Friday, 6 November 2015

Keterbatasan Yang Berimbang


Bisa dilihat dimajalah Islam Ar-Risalah rubrik tajribah edisi 174


Waktu seolah berjalan begitu cepat. Dan kini saya harus kembali kejakarta, kembali kesibukan ibukota, dan siap melaporkan apa yang sudah saya dapat dari tugas setahun.

 Pada saat pertama kali akan berangkat, tak ada bayangan dikepala bagaimana keadaan di pulau nanti. Hanya sebatas dari mulut-kemulut akan cerita mengenai kondisi disana. Bahasa melayu, itulah bahasa sehari-hari masyarakat pulau. Jika alamnya adalah kelebihan, maka kekurangannya bagi saya adalah listrik dan air. Sebelum disana terbiasa dengan air bersih melimpah, dan listrik yang terus on tiap jam dan hari. Tetapi saat kaki ini memijakkan daratan yang hanya beberapa hektar saja, semenjak itu juga serasa ada nikmat yang telah dicabut.

Namun Alhamdulillah, didalam rumah yang aku tinggali bersama satu teman terdapat sumur yang airnya cukup untuk dipakai sehari. Awalnya ragu memakainya. Sebab airnya keruh dan payau. Tapi akhirnya terbiasa juga memakainya untuk keperluan sehari-hari.

Ketertarikanku akan keingintahuan pada cara para nelayan mencari ikan begitu besar. Tetapi itu hanya sebuah kegiatan lainnya disamping ada urusan yang lebih penting akan keberadaanku disana. Dari mencari ikan karang (mengarung), ngale (mancing sotong), manjong (cari ketam) hingga nyome (mencari cumi) pernah aku coba.  Sekedar ingin merasakan bagaimana menjadi bagian dari masyarakat yang mayoritas sebagai nelayan.

Kurang lebih 90 persen, masyarakat disana berprofesi sebagai nelayan. Dan 10 persen lainnya sebagai guru, pedagang dan pembuat boat/perahu. Jadi dari situ bisa kupetakan, bahwa mengajak para bapak untuk ikut dalam pengajian sedikit susah. Bukan karena keengganan mereka. Tapi karena waktu mereka banyak dihabiskan dilaut. Jika mereka ada dirumahpun tinggal tenaga-tenaga sisa saja.
Untuk mengenal baik dari adat istiadat disana, maka saya sering mengikuti dan menyaksikan adat dan budaya bagi masyarakat melayu. Itu menjadi sekaligus awal-awal adaptasi berada disana. Tanggapan masyarakat akan adanya tenaga pendidik bagi masyarakat memang tidak semua mendukung. Hanya ada beberapa mereka yang tak suka akan kedatangan kami disana.
Sebagaimana yang dikatakan BAZ Kepri, Bapak Mustamin, MA, ada sebab orang itu menjadi benci ketika kedatangan orang dari luar.
Pertama, ia merasa tersaingi dengan kedatangan Ustadz/atau pendidik, seolah simpatisan masyarakat menjadi terbagi atau berkurang karena kedatangan Ustadz itu.
Kedua, ia merasa bahwa lahan tempat mengajar mereka direbut oleh ustadz/pendidik, sehingga ia tak bisa lagi mengajar.
Ketiga, ia merasa direbut pemasukan tambahan gaji, atau berkurangnya pemasukan. Sebab ada Ustadz baru yang mengajarkan masyarakat pulau.

Dengan segala keterbatasanku, dakwah harus tetap berjalan. Dimulai dengan pengajian ibu-ibu. Kemudian mengajar anak-anak dimadrasah dibawah naungan yayasan di Pulau Terong. Pada awalnya yang datang pada pengajian disetiap sabtu sore itu hanya 6-7 jama'ah saja. Seiring berjalannya waktu  jama’ah mulai meningkat. Ibu-ibu sangat senang dengan kedatangan pengajar. Sebagai penanaman ilmu Islam yang nantinya dipraktekkan pada keseharian mereka, maka setiap acara itu dimulai justru mereka yang menunggu pengajar datang.

Salah seorang jama’ah ibu menuturkan, ia begitu senang dengan pengajian setiap minggu ini. Padahal dulunya saat muda ia termasuk orang yang suka foya-foya terhadap harta. Setelah ia bersuami, kehidupannya berubah dan bertaubat dari itu semua. Ia sangat senang jika pengajian itu membahas mengenai harta, bagaimana cara mengelola harta dalam Islam dan sebagainya.
Ini menunjukkan bahwa daerah pulau yang jauh dari hingar-bingar kota, sangat membutuhkan ustadz/pendidik. Siapa lagi yang akan menyampaikan ilmu kecuali pendidik yang didatangkan dari luar. Tak ada satupun disitu, baik dari para tokoh maupun orang terpelajar yang menghabiskan waktu demi mendidik masyarakat. Baik lewat pengajian khusus maupun pengajian umum.

Tidak hanya satu pulau saja kami harus mengisi pengajian rutin. Ada tiga tempat lagi yang terletak didua pulau. Dan itu masih satu kelurahan Pulau Terong. sebenarnya masih ada dua tempat lagi yang membuka tangan agar mau kami mengisi didua tempat tersebut. Tapi, apalah daya, kami hanya bisa fokus pada empat tempat saja. Yaitu Pulau Terong, Teluk Bakau, Pekasih dan Pulau Geranting.

Beratnya kami harus mendatangi mereka adalah karena harus melalui jalur laut. Untuk mencapai teluk Bakau, dimulai dengan menyeberangi laut, saya menempuh dengan kendaraan motor yang sering bocor bannya, kurang lebih 4 kilo meter melewati hutan Bakau yang banyak ditemui hewan biawak. Meski saat menyeberang tidak begitu jauh, hanya ditempuh tak sampai 5 menit, tapi saya harus menunggu orang yang bersedia mengantarkan ke pulau seberang. Jika tidak ada yang mengantar, berarti pengajian dibatalkan. Belum lagi perlu menjaga barang yang dibawa saat menyeberang. Sebab, teman saya sempat jatuh kelaut. Dua hp, buku tulis berisi materi yang akan disampaikan semuanya tidak luput dari basah. Akhirnya dua hpnya di servis, karena kedua-duanya langsung mati saat itu juga karena mandi bersimbah air asin.

Belum lagi di Pulau Geranting. Aku harus kesana dengan menumpang boat sekolah. Sempat waktu itu teman saya tertinggal yang akhirnya membatalkan pengajian di sana. Dan saat pengajian usai, tidak serta merta kami bisa langsung pulang. Menunggu esoknya untuk kembali kepulau Terong. Di Pulau Geranting lebih kritis keadaannya dari pada Pulau Terong. Air bersih susah sekali didapat. Masyarakat disana banyak yang membeli air bersih. Itu juga jika stok air yang dijual masih ada. Bila habis terpaksa tidak mandi. Dan listrik disana hanya setelah maghrib sampai jam setengah 11 malam saja.

Kondisi dakwah yang berat dan perlu menguras pikiran, ternyata ada sesuatu yang mungkin inilah menjadi penghibur lara disaat duka menyapa. Teringat dengan perkataan salah seorang ustadz, “Tidak semua apa yang kita tanam akan tumbuh. Tidak semua yang tumbuh akan berbunga. Tidak semua yang berbunga akan berbuah. Tidak semua yang berbuah, akan manis buahnya”.  
Maksudnya bahwa apa yang disampaikan sebuah ilmu kepada murid/jama'ah, baik dari para ibu dan anak-anak, itu tidak serta merta semua akan berhasil. Minimal akan ada dari sekian 20 anak-anak yang telah kami ajarkan ilmu agama, In Sya Allah muncul 2-3 menjadi orang yang berilmu dan beramal, serta menjadi ustadz dikemudian hari. Begitu juga jika dari 30 ibu-ibu yang selalu mendengarkan pengajian seminggu sekali, minimal akan ada 4-5 orang yang benar-benar mengamalkan dan menyampaikan kepada saudara, kerabat dan tetangganya. Dari sini besar kecilnya perhatian mereka dalam menuntut ilmu tidak begitu menjadi sesuatu yang diproritaskan. Sebab, selama ada yang menanamkan Islam, tidak tahu kapan, suatu saat apa yang telah ia tanam akan ada yang berbuah. Insya Allah.

Namun lika-liku perjalanan dakwah dipulau selama setahun seperti hitungan hari. Dan pada penghujung saat ingin meninggalkan masyarakat Pulau, seolah baru kemaren aku menginjakkan kaki, dan kembali lagi kejakarta.

Hal yang sangat mengkhawatirkan setelah meninggalkan pulau adalah ketidak adanya penerus mengajar anak-anak dan Ibu-ibu. Siapa lagi yang bersedia meluangkan waktu untuk mengajarkan agama kepada mereka. Tahun lalu setelah Ustadz dari organisasi Islam bertugas dan kembali kekampungnya, maka sempat kosong sekitar 8 bulan. Barulah kami berdua datang melanjutkan estafet dakwah. Maka, agar adanya regenerasi, beberapa anak remaja pulau kami didik dan kemudian diambil untuk dikader menjadi ustadz yang siap berjuang nanti dikampungnya sendiri. Insya Allah dengan adanya kader, kedepannya tidak akan khawatir lagi ketiadaan pendidik masyarakat, khususnya dikelurahan Pulau Terong.

Semoga ini menjadi hikmah akan nikmatnya dakwah dengan sarana dan fasilitas yang bisa dijangkau. Walaupun saat kami dakwah di kepulauan dengan berbagai keterbatasan sarana bisa menikmatinya dalam semangat, justru dengan kondisi dan keadaan yang tiada keterbatasan ditempat lain, seharusnya bisa lebih kencang dan maksimal dalam menyebarkan Islam. Semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam meniti di jalan-Nya.

Ahmad Hanif/RS
Jakarta, 28 September 2015


No comments:

Post a Comment