Wednesday, 13 April 2016

Amal Shalih Yang Terancam



Oleh: Rohmat Saputra

Lihat di majalah Islam Arrisalah edisi 178 Rubrik MAKALAH

Tak diragukan lagi bahwa hasil dari amal kebaikan yang ternaungi iman adalah pahala. Besar kecil balasan sesuai dengan amal shalih yang dilakukan seorang hamba.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. Al Zalzalah: 7).

 Namun ada kalanya seseorang meningkatkan kewaspadaan atas kebaikan yang dilakukan. Karena tidak setiap amal shalih melahirkan pahala dan ridho Allah. Itulah kenapa pentingnya pondasi awal atau landasan dasar perbuatan, yaitu niat yang lurus.

Tentu sebagian besar dari kita mengetahui sebuah hadist yang mengabarkan nasib 3 golongan manusia dengan membawa amalan besarnya. Dermawan, pembaca Al-Qur’an dan orang yang berperang dijalan Allah. Dalam kaca mata Islam, semua amalan itu melahirkan pahala yang besar dan mulia. Lalu kenapa Allah justru menghinakan dan mencampakkan kedalam neraka kepada 3 pelaku amalan tersebut? Penyebabnya hanya pada niat. Default system dalam amal yang tak boleh dilupakan oleh setiap muslim.

“Kebaikan” Yang Digoda Syaitan
Godaan syetan terhadap manusia bukan hanya terus-terusan pada keburukan. Tapi menjadikan kebaikan yang mampu menggelincirkan pelakunya. Dan itu telah masuk daftar list godaan iblis kepada bani adam. Sebagaimana petikan ayat 17 dalam surat Al-A’raf menyebutkan “...Syetan akan menggoda dari arah kanannya...”, maksudnya menggoda manusia dari kebaikan. Demikian apa yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas. Syetan bukan saja menjauhi kebaikan dari bani adam. Tapi juga mengaburkan pandangan bani adam melihat kebaikan. Dari situ timbullah pandangan bahwa mereka orang paling benar. Atau minimal melahirkan rasa ta’ajub pada diri sendiri. Syetan mengaburkan perkara kebaikan dan membuat mabuk pelaku amal shalih terhadap pujian manusia kepadanya.

Jadi jangan lantas beranggapan jika melakukan ibadah pasti selalu mengarah ke syurga. Namun seorang muslim harus sadar bahwa yang membuat manusia itu masuk ke syurga Allah bukan hanya karena amalan. Tapi yang menjadi dominan dan terpenting adalah karena Rahmat Allah.

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ


Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah 
karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)

Lantas, jika seseorang yang beramal ibadah saja sudah besar kepala/ujub dan menganggap manusia yang tidak beramal diremehkan, apakah pantas ia mendapatkan rahmat-Nya?

Alangkah baiknya jika kaum muslimin memiliki sifat rendah hati. Jika dia melakukan shalat malam, ia memandang orang yang tidak shalat malam masih lebih baik dari pada dirinya. Jika dia membaca Al-Qur’an, ia memandang orang yang tidak membaca Al-Qur’an masih lebih baik dari pada dirinya. Jika ia berinfaq, ia memandang orang yang tidak/belum berinfaq masih lebih baik dari pada dirinya. Inilah yang disebut oleh para ulama adalah tingkatan tertinggi dari sifat zuhud. Tidak menjadikan hati mereka tinggi dengan amal kebaikan. Tetapi justru membuat mereka semakin tunduk dan rendah hati. Ini lebih menyelamatkan mereka dari virus yang mengarahkan pada niat selain Allah dan munculnya bibit-bibit takabur.

 Para Salaf Menjaga Amal Shaleh
Mari kita tengok beberapa ungkapan para salaf yang tercermin dalam menjaga hati. Apa yang mereka lakukan agar amalan ibadah tidak melahirkan ujub dan penyakit hati lainnya. Mereka sangat khawatir jika amalan yang telah diperbuat akan ditolak oleh Allah Ta’ala.

Umar bin Khattab berkata: “Jika semua penduduk bumi masuk syurga, dan hanya ada satu orang yang akan masuk neraka, aku takutkan jika satu orang itu adalah aku”.

Padahal apa yang kurang dari Umar bin Khattab atas kontribusinya terhadap Islam? Walaupun Umar sempat termasuk orang yang sangat membenci Islam, tapi setelah keislamanannya, sangat dirasa kebaikan dan kedamaiannya oleh orang yang ada disekitarnya. Apalagi tatkala kekuasaan Islam berada ditongkat kepemimpinannya. Kedamaian dan ketentramannya dirasakan sekali bagi rakyat yang dipimpinnya. Namun dari semua itu tidak membuatnya besar kepala.

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Dinar rahimahullah berdiri di tengah malam sambil memegang jenggotnya, seraya berkata : ”Ya Ilaahi, engkau telah mengetahui siapa saja (di antara hambamu) yang masuk surga dan siapa saja yang jadi penghuni neraka, lalu kemanakah tempat kembaliku (apakah surga yang ku tuju ataukah neraka yang menantiku). Beliau selalu mengucapkannya sampai datang waktu Subuh (fajar).” (Khusnul Khotimah wa Suu’uhaa, hal. 4).


Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”
Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”


Sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Dari ungkapan-ungkapan para salaf diatas, maka sungguh benar apa yang dikatakan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah: “Orang mukmin jika ilmunya bertambah, maka bertambah pula ketawadhuannya. Jika bertambah amalannya, bertambah pula kehatian-hatiannya. Jika bertambah umurnya, bertambah pula ketidak rakusannya kepada dunia. Jika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya”.

Muhasabah Amal
Memang tidak mudah menjaga hati setelah beramal shalih agar terhindar dari godaan syetan, khususnya penyakit ta’ajub terhadap amalan sendiri. Dari sini perlu adanya muhasabah amal. Sebagaimana Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah memberi tips jitu untuk instropeksi amal harian. Yaitu instropeksi Sebelum dan setelah beramal.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Muhasabah (introspeksi) pada jiwa ada dua macam: sebelum beramal dan setelah beramal. Muhasabah sebelum beramal adalah hendaknya seseorang menahan diri dari keinginan dan tekadnya untuk beramal, tidak terburu-buru berbuat hingga jelas baginya bahwa jika ia mengamalkannya akan lebih baik daripada meninggalkannya. (Ighatsatul Lahafan, al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah, hlm. 90)

Lebih jauh lagi Ibnu Qudamah berkata, “Seyogyanya bagi seorang Muslim itu menyisihkan waktunya pada pagi hari dan sore hari untuk muhasabah diri. Dan ia menghitungnya sebagaimana para pedagang dengan rekan-rekannya menghitung keuntungan dan kerugian transaksi mereka setiap akhir penjualan.”
Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang hamba yang berhenti (untuk muhasabah) saat bertekad (untuk berbuat sesuatu). Jika (amalnya) karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia terus melaksanakannya dan jika karena selain-Nya ia mengurungkannya.”


 Semoga berlapis-lapis amal kebaikan yang akan dan yang telah kita lakukan, tidak akan menjadi ancaman bagi kita jika setiap harinya selalu dihiasi muhasabah diri. Memang tak ada jaminan amal kebaikan kita akan diterima oleh Allah ta’ala. Tapi setidaknya hal itu bisa memangkas bibit-bibit penyakit hati yang bisa muncul kapan saja.

Kita berharap, semoga Allah menerima semua amal kebaikan yang telah kita perbuat, dan menjauhi kita dari penyakit hati yang mampu menggelincirkan kita dari kebaikan.

Wallahu a’lam bisyowab.

Telah Dimuat Di islampos.com dengan banyak perubahan

No comments:

Post a Comment