Friday, 13 November 2015

Kenapa Saya Harus Menulis?

By: Rohmat Saputra

Saya tidak tahu harus beralasan kenapa saya harus menulis. Namun ada dorongan dalam hati yang sangat kuat, dan mungkin menjadi alasan terbaik, kenapa saya harus menjadi penulis. Memang menulis tidak menjanjikan kekayaan. Tapi asal kita berbuat kebaikan salah satunya menyebarkan lewat tulisan, saya yakin, Allah gak akan menyia-nyiakan hambanya.
Namun ada hal-hal kecil, yang kemudian terbangun niat besar menjadi seorang penulis, bagi saya ada tiga faktornya. Ibarat rantai-rantai yang saling berkaitan satu sama lain. Berikut 3 faktor kenapa saya memutuskan untuk menjadi penulis.


Faktor pertama: karena menulis bagi saya adalah berbagi manfaat dan hikmah

Kita dan orang-orang yang ada disekitar kita, baik tetangga, saudara, teman, bahkan keluarga, tidak setiap personal mereka memiliki garis perjalanan kehidupan yang sama. Pasti ada warna warninya.  Yang tetangga mungkin memiliki perjalanan hidup warna merah. Yang saudara kita mungkin memiliki jalan hidup warna putih, yang teman kita mungkin memiliki jalan hidup warna hijau dan seterusnya. Karena semua aktifitas setiap orang berbeda, bahkan cita-cita mereka saja berbeda. Walaupun ada yang sama, tentu akan menemui pengalaman yang berbeda dalam mengejar cita-citanya.

 Dari semua aktfitas itu yang kemudian mengkristal sebuah kebiasaan demi meraih cita-cita mereka, pasti ada kisah yang bermanfaat. Akan ada lautan hikmah membentang luas dalam kisah-kisah mereka. Lalu bagaimana agar orang itu tahu dan dapat mengambil hikmah mereka? Ya....salah satunya ditulis. Dari sini orang akan tahu dari perjalanan/pengalaman seseorang dari kisah yang tertuliskan, lalu dibukukan dan disebarkan. Lihat saja deretan rak-rak buku di Gramedia atau ditoko buku lainnya. Pasti banyak ditemui buku-buku kisah kehidupan, baik itu dari kisah kehidupan penulis pribadi atau kisah dari kehidupan orang lain yang ditulis oleh penulis-penulis nasional maupun luar..

Contoh saja karya yang cukup fenomenal, yaitu buku yang berjudul “Ayah” karangan Buya Hamka. Beliau menulis sendiri otobiografi, dari kecil hingga dewasa. Dan bagaimana beliau menjadi ulama terkenal di Indonesia, yang hampir sejajar dengan perdana menteri pertama Indonesia, yaitu Muhammad Natsir. Ini sebuah kisah yang penuh hikmah tentunya.

Contoh lagi bagaimana kisah seseorang ditulis dari berbagai latar belakang tentang membangun keluarga, kemudian dikumpulkan dan menjadi sebuah tulisan yang bermanfaat untuk para pembaca, khususnya kaum hawa. Yaitu buku “Catatan Hati seorang Istri” (CHSI) karya Asma Nadia. Dengan gaya tulisan yang sangat renyah dan menghayat, ia mampu mengambil manfaat setiap perbincangan dan curhatan wanita kepadanya. Padahal Asma Nadia sendiri sama sekali tidak mengkisahkan dirinya. Hanya dari kisah-kisah orang lain saja, dan dibungkus dengan tulisan yang bagus, akhirnya buku itu benar-benar bermanfaat dan menjadi nasional best seller. Bahkan telah difilmkan dilayar lebar nasional dan menjadi film series CHSI.

Maka, berbagi manfaat itu benar-benar menguntungkan. Niatnya untuk berbagi kebaikan, tapi finansial malah datang sendiri. Mungkin itu salah satu keberkahan menulis.

Faktor kedua: karena menulis kegiatan para ulama

Aktifitas ini adalah kegiatan para ulama. Coba bayangkan kalau para ulama dulu tidak menulis? Perpustakaan sepi dong dari ilmu-ilmu agama Islam. Juga yang paling parah kita susah dapet ilmu agama karena para ulama dulu gak pada nulis buku. Gak kebayang kan, gimana rasanya? Kita sangat bersyukur, karena tulis-menulis adalah bagian dari kehidupan mereka. Dan inilah menjadi salah satu faktor saya yang ingin aktifitas mereka menjadi bagian dari aktifitas saya. Walaupun kayaknya gak mungkin menyamai ilmu mereka, tapi minimal bisa mencontohi aktifitas mereka yang begitu bermanfaat sekali.

Ada ulama Imam Ahmad yang menulis buku hingga jutaan hadist. Sampai dijuluki oleh ulama hadist lainnya dengan sebutan amirul mukminin fil hadist (pemimpin ulama hadist). Walaupun kondisinya saat itu tanpa kehadiran sosok sang ayah, tapi dengan semangat yang berapi-api dan dorongan ibunda tercinta yang tidak pernah surut menyemangati anaknya, maka Imam Ahmad terus menulis dan menulis. Sampai akhirnya dia menjadi rekor terbanyak dalam membukukan hadist. Dan hingga hari ini banyak kita temui hadist yang diriwayatkan olehnya. 

Ada ulama yang setiap malamnya kalau terlintas sebuah masalah, beliau bangun dari tidurnya, menyalakan lilin lalu menulis. Hingga satu malam bisa bangun 15 hingga 20 kali. Dari aktifitas seperti itu lahirlah kitab yang sangat fenomenal dan mendunia, yaitu kitab hadist Shahih Bukhori, yang ditulis selama 16 tahun.

Begitu juga ada ulama yang tangannya cacat. Jari-jarinya harus dipotong karena sebuah penyakit, dan tinggal pergelangannya saja. Namun ia tidak patah semangat. Ia terus menulis dengan kondisinya saat itu. Beliau ambil pena, lalu ia letakkan kertas diatas tanah, seraya memeganginya dengan kaki, kemudian ia menulis dengan jelas dan indah. Setiap harinya dia mampu menulis hingga 10 lembar dengan kondisi seperti itu. Ulama ini adalah Imam Baihaqi.

Itulah segelintir ulama yang menulis menjadi bagian dari mereka. Meski fasilitas sangat minim, tapi gak ada ceritanya alasan berhenti menulis. Mereka tidak ingin terkenal,  tapi karya merekalah yang membuat mereka mampu dikenal dan dikenang hingga hari ini. Bahkan sangat bermanfaat.

Yang membuat saya kenapa harus melangkah untuk menulis? Inilah salah satunya. Saya tidak terlalu mementingkan karena mereka ulama, makanya mereka menulis. Tidak seperti itu. Kalau saya berfikir seperti itu saya akan berhenti menulis. Karena sepertinya saya bukan ulama seperti mereka. Ingat looo, gelar ulama itu bukan gelar yang dikasih oleh orang-orang awam. Disebut ulama karena yang menilainya adalah orang yang sederajat dengan mereka. Bukan awam kayak kita. He...jadi saya melihat dari perjuangan besar mereka. Terlebih niat tulus murni seperti susu, tanpa campuran apapun, apalagi ditambah bahan pengawet. hi

Kenapa dinamakan susu? karena dia telah terpisah dari dua zat yang kotor dan najis. Apa itu? Kotoran dan darah. Begitu juga dengan niat mereka. Tanpa ada niat sebesar gunung dan sekuat karang, mereka akan kandas ditengah jalan dan berhenti menulis.

Keterbatasan materi dan kelengkapan alat, mereka tetap terus menulis. Sumber inspirasi inilah yang terkandung pada mereka. Kita yang hari ini dimanjakan dengan fasilitas, bahkan dengan gadget yang sangat mudah didapat, jadi kayaknya mustahil muncul alasan kenapa kok gak bisa nulis. Mereka yang berlindung dibawah naungan alasan sibuk dll, alangkah baiknya baca, atau sekaligus merenungi jejak perjalanan ulama dulu dalam semangat menulis walaupun fisik dan fasilitas tidak mendukung.

Faktor ketiga: Saya bukan anak orang kaya, bukan anak Ulama, dan bukan anak Presiden

Ya, saya ngaku bukan siapa-siapa. Bahkan bisa dibilang hidup saya dibawah rata-rata. Ini menjadi salah satu faktor saya kenapa tergerak untuk menulis. Malahan ada anak orang kaya, anak presiden dan anak ulama, tapi mereka tetap menulis. Udah anak kaya, anak ulama, juga anak presiden, menulis lagi? Hemm...sepertinya bakal ada dua keberuntungan untuk mereka.  Yang bukan anak siapa-siapa terus gak nulis gimana tuh? Tebak saja, bagaimana nasibnya. Yang jelas tidak seberuntung anak-anak seperti diatas. Banyak sekali orang-orang yang telah membuktikan kalau bukan anak-anak orang kaya, atau ulama, atau presiden, tapi mereka tetap berjuang menulis. Dan hasilnya luar biasa. Bahkan royalti dari nulisnya mengalahkan ratu Inggris. Wow, edan. Siapa lagi kalau buka Jk.Rowling.

Padahal dia dari orang yang pas-pasan. Keturunan dari garis keturunan kaya pun tidak. Namun karena perjuangannya, dia mampu terkenal hingga diseluruh dunia. Hanya dari sebuah tulisan. Memang dia tidak mengharapkan popularitas. Tapi itu buah dari perjuangannya dalam menulis.

Kalau saya perhatikan teman-teman saya yang benar-benar ingin menjadi penulis, atau minimal suka nulis, itu jarang sekali. Bahkan mungkin hanya 20 % saja. Entah memang saya tidak survey satu persatu atau karena tidak tahu keadaan mereka secara detail. Tapi yang saya perhatikan seperti itu. Dan terakhir saya akan lulus dari kuliah, ada teman yang sepertinya minat dalam tulis menulis. Namun saya perhatikan lagi ternyata gak ada bukti nyata kalau dia memang udah bergerak diminatnya itu. Saya menilai teman-teman saya sedikit banyak kurang dalam menulis. Tapi insya Allah mungkin mereka memang sengaja menyembuyikan aktifitas itu, biar surprise untuk saya. he

 Sering kali saya nasehati mereka untuk ikut kegiatan menulis. Bahkan pernah seorang teman, dia seperti tersadarkan diri dengan sebuah kata mutiara, “Orang hebat tapi tidak menulis, maka jika mati tidak akan ada yang ditinggalkan. Orang biasa tapi dia menulis, maka dia akan dikenang, karena ada yang ditinggalkan.” Dia termenung dengan pernyataan itu. Saya pun semakin semangat menulis mendengar kalimat itu. Dari situ teman saya langsung memutuskan untuk menulis buku, khususnya dibidang agama.

 Dan jika saya hubungkan kata mutiara yang tak sampai dua baris itu, ternyata bisa mewakili dari sub judul diatas. Dan lebih besar efeknya dari pada anak ulama, presiden atau anak orang kaya.
Memang perlu diingat sekali lagi, dan ini untuk nasehat pribadi saya dan teman-teman KMO, bahwa tidak ada jalan pintas untuk merasakan hasil yang manis dari tulisan. Butuh banyak macam ujian yang dari situ bisa membuat penulis semakin meningkat kwalitas tulisannya. Sebagaimana emas yang baru diambil dari tempatnya. Ia harus benar-benar dipanaskan sampai ribuan derajat hanya untuk memisahkan kotoran-kotoran yang sebelumnya bercampur dengan emas. Hanya cara itu saja yang bisa memisahkannya. Maka hasilnya luar biasa. Emas itu akan memiliki nilai yang tinggi dari pada benda-benda lainnya. 

Itulah tiga faktor terkuat kenapa saya harus menjadi penulis. Dengan berbagai kondisi saya hari ini yang tidak begitu mendukung, namun saya tetap melihat kebawah, melihat mereka yang fasilitas ala kadarnya dan fisik yang terbatas tapi tetap semangat menulis. Memang bagi saya susah membentuk akan kebiasaan ini. Tapi saya membayangkan akan lebih susah lagi nantinya kalau tidak dibentuk dari sekarang.

Saya, yang harus selalu semangat menggores ide dihamparan kertas. KMO 4D


1 comment: