Monday, 19 September 2016

Inikah Balasan Yang Seharusnya?


Oleh: Rohmat Saputra
Ilustrasi


Sepulang dari acara disalah satu masjid Sawangan, Depok, saya mampir disebuah warung pinggir jalan. Tepatnya di Jalan Pekapuran. Nampak seorang nenek duduk di bangku kayu bersama seorang wanita didalam warung. Badan nenek itu kurus dan bergetar. Berpenampilan sedikit  lusuh. Hanya memakai sandal jepit, itupun agak kekecilan dan sudah tipis.

Samar-samar terdengar suara dari mulut nenek tersebut. Awalnya saya kira hanya gumaman saja. Namun saya dengar lagi ternyata dia menangis. Sekilas memang tidak tampak kalau dia menangis. Sebab mukanya yang telah berkeriput, sehingga tidak terlihat kalau sedang dirundung kesedihan. Begitu juga tidak ada air mata yang tertetes. Hanya sesunggukan berkali-kali.



 Saat itu hujan rintik. Saya lebih mendekat masuk pada warung, agar terhindar dari rintikan hujan. Sang nenek itu masih saja mengeluarkan suara sedihnya. Saya masih bertanya-tanya, ada apa dengan wanita tua yang ada dibelakang saya ini?

 “Itu ada angkot, suruh berhenti!”, seru pemilik warung yang sedang melayani pesanan saya.
Tapi karena angkot itu terlalu cepat, dan panggilan dari wanita yang ada disamping nenek terlambat, maka angkot itu nyelonong saja saat dipanggil.

Tak lama kemudian ada angkot lagi yang lewat. Segera wanita yang menuntun nenek tadi memhentikan angkot tersebut. Lantas dia langsung dinaikkan ke angkot.
Saya kira wanita yang menuntunnya adalah keluarga atau saudaranya. Ternyata tidak. Ia istri dari pemilik warung yang saya datangi. Dia membantu dan menuntunnya. Kemudian memberi uang kegenggaman nenek itu.

“Ceritanya kata nenek itu mau minta uang ke anaknya. Terus waktu sampe rumah anaknya, eh malah diusir”, kata pemilik warung sambil membungkus pesanan saya. Tanpa saya tanya, pemilik warung seolah tahu kalau saya penasaran atas apa yang terjadi pada nenek tadi.
“Ya Allah, Kok bisa pak?” tanya saya prihatin.
“Mungkin namanya seorang ibu, apalagi kalo gak ada uang dan gak punya siapa-siapa, ya minta siapa lagi kalau gak keanaknya”, kata pemilik warung sambil menghela nafas.

 “Itu jauh lo mas rumahnya. Tadi katanya jalan kaki dari Beji sampe Cimanggis ,” Tambahnya. 
Ya, yang saya tahu daerah Beji cukup jauh. Dari tempat saya singgah diwarung itu sampai daerah Beji kalau pakai motor hampir satu jam. Apalagi dengan berjalan kaki. Hanya seorang nenek tua lagi. 
Ya Allah. Kemana semua anaknya? Apa tidak ada yang mau mengurusnya. Jauh-jauh dari tempat tinggalnya untuk meminta uang, sampai dirumah anaknya malah diusir.

 Entah hati nurani anaknya sudah hilang atau lenyap? Begitu teganya berani menelantarkan seorang wanita yang dulunya telah mengandung, melahirkan dan mendidiknya hingga dewasa. Tapi justru balasannya seperti itu. Air susu dibalas dengan air tuba. Apa ingatan saat dulu telah lumpuh dengan keadaan mapannya? ataukah berlagak lupa kalau itu bukan ibunya?

 Siapapun dan apapun jabatan seorang anak, tidak layak mendurhakai, bahkan menelantarkan ibunya. Setinggi apapun seorang anak dengan hasil kerja kerasnya, tetap dia tidak ada apa-apa tanpa perjuangan kedua orang tuanya dulu. Kalau memang sang anak tidak memiliki sepeserpun uang untuk diberikan, setidaknya jangan memperlakukan ibunya dengan cara yang buruk.

 Sejelek-jeleknya penampilan orang tua didepan anaknya, tidak akan merubah status menjadi orang lain, apalagi orang asing yang dengan seenaknya diusir. Padahal dalam Islam, kedudukan amalan berbakti kepada orang tua begitu tinggi, Bahkan disandingkan dengan amalan besar lainnya. Rosulullah bersabda, 

 Disebutkan dalam shahîhaian dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd, ia berkata:

 سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

 “Aku bertanya kepada Nabi; “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,”Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berjihad di jalan Allah.” 

 Begitu juga walaupun orang tua memerintahkan kepada anaknya untuk berbuat buruk, maka perintah untuk berlemah lembut kapada mereka tetap berlaku. Karena orang tuanya menyuruh bermaksiat, tidak lantas diperbolehkan seorang anak memperlakukannya dengan buruk dan keras. Islam tidak mengajarkan hal tersebut.

 Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh salah seorang sahabat Nabi. Yaitu Saad bin Abi Waqqosh. Dia sangat berbakti kepada ibunya walaupun ibunya kafir. Ketika ibunya tahu kalau anaknya mengikuti ajaran Muhammad, Ia disuruh kembali pada ajaran nenek moyang. Maka Sahabat Nabi ini menolak. Atas penolakan dari anaknya itu, sang ibu berniat tidak akan makan sampai mati.

 Namun Saad berkata kepada Ibunya, “Wahai ibu, walaupun ibu memiliki banyak nyawa, dan keluar satu persatu, aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku ini”.Melihat keteguhan anaknya itu, luluhlah hati ibunya. Ia tidak lagi mogok makan.

 Sungguh begitu besar balasan bagi pelaku amalan ini. Dan juga sebaliknya. Akan ada ancaman besar bagi orang-orang yang telah menyia-nyiakan orang tuanya ketika didunia. Membiarkan orang tua kelaparan dan hidup dalam kesempitan, sedangkan anaknya hidup bahagia bersama keluarganya sendiri.

 Balasan yang disegerakan dibumi akan selalu mengintai pelakunya. Dan tentunya balasan yang keras lagi menghinakan  diakherat akan disiapkan. Mungkin bisa jadi balasan setimpal yang dirasakan didunia adalah memiliki anak yang durhaka sebagaimana dia mendurhakai orang tuanya dulu tatkala masih ada. 

 Sebelum itu terjadi, mumpung orang tua kita masih ada disisi kita, sudah selayaknya dan menjadi kewajiban seorang anak untuk terus merawat dan menjaganya, serta memberlakukan dengan baik hingga akhir hayatnya.

 Cimanggis, 3 September 2016

Wallahu a’lam bisyowab

No comments:

Post a Comment