Thursday, 21 January 2016

Perjuangan mencapai S1

    Wisuda bagiku bukan akhir segalanya. Namun ia adalah awal bagaimana aku harus mempraktekkan semua teori yang telah aku dapatkan selama kuliah. Memang hampir mayoritas para mahasiswa yang tinggal melangkah ke gerbang wisuda, serasa atmosfir bahagia telah menguasai. Bunga-bunga senang sebelum hari H telah bermekaran. Tak ketinggalan pula timeline-timeline jejaring sosial dipenuhi status sebagai bentuk ungkapan rasa yang tergerak dari hati yang penuh air bahagia.

         Tapi, jika mundur kebelakang untuk melihat pahit getirnya mencapai gelar yang sebentar lagi tersemat S1, pasti itu menjadi alasan kenapa hal ini patut dibanggakan. Tentu setiap mantan mahasiswa yang telah sukses mengejarnya, memiliki warna-warni ujian dalam memperjuangkannya. Dan itu tidak akan bisa dilewati kecuali oleh orang yang memang sadar, bahwa jalan mengejar S1 bukan jalan untuk orang yang berleha-leha. Dari mahasiswa yang mengorbankan banyak waktu demi menjadi orang kutu buku. dan mengorbankan pula waktu bermain bersama teman-teman demi mengejar para pembimbing.

         Kampusku terletak di Bekasi Timur. Jurusan saat itu yang aku ambil adalah komunikasi Islam. Akupun tidak mengira bisa kuliah disana, apalagi dengan bebas biaya, alias beasiswa. Tak terpikirkan jika nanti akan mampu menyelesaikan tugas akhir. Hanya berfikir bagaimana aku bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di kampus hingga selesai, itu saja. Menurutku kampus ini berbeda dari yang lain. Sebab ia menyediakan asrama yang jaraknya tak jauh dari kampus berada. Begitu juga dengan kesehariannya. Semua sudah diatur oleh bagian kemahasiswaan. Jika ada kelakuan mahasiswa yang negatif, bisa mempengaruhi nilai nanti di kampus. Inilah yang menjadi pertimbanganku untuk tidak gegabah dalam bergaul bersama teman-teman se asrama.

        Pada semester 7 mulai berjalan dan siap menyongsong melengkapi syarat-syarat wisuda, dari sinilah mulai tampak gelombang pahit didunia kuliah. Sebab setiap seminggu sekali aku harus mengambil mata kuliah di Jakarta Pusat. Tepatnya satu gedung dengan Dewan dakwah Jakarta. Ada 4 mata kuliah yang harus aku ambil disana. Diantaranya tentang Perfilman dan Media cetak. Setiap hari kamis jam 8 pagi aku harus sudah sampai dikampus Jakarta. Demi mencapat waktu itu, aku harus berangkat dari Bekasi setelah shubuh. Karena jika jam 6 atau jam 7 pagi baru berangkat, pasti akan berhadapan dengan macetnya jakarta dan bisa ditebak akan terlambat datangnya kekampus.
Pada malam hari sebelum berangkat, aku harus memasak nasi untuk bekal makan besok. Yaitu untuk makan pagi dan siang.  Adapun lauk dan sayur aku membelinya di warung sayur ala kadarnya. Jaraknya tak jauh dari kampusku. Uangku saat itu harus benar-benar dihemat. Mengingat orang tua telah lepas membiayaiku selama kuliah hingga selesai.

           Belum lagi menghadapi puncak macet disore hari dan saling menghimpit dengan penumpang yang lain didalam bis ketika pulang kuliah. Sepertinya saat itu makin lama menjadi sepotong kehidupanku dalam dunia mahasiswa. Namun aku patut bersyukur. Karena itu terjadi hanya seminggu sekali saja. aku membayangkan orang yang setiap hari melalui itu. Dengan terpaksa mau tidak mau mereka harus melaluinya.
Pembimbing judul telah dibagikan. Aku mulai mencari 3 buah judul skripsi sekaligus. Kenapa kok banyak sekali judulnya? Kan skripsi cuma satu? Sengaja aku mencari tiga, karena itu masukan dari pembimbing. Dan dua judul yang lain sebagai cadangan jika judul sebelumnya ditolak sama pembimbing. Aku harus rajin masuk keperpustakaan untuk melihat contoh-contoh skripsi kakak kelas sebelumnya.

           Namun aku serasa mimpi, apa benar saat itu sedang tahap awal menyusun skripsi. Kadang aku merasa ragu dalam hati, apa bisa aku menyelesaikan semua ini sampai tuntas?. Sebab setelah melihat skripsi kakak kelas yang ada diperpustakaan, dalam penyusunannya bagus-bagus dan begitu ilmiah dalam menyajikan penelitiannya. Ini menjadi tantangan berat bagiku untuk melawan semua keraguan yang tiba-tiba muncul. Dua minggu kemudian aku telah menemukan 3 judul skripsi yang menurutku cocok untuk aku teliti. Penelitianku mengenai salah satu Tokoh Islam klasik dan mendalami segala kehidupannya untuk di ambil kesimpulan bagaimana cara dia menyampaikan Islam.
Ini termasuk judul terakhir yang aku sodorkan kepada pembimbing proposal skripsi. Dua judul lainnya ditolak mentah-mentah. Ya, masukan dari pembimbing sendiri benar-benar ampuh. Untung saja aku menggunakannya. Proposal skirpsi mulai aku susun. Sedikit banyak sudah aku pahami bagaimana cara menyusunnya. Mungkin ini berbeda dengan kampus yang lain. Tapi bisa saja ada kebijakan yang sama dengan kampus lainnya. Proposal skripsi idealnya 10 hingga 11 halaman. Dua halaman pertama menyajikan garis besar teori. 4 halaman setelahnya garis besar kehidupan tokoh yang akan diteliti. Dan 5 halaman setelahnya menyambungkan antara teori, tokoh yang akan diteliti, dan kemudian kesimpulannya secara garis besar.

          Kumantapkan dan kuyakinkan diri untuk maju di sidang Proposal. Dari teman sekelas, inilah ujian sidang proposal pertama kali. Jadi aku termasuk salah satu dari 4 orang yang maju saat itu. bisa dibilang akan menjadi pengalaman yang aku bagikan keteman sekelasku  nantinya bagi yang belum maju.
Sidang proposal skripsi di adakan dikelas kami. Telah duduk 3 penguji yang siap meng obrak-abrik proposalku yang aku buat selama dua minggu. Dua temanku yang telah mendahului telah dibantai tanpa ampun. Dari judul yang masih belum meyakinkan penguji, sampai teori yang dianggap masih kurang referensinya.

            Tak lama giliranku maju untuk siap dibantai. Semua doa meminta kemudahan benar-benar aku lafadzkan, berharap diberi kemudahan dan kelancaran hingga ujian selesai. Setelah diberi waktu untuk dimulai presentasinya, aku menyampaikan tentang proposal ku hingga tuntas. Inti dari ujian proposal skripsi adalah kenapa aku harus memilih judul itu, dan berikan alasan kuat agar para 3 penguji itu yakin denganku atas judul yang aku pilih untuk dijadikan bahan penelitian.

        Setelah selesai semua, barulah ketua sidang proposal skripsi memberi koreksi sekaligus apresiasi kepada kami berempat. Siang itu mungkin menjadi keberuntunganku. Aku diberi apresiasi dalam penyusunan proposal skripsi oleh ketua sidang siang itu. Bahkan dia menyampaikan, susunan proposalku harus menjadi contoh untuk teman yang lain, agar membuat susunan proposal yang bagus dan rapih kedepannya seperti punyaku. Duh. Aku tidak mengira mendapat apresiasi sebegitu besarnya. Tapi aku tidak gelap pujian. Ini bahkan menjadi pelecut semangatku melanjutkan tahap selanjutnya. Perjalanan memenuhi syarat wisuda baru selesai ditangga awal. Bahkan baru mau melangkah ke tangga berikutnya.

        Selesainya sidang proposal skripsi, menandakan gantinya pembimbing skripsi yang baru. Aku terpilih mendapatkan pembimbing bukan sekedar dosen. Tapi dia juga rektor kampusku.  Aku sudah membayangkan bakal akan jarang sekali bertemu pembimbing ini. Karena melihat dari kesibukannya yang banyak memenuhi kegiatan hariannya.

Pertama kali yang aku harus lakukan adalah bertemu dengannya dan meminta kebijakannya kapan bisa bertemu ditengah kesibukan. Ditambah lagi ia umurnya sudah sedikit tua. Dan nampak sering sakit. Sebelum menyusun skripsi lebih jauh, dan ini mungkin menjadi bekal para S1 nantinya, yaitu mengumpukan banyak-banyak referensi tentang judul yang akan diteliti. Penelitianku tentang salah satu tokoh Islam. Maka aku kumpulkan semua buku biografi mengenai tokoh itu. Kalau ilmu teorinya, bisa melihat-lihat dulu contoh skripsi kakak kelas, buku apa saja yang menjadi referensi utamanya.

               Bila telah selesai mengumpulkan, barulah menyusun daftar isi. Apa saja yang akan dibahas dalam penelitian tersebut. Aku diskusi oleh pembimbingku mengenai daftar isi yang telah kubuat. Jadi pembimbing bisa mengarahkan mana saja yang pantas dibahas dan mana yang tidak perlu diteliti.
          Namun, inilah yang menjadi ujianku tersendiri menghadapi pembimbing. Pembimbing bukannya mengarahkan, tetapi justru menguji keyakinanku, apakah yang kubuat dalam daftar isi ini layak untuk dibahas atau tidak. Dari situ aku harus benar-benar matang sebelum berhadapan dengannya. Ini sangat berbeda dengan pembimbing yang lain. Saat teman-teman yang lain dalam penyusunannya salah, disana akan diperbaiki oleh pembimbing dan diberi masukan-masukan bagaimana baiknya. Tapi tidak untuk pembimbingku. Serasa ragu dalam meyusun skripsi, akhirnya gagal melanjutkan dalam menyusun dan harus mengulang lagi hingga yakin 100% dengan yang kususun.
          Jika pembimbing yang lain hanya minta satu print out saja untuk bahan koreksi, tapi pembimbingku minta dua print out. Jadi saat pengoreksian pembimbing membawa satu, aku membawa satu juga. Aku disuruh membaca dari kata-perkata, kalimat-perkalimat, paragraf perparagraf dan halaman-perhalaman. Jika ada yang salah dari satu kata, akan dikoreksi dan dinilai kurang teliti. Jika ada paragraf yang susah dipahami, maka harus dijelaskan bagaimana memperbaikinya. Penguji satu ini memang menguji kesabaran aku.
 Suatu kali pembimbing pernah bilang, “Sengaja saya bimbing skripsi kamu seperti ini, biar nanti saat ujian skripsi tidak begitu berat. Kamu bener-bener saya yakinkan atas penelitianmu ini. Jadinya skripsimu nanti agar bukan sekedar penelitian biasa. Saya harapkan menjadi penelitian yang bisa menjadi karya ilmiah yang berguna untuk bangsa dan agama.”

              Pernah oleh pembimbing skripsi disuruh mencari skripsi yang penelitiannya hampir sama dengan apa yang sedang aku teliti. Nantinya agar bisa menjadi pertimbangan dan bisa lebih baik lagi dalam penyusunannya. Dan hal yang terpenting agar tidak dianggap plagiat. Akhirnya aku dan teman satu pembimbing keperpustakaan UIN Syarif Hidayatullah demi mencari skripsi yang penelitiannya hampir sama denganku. Perjalanan menempuhnya lumayan jauh dari Bekasi Timur.  Namun tetap kami tempuh demi mendapatkan penelitian itu. Sayang sekali. Aku harus kembali dengan tangan kosong. Karena yang kucari tidak kutemukan. Belum sampai disitu. Kami menghadapi cuaca yang tidak kami kira saat pulang. Yaitu hujan deras. Ditambah lagi ban motor bocor. Dalam keadaan hujan kami mencari tambal ban hingga berjalan ratusan meter.

              Dalam penyusunan skripsiku ini sedikit banyak menguras uang sebelum benar-benar jadi. Sebab setiap konsultasi pada pembimbing harus perbab. Dan pengajuannya dalam bentuk asli dan foto copy. Jika salah di rubah lagi, kemudian di print out dan difoto copy lagi seperti awal. Pernah hingga 5 kali aku print out karena ada beberapa kata yang salah. Suatu kali pembimbing pernah mengingatkan, “Dalam masalah tulisan, jangan dianggap remeh. Pernah hanya karena beberapa kata yang salah tulis saat salah satu mahasiswa ujian skripsi, maka ujiannya dinyatakan tidak lulus”.
Ini juga untuk masukan bagi para calon S1. Hal yang tampak sepele dalam penyusunan kata-kata pada skripsi, jangan terus kemudian disepelekan. Justru jika disepelekan bisa jadi mempengaruhi hasil ujian skripsimu nanti, yang berimbas pada terganggunya wisuda.

             Selain menghadapi pembimbing skripsi, aku dihadapkan dengan musuh dalam diri. Ini menjadi pengalaman yang lain. Sempat aku vakum 3 bulan. Tidak mengerjakan apa-apa. Bahkan melihat susunan skripsi saja sudah pusing. Sampai-sampai tidak yakin ikut wisuda tahun ini karena susahnya menyusun skripsi. Tapi teman-teman yang lain terus memotivasiku untuk terus maju. Bahkan sudah ada beberapa teman yang rampung menyusun skripsi. Aku mulai bangun lagi dari keterpurukan. Menyusun skripsi kembali yang dahulunya sempat terhenti. Aku paksakan dan membuat target didinding bahwa bulan besok harus rampung. Semua kesukaanku yang membuat terlena harus aku singkirkan terlebih dahulu.

               Benar-benar harus memiliki skala prioritas yang jelas. Inilah yang selayaknya ada dalam diri mahasiswa jika ingin cepat selesai skripsinya. Bila ingin bagus dalam menyusunnya, tips ampuhnya adalah selalu terus menggali penelitiannya secara mendalam dan tidak boleh meninggalkan menu wajib. Yaitu banyak konsultasi kepada pembimbing dan para dosen lainnya yang memiliki kapabilitas ilmu yang mendukung penelitianmu.

            Pernah aku dengan pembimbing menyelesaikan bab 3 sampai bab 5. Dimulai dari jam 8 malam hingga jam 12 malam. Aku lawan kantuk yang hampir menguasai, demi skripsi yang harus terselesaikan. Memang rasa bosan ditengah pengoreksian muncul. Tapi aku hilangkan dengan tekad kuat bahwa bulan itu skripsi wajib kelar.

       Akhirnya bulan berikutnya aku telah selesai menyusun skripsi. Tinggal menunggu wisuda. Pengorbanan tidak ada yang sia-sia. Semua rasa pahit yang aku alami semenjak memulai masuk didunia skripsi, membuahkan rasa manis diakhirnya. Walaupun bukan akhir segalanya, tapi dari sinilah aku belajar menghargai waktu. Seberapapun waktu yang dikeluarkan untuk hal positif, semua itu tidak ada yang percuma. Sebab hasilnya cepat atau lambat akan aku rasakan.
Semoga kisah yang kusampaikan ini menjadi pelecut semangat bagi para calon S1 dimanapun berada.

Ahmad Hanif/RS
Depok, 21 Januari 2016




No comments:

Post a Comment