Saturday, 20 February 2016

PENYAKIT ITU MEMBAWAMU PERGI


Siapa sangka jika kematian datang dengan tiba-tiba. Siapa sangka kematian datang dengan segera. Manusia takkan mengetahui kapan  dan dimana akan mati. Segala hal yang terjadi walaupun terlihat sepele, bisa berpotensi menjadi sebab seseorang digiring kepintu kematian. Hanya saja Allahlah yang telah mentaqdirkan itu semua. Manusia hanya berusaha untuk mati dalam keadaan yang menurutnya baik.

Kisah ini bermula ketika aku hampir dipenghujung dunia perkuliahan. Tepatnya di sekolah tinggi ilmu dakwah jurusan komunikasi Islam yang berdominisili di Bekasi.

Merasakan dibangku kuliah adalah hal yang tidak terlupakan. Bercanda dengan teman sekelas, saling berdialog, tinggal satu satu atap bersama-sama, dan bepergian bersama-sama. Itulah yang kurasakan tahun lalu. Dan diantara kita tak ada yang tahu kalau Allah akan memanggil salah satu diantara teman sekelas untuk pergi menemui-Nya.

Aku menyebutnya Muhammad dalam kisah ini untuk menjaga kebaikan keluarganya. Ia termasuk teman yang cerdas ketika berdialog. Terlihat dari cara bicara, menandakan luasnya wawasan yang ia miliki. Sifat yang terbuka kepada teman sekelasnya, membuat ia disenangi banyak teman seasrama dan dikenal hampir sekampus, baik para dosen maupun mahasiswa.

Memang ketika diasrama dulu aku tidak begitu dekat dengannya. Tetapi setelah diluar asrama karena tinggal satu tempat dan sering berinteraksi, kami menjadi akrab. Waktu itu  melihat belum rampung skripsi, memutuskan untuk tinggal disuatu yayasan sambil seminggu dua kali kekampus untuk menyelesaikan tugas akhir  S1. Sebab dari pihak kampus sudah tidak mengasramakan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.

Sebenarnya aku ajak dia keyayasan yang masih didaerah Bekasi tersebut untuk tinggal bersama dengan dua teman lainnya yang juga dulu satu semester. Hampir satu bulan diyayasan itu, dia baru datang untuk tinggal bersama.

Pernah setelah mendapat infaq bulanan dari yayasan tersebut, kebetulan waktu itu ada acara pameran senjata  ditaman monas. Kami berdua pergi kesana untuk melihat pameran senjata. Dari senjata terkecil hingga terbesar, dipamerkan kepada para pengunjung. Kami tak lupa mengabadikan momen penting tersebut melalui kamera HPnya. Kami habiskan waktu setengah hari untuk melihat semua senjata yang sudah dipamerkan oleh para tentara. Mereka terlihat senang ketika kami mengunjungi stand-stand mereka.

Sekitar dua minggu setelah kunjungan dipameran tersebut, dia mulai merasakan sakit. Berawal dari sakit perut yang dialaminya. Ia terbaring lemas diatas kasur sambil memegang perut. Kita yang melihatnya merasa kasihan dengannya. Sudah hampir dua hari ia merasakan sakit tersebut. Sakit perutnya hilang, muncullah sakit demam. Salah satu teman menyarankan dibawa kerumah sakit untuk diperiksa. Tak terlihat ada gejala penyakit yang berbahaya pada tubuhnya.

Lingkungan yang ribut dan gaduh disekitar kamar yang menempel dengan masjid yayasan itu, dia memutuskan untuk tinggal dikampus lantai 4 bersama beberapa teman yang masih dalam penyelesaian skripsi. Disana ia dirawat oleh teman-teman. Sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Obat-obat herbal rutin ia konsumsi, berharap dengan wasilah itu Allah menyembuhkannya. Sudah sekitar satu bulan lamanya, penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Ia kemudian berinisiatif pulang kampung ke Demak. Setelah berapa minggu, salah satu teman  menelpon untuk mengetahui kondisinya saat ini. Ia mengabari bahwa dirinya sudah sedikit agak baikan. Kita yang  berada dibekasi senang terdengar kabar dengan kondisinya yang agak lebih baik.

Dua minggu kemudian setelah kepulangannya ke Demak, terdengar kabar bahwa ia sekarang sudah berada di RSUD Demak. Semua teman yang dibekasi kaget mendapatkan info seperti itu. Informasi dari salah satu teman tersebut betul adanya. Karena teman itu sendiri yang menelpon kesana. Waktu itu Muhammad sendiri yang mengangkat telpon dan mengabari langsung atas kondisinya yang sudah berada di RSUD.

Aku tak menyangka penyakit yang dideritanya semakin parah, sehingga harus dibawa dan dirawat dirumah sakit. Ia mengirimi sms kepadaku ketika di rawat di RSUD, dengan isi smsnya ia meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan selama ini. Sms itu ternyata dikirim kesemua teman satu semester. Teman-teman merasa heran dan kaget. Ada apa dan kenapa tiba-tiba meminta maaf. Ada apa dibalik sms tersebut? Bukankah ini bertanda....?

Entahlah…kematian ada ditaqdir-Nya. Kita hanya berusaha dan berdo’a agar mati dalam keadaan baik.
Dua kali ia mengirim sms permintaan maaf kepadaku. Dengan hati lapang aku maafkan segala kesalahannya dan semoga disembuhkan penyakit yang dideritanya saat itu.

Salah satu teman dari bekasi mencoba untuk menelpon kabar kondisinya yang hampir satu bulan tidak ada kabar. Tetapi yang mengangkat telpon adalah ibunya. Dengan nada sedih, ibunya yang saat itu berada disisinya, mengabarkan bahwa anaknya dalam kondisi yang sangat memprihantinkan. Ia mengidap penyakit hepatitis. Astagfirullah hal adzhim….ya Allah sembuhkan teman kami dan berikan kemudahan dalam urusannya…

 Sebagaimana dari ilmu kedokteran, Hepapatitis yang sudah masuk taraf akut lebih berbahaya dari pada HIV, dan secara penularan adalah 1000 kali lipat lebih cepat dari aids.[1]

 Kabar dari keluarganya bahwa Muhammad saat itu hanya terkulai lemas di atas kasur saja. Bahkan dia setengah sadar, tak tahu jika ada keluarga yang menunggunya dan teman-teman yang menjenguknya.

Teman-teman yang telah merampungkan skripsinya  sudah ada yang kembali kerumah masing-masing. Salah satu teman yang telah selesai saat itu sudah berada di Solo, mengetahui kabar terbaru atas kondisi Muhammad, ia langsung menjenguknya. Hanya butuh waktu beberapa jam dari Solo ke Demak. Alangkah kagetnya ketika sampai disana melihat kondisinya saat itu. Air mata menetes karena begitu mirisnya keadaan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tubuh sehat yang dulu ia miliki, kini termakan oleh penyakit mematikan.

Agar teman-teman yang berada di Bekasi, Solo dan sekitarnya mengetahui kondisi Muhammad saat itu, teman dari solo ini mengupload foto atas kondisi Muhammad dijejaring sosial. Awalnya aku tak sadar kalau itu dia. Tetapi setelah membaca penjelasan diatas foto tersebut, baru tahu bahwa itu adalah Muhammad yang beberapa bulan yang lalu masih ada ditengah teman-temannnya di Bekasi…

Pangling dengan tubuh yang setahuku masih memiliki tubuh yang sama seperti dulu. Namun sekarang ia sudah berbeda. Karena penyakit yang dideritanya bukan sembarang penyakit. Melalui perantara penyakit itu sudah banyak orang Indonesia yang terenggut jiwanya.

Satu bulan kemudin setelah keberadaannya di rumah sakit Demak…

Dijejaring sosial,  salah satu teman Muhammad yang berdomisili di Jogja, mengupload 3 foto mengenai gambaran kesehatan terbarunya. Alangkah kagetnya melihat foto tersebut. kurus kerontang, hanya tulang berbungkus kulit. Perut yang sudah membuncit dan wajah yang susah dikenal akibat dari penyakit itu yang sudah semakin parah.

 Kemudian, setelah dirawat di RSUD Demak tidak membuahkan hasil, akhirnya ia dirawat dirumah sakit Solo. Aliran bantuan berdatangan untuk meringankan biaya pengobatan. Baik dari personal maupun lembaga. Ada yang langsung menjenguk kesana, dan ada yang hanya menitipkan kepada para penjenguk.

Setelah hampir sekitar 20 hari di rumah sakit Solo, ternyata dari pihak dokter sudah tak bisa menangani penyakitnya. Mereka telah lepas tangan karena penyakit itu tak mampu untuk ditangani para dokter. Hanya sebuah keajaibanlah yang mungkin bisa menolongnya.

Kemudian dari pihak rumah sakit meyerahkan urusan setelahnya kepada keluarga Muhammad. Jika ingin dibawa pulang silahkan, dan jika tetap masih dirumah sakit juga silahkan. Melihat tidak ada usaha lagi dari rumah sakit, keluarganya memutuskan untuk dirawat dirumah saja. Akhirnya tubuh yang hanya berbungkus kulit itu dibawa pulang dengan mobil menuju Demak.

Qodarullah, Allahlah yang menentukan ajal setiap hambanya. Dan tak ada satupun manusia yang tahu kapan seseorang mati.  Ditengah perjalanan Solo-Demak, dia telah dipanggil oleh Allah. Ia telah diisirahatkan dari penatnya dunia. Dihilangkan rasa sakit yang dideritanya.  Ia tutup umur walaupun ia masih relatif muda dan belum melengkapi setengah agama. Penyakit yang membawanya pergi semoga menjadi penebus dosa-dosa semasa hidupnya.

Semoga amal kebaikan selama hidupnya diterima disisi Allah Ta’ala. Amin…

Rohmat Saputra, Depok




[1] http://rskariadi.co.id/article/view/hepatitis-b-lebih-berbahaya-dari-hiv.html

2 comments:

  1. Ya Allah ternyata hepatitis lebih bahaya dari HIV. Nularnya cepat ya mas. Di kosku sudah ada yg terkena T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak...hepatitis A pnya tmn saya udah parah....pastiny mmng udah taqdir dia.

      Delete