Saturday, 28 November 2015

Fenomena Cuek



www.ernawatililys.com
Kata yang simpel dan gak panjang-panjang amat ini ternyata penuh rahasia. Apapun tingkat sosial manusia, bisa aja kena syndrom yang cuma empat abjad ini. Dunia yang semakin berkembang dari segi teknologi, jika ditinjau lebih jauh lagi, maka  menghasilkan masalah  yang mengurangi sosial. kelebihan dari pada tekonologi tidak ada yang bisa memungkiri. Dan tentu ditinjau dari kemudahan akses bepergian/komunikasi dipandang lebih banyak positifnya. Tapi sayangnya, pengaruh negatif gak bisa dibendung. Dan itu bisa jadi adalah efek dari teknologi dan perkembangan zaman. Kita bisa langsung lihat tanpa kebanyak teori. Saat di Kereta, bis, angkot mungkin juga pesawat, banyak yang sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Sebuah sapaan sekilas atau teguran kilat seperti sesuatu hal yang mustahil terjadi. Setidaknya terhadap orang yang paling dekat dari tempat duduknya. Itulah salah satu akibat negatif dari deretan segudang negatif yang lain dizaman ini.


Terus, memangnya ada apa? Sebuah penyakit kalo dibiarin sangat membahayakan. Loohh..berarti cuek penyakit? Iya, ini adalah sebuah penyakit yang harus disembuhkan. Memang saat ini belum berbahaya. Tapi kalo sudah masuk ketaraf akut, hemm....bisa jadi sama keluarga sendiri bakal dicuekin tuhhh......

Namun tidak menjadi ukuran saat bertemu dengan orang yang tidak dikenal, lalu terlihat cuek atau acuh tak acuh, dengan mudahnya kita menilai dia sebagai orang yang memang wataknya cuek. Karena sebagai manusia umumnya, tidak akan mudah untuk membuka diri, mau menjadi pendengar saat kita berbicara, kecuali jika dia mengenal kita. Atau jika baru bertemu, kemudian ingin mendengarkan pembicaraan kita, tentunya kitalah yang memulai. Ibarat menjemput bola. Bukan kita yang menunggu bola datang, tapi kita lah yang memulai untuk berbicara.

bisa jadi orang yang terlihat cuek, lalu kita berkenalan dan menjadi teman, misalnya, dia selalu tegur sapa sama kita. Mungkin sebelum kita menegurnya, dia terus yang menegur kita. jadi sekali lagi, kita tidak bisa menilai seseorang cuek atau tidaknya saat bertemu pertama kali atau baru mengenalnya. kecuali kalo udah lama dan menjadi teman, lalu dari perkenalan yang panjang itu bisa nyimpulkan kalo teman kita itu orangnya cuek. Kita tak dapat menilai seseorang sampe kita lama berteman dengan orang itu, atau mencari tahu dari orang lain yang terdekat dari orang itu.

Sangat memilukan sekali saat sebagian orang di Indonesia, atau bahkan tetangga kita sendiri yang tingkat ekonominya lebih rendah dan makanpun untung-untungan bisa dua kali sehari, kita cuek, masa bodoh.
“Biarin, dia bukan siapa-siapa kita kok, gak usah ngurusin orang yang kita aja gak kenal dia”. Kata-kata itulah yang mewakili kata-kata yang semisalnya. Dengan orang yang deket aja udah kayak gitu. Terus gimana sama yang jauh, seperti saudara yang tertindas? Mungkin udah gak kepikiran sampe kesana tuh...

Kalo diperhatikan semakin jauh, imbas pada cuek ini masuk pada tatanan agama. So, akhirnya saat dinasehatin, “gak usah lah, nasehatin orang. Urusin diri sendiri aja belum bisa, mau nasehati orang. Ngaca dulu dong.!”  Dan yang paling mendasarpun jadi ikut-ikutan. Kayak adanya penggalangan dana untuk saudara kita yang tertindas. Dana yang terkumpul hanya dari orang-orang itu aja. Lalu pada kemana muslimin yang laen?

“Laaah..kita aja idup udah susah, malah mau ngasih orang. Juga lagian gak terlalu penting kok”. Komentar-komentar miring pun keluar dari mulut-mulut mereka. Padahal tingkat kesusahan di Indonesia dengan apa yang terjadi di diluar sana sangat jauh. Kita di Indonesia masih bisa mendapat nikmat keamanan. Masih bisa mencari pekerjaan tanpa harus takut terancam pembunuhan. Tapi di negeri lain yang tertindas, boro-boro mau kerja, sekedar keluar dari tempat aman aja harus sembunyi-sembunyi. Nyawa mereka terus terancam, dan seolah kematian mereka udah diambang pintu.

Selayaknya cuek yang memang punya dasar dari sifat itu, tidak mesti terus dituruti. Alam kita masih luas. Pijakan kaki dibumi masih banyak yang belum kita pijak. Dan kita pun masih memiliki hati nurani walaupun dipandang oleh manusia sebagai orang yang cuek. Dari sifat manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan dan tidak bisa hidup mandiri, tentu cuek menjadi hal yang di nomor belakangan kalo udah ada orang yang memang perlu bantuan. Apapun bentuknya dan dimanapun orangnya. Sebab kita tidak tahu bisa jadi suatu waktu kitapun mendapat musibah. Maka, fenomena cuek ini, marilah kita sisihkan dulu, dan menjadi manusia yang super sosial. Pasti positifnya lebih banyak dari pada si cuek.


 Kandungan  Sifat Cuek
Sebelum masuk lebih dalem, gak asik kayaknya kalo gak kenalan dulu sama si cuek. Masa nanti sampe ditengah pembahasan bilangnya, “apa sih cuek itu, kok gue gagal paham ya”, kan jadinya lucu. Harus ngulang lagi bolak balik buka bukunya, Cuma pengen biar paham apa itu cuek. Nah, inilah niatan saya mengulas tentang apa itu cuek.

Dalam kamus besar KBBI, cuek diartikan sebagai acuh tak acuh. Kata cuek juga sinonim dari kata masa bodoh. Bisa diibaratkan kalo orang ngeliat  banyak sampah disekelilingnya dan gak merasa jijik, sikap seperti itu bisa disebut acuh tak acuh atau bisa disebut masa bodoh. Atau seseorang ngeliat anak kecil terjatuh dari sepeda, lalu dia melewatinya tanpa ada sedikitpun rasa iba,  apalagi mau menolongnya. Bisa juga itu disebut masa bodoh atau acuh tak acuh dengan kejadian sekitar. Tak jauh dari pada sinomim cuek, yaitu masa bodoh. Masa bodoh merupakan kata afektif untuk menyatakan tidak senang hati; “terserahlah”; “sesukamulah”. Dia seolah udah gak mau ada urusan sama orang yang ada didekatnya. Dan secara verbal, dia tak peduli apapun, dan tidak memperhatikan sama sekali dengan sekelilingnya. Ini juga bisa disebut dengan acuh tak acuh.

Dan sinonim dari pada masa bodoh ini adalah apatis dan cuek. Jadi pengertian dari masa bodoh, acuh tak acuh, dan cuek, pasti saling berkaitan. Kalo disebut cuek, sinonimnya masa bodoh. Kalo disebut acuh tak acuh, sinonimnya cuek.

Namun dalam penulisan terkadang ada orang yang salah memaknai acuh tak acuh. Kata acuh berarti memperhatikan, perhatian terhadap sekitar. Tapi kata tak acuh, berarti kebalikan dari kata acuh tersebut. Ada orang yang menyebut (menggunakan) kata acuh dengan maksud cuek. Padahal seharusnya dia menggunakan kata tak acuh, bukan kata acuh. Ya, tidak panjang lebar dalam pembahasan ini. Karena kalo terus bahas ini, jadinya tujuan saya jadi melenceng dari tema besar.

Bisa di ambil kesimpulan, bahwa kata cuek, acuh tak acuh dan masa bodoh adalah kata yang sama, atau sinonim. Kalo kita menyebut orang itu dengan sebutan si cuek, berarti dia itu orangnya acuh tak acuh, orangnya masa bodoh. Sebab kata tadi mengandung arti yang sama.

  
Tanda-Tanda Cuek
Setiap manusia pasti udah punya sifat masing-masing. Ada yang pemarah, pemalu, dan lain sebagainya. Terus, adakan yang punya sifat cuek? Hemm....sebenernya sifat ini bisa jadi bukan bawaan lo... artinya, dia bisa muncul bisa karena sebuah kejadian, atau ketika dewasa. Tapi gak ada salahnya kita telisik lebih jauh apa itu tanda-tanda cuek. siapa tau kita sendiri punya salah satu tandanya. Hehe..so, don’t worry, be happy.

Tanda-tanda seseorang itu memiliki sifat cuek diantaranya,
1.    - Masa bodoh atas apa yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Terserah disekitarnya mau kotor, numpuk sampah, tetangga yang jerit-jerit, tetangga yang kelaperen dll.
Sifat ini yang sangat bahaya bagi keberlangsungan hidup lo, sobat. Sebenernya kita hidup diciptakan untuk saling membutuhkan. Kita makhluk sosial. Kita pun tidak akan bisa berbuat apa-apa kalo gak ada manusia yang mau membantu kita. Coba pikir, disaat kita sedang kesusahan, terus waktu itu mati lampu, hp ngedrop, ditambah anak istri lagi dikampung, sedangkan saat itu kita masih sendiri dirumah, dan ada tetangga berjejer. Terus apa yang bakal kita lakuin? Pasti sangat butuh bantuan orang.
Nah itu lah yang dialami orang-orang disekitar kita saat kesusahan. Mereka sebenernya butuh bantuan kita, tapi terkadang kita kurang peka. Masa bodoh sama kehidupan orang. Dengan dalih “toh mereka juga gak kenal kita”. Yaahhh....

2.    - Gak mau peduli atas penderitaan orang lain.
“Mau sakit kek, mau sakarat kek, atau mati sekalian, gak ngurus. Lagian mereka bukan siapa-siapa saya”. Sikap seperti ini sama aja dia seolah-olah hidup dihutan. Walaupun sebenernya dia hidup ditengah-tengah perumahan. Coba bayangin kalo dia yang sakit, terus gak ada yang mau peduli sama dia, satu orang pun. Sakitnya itu disini (sambil megang badan yang sakit), he. Pasti kita akan ngerasa tambah sakit, kalo ternyata orang-orang gak peduli sama kita.

Biasanya kejadian seperti ini kalo ada kecelakaan di jalan besar. Kendaraan yang terjatuh terkadang dibiarin aja sama orang. Bukannya dibantu malah cuma jadi tontonan. Sekalian aja tuh yang nonton beli popcorn atau kacang, biar makin seru nontonnya. Entah saat itu hati mereka terbuat dari apa sampe ngeliat orang yang mengalami kesusahan dibiarin begitu aja. Saya pun pernah mengalami kayak gitu. Penjaga warung yang sedang menunggu warung Cuma ngeliat aja saat saya jatuh dari motor karena terpelesat. Syukurnya waktu itu ada motor yang berhenti dan membantu saya bangun, bahkan sampe dianter ke puskesmas. Baiknya mereka.

Itulah tanda-tanda cuek. kok Cuma dikit tanda-tandanya?. Yupss, sedikitnya itu adalah garis besar dari tanda-tanda cuek yang lebih kecil. Artinya, Akan muncul sikap acuh tak acuh yang bersumber dari dua garis besar diatas. Tentunya akan saya bahas dijudul selanjutnya.





2 comments:

  1. lanjutkan menulisnya. nice post .

    ReplyDelete
  2. makasih mbak udah mau dateng n komen di blog saya.

    ok mbak. mau dilanjutin sampe selesai pokoknya..he

    ReplyDelete