Tuesday, 18 October 2016

Belajar Dari Lansia




Kulitmu kini berkeriput. Uban tersebar disetiap sudut kepala. Ingatan tak lagi kuat. Fisik lemah tak berdaya. Itu tanda bawah dirimu memasuki masa tua.
Kini takdir telah menentukan, bahwa fase kehidupanmu berada diujung. Memang kematian tidak memilih usia. Di usia kapanpun kematian bisa datang kepada orang yang jauh dibawah umurmu. Namun bila kematian ditangguhkan, maka proses pertumbuhanmu tidak ada yang mampu menghentikan. Umur terus bertambah, hingga ujung usia.



Telah banyak pengalaman hidup yang kau rasakan. Suka duka telah sempat mendarat pada tubuh rentamu. Gulungan waktu sudah banyak kau habiskan. Entah itu untuk kebaikan atau sebaliknya. Julukan lansia tak pernah terbetik dalam pikiranmu. Kini sebutan itu tersemat padamu, bahkan sangat cocok atas kondisimu sekarang. Walaupun kenyataannya terkadang engkau tidak rela disebut itu.

Kesemangatan dan tekadmu mengukir mimpi saat muda, seperti tahu prediksi bagaimana keadaanmu nantinya. Mungkin hari ini hidupmu nyaman dan tentram dengan keluarga besar. Menikmati segala bisnis yang berada dibawah kendalimu. Ikhtiarmu yang kuat, mengantarkan pada berubahan dan kenyamanan. Agar dimasa tua telah mapan, dan ibadah semakin kencang.
Namun tidak semuanya orang-orang sepertimu melakukan itu. Bisa jadi engkau mendapat harta warisan dari orang tua. Kemudian engkau jadikan sebagai modal usaha yang berkembang hingga masuk masa tua.


Sedikit sekali orang yang bertahan hingga mencapai di usiamu. Sebagian besar diantaramu telah banyak lupa akan masa lalunya. Usaha-usaha keras dimasa muda, ambisi yang berapi-api, bahagianya saat-saat sekolah, hangatnya ditengah sahabat, menjalin cinta, membangun keluarga, adalah sesuatu kenangan manis yang telah berlalu.


Diantaramu, ada yang sudah terbujur lemas diatas ranjang.Tidak mampu berbuat apa-apa. Sekedar keluar rumah saja sangat susah. Ternyata Allah taqdirkan sakit-sakitan diujung usia. Itu adalah hal lumrah untuk seusimu. Maka bersyukurlah, karena mungkin engkau termasuk orang yang tidak sakit-sakitan. Dan dapat menikmati jerih payah hasil usaha dimasa muda.


Namun bila engkau sakit,  bisa saja sakit itu membawamu pada gerbang kematian. Mungkin Allah hendak kuras dosa dengan penyakitmu. Hingga ketika mati, tiada dosa yang engkau bawa saat bertemu dengan-Nya.
Dirimu yang tua, adalah masa yang suatu hari, namun tidak pasti, yang berumur muda akan merasakannya. Dikatakan tidak pasti, karena bisa jadi perjalanan menuju lansia dihadang dengan kematian.


Tidak banyak harapan duniamu hari ini. Karena memang kondisimu sudah tidak mendukung dari berbagai sisi.  Berharaplah kepada Allah, semoga dengan bonus umur dapat melakukan berlipat-lipat amal shalih. Agar nantinya, bisa jadi Allah mencatatmu sebagai manusia yang baik saat tutup usia.

Masa tuamu, menjadi pelajaran bagi kita yang masih muda. Hukum sebab akibat terus berlaku. Masa muda yang dilakukan dengan giat dan keras, akan dituai dimasa tuanya nanti. Sebaliknya, bila saat muda hanya melakukan sesuatu yang sia-sia, menghamburkan waktu dan uang, kemungkinan besar dia akan merasakan pahitnya disaat tua.


Masa tua, adalah masa tambahan dari sang Maha Pencipta. Injury time yang penuh hikmah bagi manusia. Terlalu berharga untuk diabaikan pelajarannya.

#OneDayOnePost
#Tulisanke9

4 comments:

  1. Menjadi tua itu pasti. Namun jarang kita sadari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak wid...banyak yang gak sadar kalo sebenernya kita udah berjalan mnuju penuaan,...hehe

      Delete
  2. luar biasa tulisannya.

    di usia bukan diusia. di nyambungnya cuma sama kata kerja seperti disebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak febi koreksinya...iya mbak..saya perbaiki lagi...

      Delete