Monday, 31 October 2016

Nilai Aib Dimata Seorang Muslim


         
   Betapa banyak karunia Allah yang diberikan kepada kita. Hingga detik ini pun Dia tidak henti-hentinya menurunkan limpahan karunia tersebut. Salah satu yang tidak kita sadari adalah tertutupnya aib pada diri kita. Karena tidak ada manusia yang hidup didunia ini melainkan terdapat pada dirinya aib. Kata aib menurut bahasa artinya cacat dan kekurangan. Sebagaimana sebagian ulama mahdzab Hanafi menyebutkan aib dengan pengertian,

مَا يَخْلُو عَنْهُ أَصْل الْفِطْرَةِ السَّلِيمَةِ مِمَّا يُعَدُّ بِهِ نَاقِصًا
“Suatu bagian yang tidak ada dari asal penciptaannya, dan itu disebut sebagai bentuk kekurangan”.

Aib dalam kehidupan kita sangat ditutup rapat. Muncul rasa malu jika hal itu tampak dimuka umum. Aib bukan hanya sebatas pada kekurangan fisik belaka. Bahkan perbuatan buruk yang dilakukan salah seorang muslim kemudian tidak ada yang tahu kecuali dirinya, maka itu termasuk aib. Namun ada beberapa orang yang berusaha menutupi aib itu jika terlihat. Artinya aib tadi menjadi rahasia bagi yang mengetahuinya. Meski demikian, tidak banyak orang yang mampu menjaga aib orang lain.

Dimasyarakat mudah kita temukan aib saudara dan teman menjadi tema pembicaraan. Terasa gatal mulutnya bila rahasia saudaranya tidak dibicarakan. Maka tentulah menjaga aib ini memiliki keutamaan tersendiri. Sebab begitu berat menjaga aib saudara seiman. Inilah kenapa Allah memberi tiga keutamaan bagi orang yang mampu menjaga aib saudaranya.

Keutamaan Menutup Aib Saudaranya
  • Keutamaan Pertama: Allah Akan Menutupi Aibnya Di Akhirat
Diakherat semua dosa dan aib akan dibeberkan tanpa ada satupun yang disembunyikan. Tapi bagi orang yang selalu menjaga aib saudaranya ketika didunia, aibnyapun di akherat akan Allah tutup.
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
Dalam hadist yang lain disebutkan,
مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menutupi (aib) saudaranya sesama muslim di dunia, Allah menutupi (aib)nya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad).

  • Keutamaan Kedua: Allah Menutupi Aibnya Di Dunia
Balasan bagi seorang yang menutup aib saudaranya ternyata bukan diakherat saja. Tetapi juga didunia. Allah akan menutup semua aibnya karena dia telah menjaga aib saudaranya dimana hari ini banyak orang yang dengan mudahnya menyiarkan aib saudaranya sendiri.
Rosulullah bersabda:
“....barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)

  • Keutamaan Ketiga: Menutup Aib Saudara Seperti Menghidupkan Bayi Yang Dikubur Hidup-Hidup
Permisalan diatas menunjukkan sungguh mulianya orang yang telah menutup aib saudaranya. Sama halnya dia menyelamatkan saudaranya itu dari sesuatu yang buruk dan akan menimpanya.
مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً مِنْ قَبْرِهَا
“Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin maka ia seperti seorang yang menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya.” (HR. Ahmad)

مَنْ رَأَى عَوْرَةً فَسَتَرَهَا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً
“Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.” (HR. Abu Daud).
Demikianlah keutamaan bagi orang yang menutup aib saudaranya. Tentu masih banyak keutamaan lain yang tidak kita ketahui.

Balasan Pengumbar Aib Saudaranya
Namun bagaimana dengan nasib orang yang suka mengumbar aib orang lain?
Tentu balasan sesuai atas perbuatan yang dilakukan. Akan berlaku sunnatullah untuk keadilan para hambanya didunia dan akherat. Orang yang suka mengumbar aib dan tidak tahan untuk dirahasiakan pada orang lain, Allah akan membuka pula aibnya. Itu terjadi tidak hanya di akherat. Di dunia pun akan Allah ungkap aibnya. Agar orang lain tahu aib-aib yang sudah lama ia tutup rapat-rapat.

Rosulullah mengingatkan dengan sabdanya:
“Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah).
Dalam hadist yang lain beliau bersabda,
 “Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725, 1/581)
Abdullah bin Umar berkata,
مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ
“Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya di sisi Allah darimu.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2032)
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang-orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua: Allah tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” Namun kata Al-Qadhi, sisi yang pertama lebih nampak karena adanya hadits lain.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/360)

Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
 “Sesungguhnya (di hari penghisaban nanti) Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang-orang yang hadir di mahsyar). Allah berfirman: Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu adalah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan).’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosanya dan ia memandang dirinya akan binasa karena dosa-dosa tersebut, Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Membongkar Aibnya Sendiri
Kendatipun demikian, ada saja manusia yang justru dengan mudahnya mengumbar aibnya sendiri. Dimana Allah telah menutupnya, tetapi dia bicarakan kepada orang lain. Serasa tidak punya malu kehormatannya dikoyak sendiri didepan saudara dan teman-temannya. Allah menutup aibnya dimalam hari, tetapi pada paginya ia bongkar sendiri atas dosa yang sudah dilakukan semalam.
Maka dalam kasus seperti ini dikategorikan sebagai Mujahirin. Yaitu orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Ancaman bagi pelakunya adalah dosanya tidak akan diampuni oleh Allah.

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
 “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (H.R. Bukhari (6069) dalam kitab Fathul Bari dan lafadz ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim (2990).

Sebab kenapa Allah enggan mengampuni pelaku dosa mujahirin diantaranya:
- Terang-terangan melakukan dosa berarti sama halnya menyebarkan kemaksiatan itu sendiri.
- Pelaku dosa sama saja meremehkan dan menantang Allah, sebagai sang Pencipta yang wajib ditaati perintahnya.
- Termasuk dari sayangnya Allah kepada hambanya adalah ditutupnya aib seorang muslim. Tetapi jika dibuka sendiri oleh hamba tersebut dengan menceritakan kepada orang lain, berarti seakan ia menolak sayangnya Allah kepada hamba tersebut.

Dipenghujung artikel ini mari kita evaluasi diri, dimanakah posisi kita berada. Apakah kita termasuk golongan yang menjaga aib saudara, atau golongan yang suka mengumbar aibnya, atau golongan yang justru membuka aibnya sendiri kepada saudara dan temannya, padahal Allah telah tutupi aibnya? Maka pastilah seorang mukmin akan memilih perkara yang membuahkan sesuatu yang baik, yang hasilnya bisa dipetik bukan saja didunia, tetapi juga di akherat kelak. Marilah kita menjadi agen penjaga rahasia bagi aib-aib sendiri, terlebih aib saudara kita. Karena aib mereka, adalah kehormatan kita juga.

#OneDayOnePost
Tulisanke16

4 comments:

  1. Tulisan mas hanif selalu menarik. Penuh ilmu. Mkasih mas tulisanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanya berbagi ilmu mbak..moga bermnfaat dan bisa kita aplikasikan..

      Delete
  2. Replies
    1. masih belajar mbak...semoga bermanfaat..hehehe

      Delete