para pendemo. Bahkan ada yang menghembuskan nafas terakhir disana akibat dari gas tersebut yang ditembakkan secara massif.
Tentu dari sini ada hikmah yang sangat perlu diambil pelajarannya. Agar selalu hati-hati dan waspada dengan musuh yang masuk kebarisan aksi yang penuh damai ini. Musuh hendak menghancurkan para aksi dengan dibenturkan kepada tentara dan polri. Padahal Para aksi dan tentara adalah sama-sama rakyat. Saling melindungi dan jauh saling menyakiti.
Pasukan aksi damai berbaur dan saling tolong menolong bersama tentara dan polisi ditengah aksi dama terjadi

Namun, bila kedepannya tidak ada jawaban akan tuntutan untuk penjarakan ahok, maka jangan salahkan bila lautan penuh manusia itu berubah menjadi gelombang besar, yang bisa jadi menghanyutkan dan “mematikan”.

#Tantangan Minggu Kelima
#Tulisanke19

OneDayOnePost.

No comments:

Post a Comment