Wednesday, 12 October 2016

Tragedi Ketika Sara Dicaci

Hal yang sangat sensitif  ditengah umat beragama adalah masalah sara. Sensifitas sara tidak akan pernah padam bagi negara yang didalamnya terdapat beragam agama. Itu menandakan bahwa rasa keagamaan dalam setiap pemeluknya begitu tinggi. Sedikit dilecehkan hal berbau agama, maka mudah sekali pemeluknya tersulut emosi.
Terkait masalah Ahok yang dengan pernyataannya bahwa banyak yang dibodohi dari surat Al-maidah ayat 51 dihadapan masyarakat warga kepulauan seribu, sangat mengundang kecaman umat Islam.
Menyusul  penistaan tersebut, berbagai kecaman dari para ustadz, tokoh, bahkan dari etnis cina pun telah banyak memberikan tanggapan terhadap gubernur tersebut. Berikut saya kutipkan beberapa pernyataan mereka.


Ustadz Arifin Ilham:
“Kami sudah menyaksikan dan mendengar sikap dan perkataan bapak sebagai gubernur yang tidak lama akan bapak tinggalkan selamanya insya Allah. Dan itu bukan karena hanya banyak rakyat tidak memilih bapak, tetapi karena sikap bapak yang memang belum pantas menjadi gubernur, bahkan RT pun belum pantas pada negeri yang beradab penuh tata kerama ini.
Bahasa bapak sangat kasar, dan itu bahasa orang orang yang tidak cerdas dan terdidik. Menjadi contoh buruk bagi generasi bangsa mulia ini. Sungguh seorang yang gampang marah menunjukkan "dhoful aqli wa quwwatul hawa" lemahnya akal dan kuatnya nafsu.
Sungguh sikap bapak sangat membahayakan persatuan dan kedamaian bangsa damai beradab ini, bapak sudah menjadi provokator kerusuhan, membuat preseden sangat buruk bagi generasi bangsa ini. Semua sudut dan media mulai semakin menyadari alangkah bahaya sikap arogansi bapak yang intolerensi ini.
Tidak ada belas kasihan pada rakyat jelata yang mestinya menjadi karekter utama pemimpin yang mulia. Pernahkah bapak bayangkan kalau yang digusur itu rumah bapak, orang tua bapak, anak anak bapak...? Lantas dimana hati nurani bapak?”......... (Surat Terbuka Dari Arifin Ilham Untuk Gubernur Ahok). Dilansir dari Facebook resmi KH Muhammad Arifin Ilham (06/10/2016).

Yusuf Manshur
"MUI sudah mengeluarkan Surat Pernyataan Resmi. Pelajaran. Sungguh pelajaran, Sangat2 berharga," kata Ustaz Yusuf Mansur dalam akun Instagram pribadinya, Senin (11/10).
"Kita start dalam beberapa hari insya Allah. Belajar ayat- ayat tentang Yaa-ayyuhalladziina Aamanuu. Ada 89 ayat di dalam al Qur'an yang didahului dengan Yaa-ayyuhalladziina aamanuu".
"Di antaranya di al-Maa-idah ayat 51. Supaya lebih komprehensif. Agak detil. Dan lebih luas serta mendalam. Udah tanggung 'diperkenalkan, dibacakan, diperdengarkan, dikasih tau' oleh Allah. Hingga ayat ini begitu populer sekarang ini".
"Alhamdulillah. Insyaa Allah pelajarannya akan harian. Semoga dah. Mulai dari beberapa hari ini," tutup pemimpin Pondok Pesantren Darul Quran ini. (www.republika.co.id)

Aa Gym
Bahwa Saudara Ahok dia beretnis Tionghoa, itu adalah bukan pilihannya tapi takdir, sehingga bukan wilayah kita untuk mengomentari etnis.
Bahwa Saudara Ahok beragama non-Islam itu adalah pilihannya, dan setiap orang berhak memilih apa yang akan dipertanggungjawabkannya dunia-akhirat. Bagi kita Umat Islam tidak masalah, lakum dinukum waliyadin.
Adapun Saudara Ahok memberikan statemen/pernyataan terhadap Al-Quran dengan perkataan yang tidak pada tempatnya, dengan cara yang tidak pada tempatnya, ini adalah perbuatan melampaui batas, ini adalah perbuatan tercela, ini adalah perbuatan yang akan menimbulkan konsekwensi dari perkataannya…
Felix Siau:
“Lalu apakah ketika Allah dan Rasul menyatakan dan berbuat seperti itu lantas dikatakan membodohi orang? Naudzubillahi min dzalik, ini jelas-jelas penghinaan besar
Jadi jelas juga ini penghinaan terhadap Al-Qur'an, sebab ia menyatakan bahwa bila ada konteks Al-Qur'an yang melarang kafir memimpin, itu "membodohi", "rasis" dan "pengecut"
Maka kita sampaikan kepada saudara Ahok, ini bukan rasis, Muslim tak pernah diajarkan membenci ras, tapi membenci kekafiran dan kesombongan serta kedzaliman
Wajar ummat Muslim tersakiti, tersinggung, terluka, dan marah, sebab dia sendirilah yang selalu memulai menyinggung isu agama, dengan mengatakan ini itu, padahal tidak berilmu”. (www.berita.islamedia.id)

KH. Luthfi Bashori
Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang.
"Di saat Ahok membuat marah umat Islam karena melecehkan dan
memperolok surat Al Maidah 51 ternyata ada beberapa oknum ‘Setan Gundul’ yang mengaku-ngaku sebagai Ahli Tafsir, tapi justru membela Ahok dengan cara ‘Menjual Tafsir Jalan-Lain’, hingga mengkonotasikan Ahok-lah di pihak yang benar.
Para oknum ‘Setan Gundul’ macam demikian itu, bukan lagi mem-POLITISASI-kan agama, tapi sudah pada batas mem-PROSTITUSI-kan Islam.” (www.portalpiyungan)

Kwik Kian Gie (Etnis cina Nasionalis)
"Siapa sebenarnya yang suka menggunakan sara??? NEgara kita kan negara yang
berdasarkan ketuhanan yang maha Esa. Jadi hormati dong umat islam yang tuhannya
melarang memilih pemimpinnya yang non muslim...itu artinya mereka (muslim)
melaksanakan pancasila, Sila kesatu..." (www.pos-metro.com)

Pembelaan terhadap Ahok
Namun sebagaimana ada yang mengatakan, sebaik-baik manusia pasti ada yang membenci dan menolak. Dan seburuk-buruk manusia pasti ada yang menyukai dan mendukung.
Pernyataan Ahok yang melecehkan Al-Qur’an justru hendak diberi penghargaan oleh satu tokoh wanita Syiah, Emili Renita. Dia mengatakan semstinya ahok diberi penghargaan  karena bisa menafsirkan dan membuat orang banyak membuka Al-Qur’an.
“Seandainya Ahok bawa ayat Qur'an satu ayat tiap minggu aja, pasti kita semua jd pada rajin belajar Qur'an.Harusnya Ahok dikasih penghargaan niih, kita semua jadi buka lagi al-Qur'an setelah Ramadhan,” Katanya melalui akun Facebook-nya, Senin (10/10/2016).
Tidak hanya dari golongan Syi’ah, Bahkan ketum PDIP membelanya dengan mengatakan Ahok kalau tidak seperti itu berarti bukan orang Belitung.
“Banyak orang berikan sentimen emosional katakan Pak Ahok itu mulutnya agak kelewatan. Kalau saya sampai bilang ke tingkat Presiden Pak Jokowi, ‘Kalau Pak Ahok mulutnya enggak begitu dia bukan orang Bangka,” kata Megawati di Rumah Dinas Bupati Blitar, Senin (10/10), menanggapi penghinaan Al Quran yang dilakukan Ahok.
Hingga saat ini dari berbagai ormas telah mengadukan gubernur itu kepada pihak berwajib. Bahkan jika pihak berwajib tidak memproses penistaan tersebut, maka kapolri akan dipanggil ke DPR.
Pernyataan itu disampaikan oleh Fadli Zon sebagai wakil ketua DPR. Menurut dia Penistaan bila tidak segera diproses, Fadli zon akan langsung melaporkan ke komisi III  yang akan melaporkan kapolri Tito karnavian untuk ditanyakan kasus penistaan tersebut.
Atas banyaknya reaksi umat islam yang meminta agar ahok mohon maaf kepada kaum muslimin, maka akhirnya dia baru minta maaf. Tapi permohonan maaf bukan karena sadar melecehkan salah satu ayat dalam al-Qur’an, namun karena membuat gaduh dan tidak ada maksud menghina dan melecehkan Al-Qur’an.
"Saya sampaikan kepada semua umat Islam, ataupun orang yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Tidak ada maksud saya melecehkan agama Islam ataupun Al Quran," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (10/10/2016), seperti yang dikutip Tribunnews.
Permohonan Maaf Belum Cukup
Namun permohonan maaf tidaklah cukup. Hukuman tetap ditegakkan. Sebagaimana dia dulu pernah menyarankan ke UI untuk mengeluarkan Boby Febry Krisdiyanto dari kampusnya. Meski keputusan DO adalah hak dari UI, tapi Ahok menyatakan sebagai warga negara dia keberatan bila mahasiswa tersebut tidak dikeluarkan.
Jadi sekedar permohonan maaf belum cukup. MUI akan menyelidiki Ahok perihal surat Al-Maidah ayat 51 secara detail.
"Jadi MUI akan membaca dengan teliti sebenarnya apa yang diucapkan Ahok itu menghina Al- Quran karena katanya ada kebohongan, atau menghina para kyai atau ulama yang mengutip ayat itu, atau menghina dua-duanya atau tidak ada penghinaan sama sekali," ujar Ketua MUI KH Maruf Amien seusai mengikuti seminar "Deradikalisasi, Kewaspadaan Nasiona dan Peran serta Pemerintah" di PTIK, Tirtayasa, Jakarta Selatan, Selasa (11/10).
Selain itu pula, ketua MUI menyoroti, apakah Ahok minta maaf dengan merasa bersalah atau tidak.
"Juga ketika Ahok minta maaf, minta maafnya itu, apakah dia merasa salah, sehingga meminta maaf. Atau dia minta maaf hanya karena menghindari adanya kegaduhan dan dia merasa tidak salah,. Kata Ma’ruf Amin seperti dilansir dari beritasatu.com
Laporan dari berbagai LSM mengenai penistaan Ahok akan segera diproses oleh kepala divisi humas polri. Dia menyatakan bahwa permohonan maaf tidak berpengaruh untuk menghentikan pemeriksaan terhadap gubernur DKI tersebut.
"Secara proporsional dijalankan oleh pihak kepolisian sebagaimana aturan hukum yang ada berkaitan dengan pembuktian," ujar Boy, di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/10/2016). hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh kompas.com
Teguran Keras MUI Pada Ahok
Atas keresahan yang terjadi saat ini yang berawal dari asal bicaranya Ahok mengenai Surat Al-Maidah ayat 51 itu, maka MUI DKI memberi teguran keras. Dia mengungkapkan peristiwa itu bisa mengancam kehidupan di DKI khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Adapun isi dari teguran tersebut sebagaimana berikut.
Tidak melakukan perbuatan dan pernyataan atau komentar yang dapat meresahkan  kehidupan masyarakat DKI Jakarta umumnya, dan kaum Muslimin khususnya.
Tidak masuk ke area perbincangan yang bukan menjadi kewenangan tugasnya, seperti pernyataan yang dikategorikan penghinaan dan hasutan serta penyebaran kebencian di kalangan umat Islam khususnya, dan warga DKI Jakarta umumnya.
Gubernur tidak lagi melakukan tindakan atau menyampaikan perkataan yang dianggap meremehkan umat Islam atau para ulamanya, seperti menyatakan bahwa umat Islam dibohongi dengan Alquran Surah al-Maidah ayat ke- 51. Para Ulama atau Pendakwah telah menyampaikan apa yang digariskan oleh Al Qur'an yang tafsirnya disepakati oleh mayoritas Ulama, sehingga tidak dapat dipandang sebagai pembohongan atau pembodohan serta bukan bentuk politisasi ayat, tetapi bagian dari tugas para ulama untuk menyampaikan kebenaran Alquran.
Menarik perkataannya yang menganggap bahwa Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) sebagai pelecehan yang dilakukan umat Islam.
Agar Gubernur lebih fokus kepada tugas utama yang diembannya untuk memajukan Kota DKI Jakarta, dan meningkatkan kesejahteraan warga DKI Jakarta, jasmaninya maupun rohaninya.
Demikianlah Isu sara bila ada yang melecehkannya. Maka alangkah baiknya menjaga mulut dari sesuatu yang buruk. Padahal mudah mengucapkan kata dan kalimat dari mulut tersebut. Namun konskwensinya begitu berat.
Apapun hasilnya nanti, semoga dari peristiwa ini sang gubernur sadar, untuk kedepannya agar tidak gegabah dalam persoalan agama. Meski dulu ada penista agama yang sempat dipenjara, yaitu Arswendo Atmowiloto tahun 1990. Karena membuat polling idola orang-orang di Indonesia. Dan urutan Nabi Muhammad menjadi urutan ke 11. Akhirnya memicu kemarahan umat islam. Namun kita tidak tahu, apakah nasibnya sama sebagaimana Arswendo.
Ini menjadi pelajaran bagi semuanya agar selalu menjaga mulut dan tidak begitu mencampuri urusan agama lain. Karena setiap agama memiliki prinsip sendiri dalam memilih pemimpin. Dan hendaknya menjauhkan perkataan yang bisa menimbulkan konflik terhadap sesama manusia.
#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment