Friday, 2 October 2015

Tenggelam Dalam Obsesi


 
Dengan kencangnya kugerakkan gagang jaring tanpa ragu menyapu kepermukaan laut. Pancangan kaki diatas boat kapal harus menguat sambil badan mengikuti gerakan tangan, mengeksekusi penghuni laut yang terpancing.

Tak perlu pakai umpan sungguhan atau mainan memancingnya. Cukup dengan sinaran lampu pompa yang diletakkan ditempat yang sudah disetting sedemikian rupa, agar lebih mudah mengundang penghuni permukaan laut malam itu, dan kemudian menangkapnya.
Hanya menunggu 5-10 menit saja setelah lampu dihidupkan, jangkar dipancangkan, makhluk yang hidup tak jauh dalam laut akan segera muncul. Ia tertarik dengan lampu dikegelapan malam. Jadwal mencarinya saat tidak ada bulan, alias gelap. Disaat-saat seperti itu semalam saja orang bisa mendapat 7 kiloan.


Tapi jangan coba-coba nyari ketika terang bulan. Mending nikmatin saja kopi kalau memang maksa mencari disaat bulan muncul. Karena cahaya penerang kalah dengan terang bulan. Sedangkan hewan itu hanya datang jika ada cahaya. Cahaya bulan meluas kesemua permukaan laut, maka hewan itupun tersebar menikmati cahaya bulan, menari diatasnya, dan cuek dengan cahaya buatan. Jika ada yang lebih alami, kenapa mencari yang buatan. Mungkin itu bisa jadi prinsip hewan tersebut.

“Dapet 6 ekor nih”. Ujarku senang. Mengambilnya hati-hati dari jaring,  kemudian memasukkan hewan itu ke ember. Lumayan untuk tangkapan amatiran/pemula. Dulu hanya bisa memakannya, tanpa terbayang bagaimana cara mencarinya. Hewan itu sangat digemari dengan masakan tumis hitamnya. Karena didalam badannya terkandung tinta. Manis rasa air hitamnya jika dimasak tumis. Tapi hanya sebagian orang yang senang dengan kuah hitamnya. Sebagian orang yang lain justru malah ada yang alergi.

Bagi hewan itu tinta merupakan alat penyerang atau melindungi diri jika nyawanya merasa terancam oleh musuh. Itulah cumi-cumi. Memang alat berlindungnya sama dengan gurita. Tapi cumi-cumilah penghuni alam permukaan laut, menari dibawah cahaya buatan. Istilah orang disana mencari cumi dengan sebutan nyome’.

Awalnya aku bertanya-tanya, lampu ditengah laut, berdekatan diantara kuasa kelamnya malam. Berdiam, seolah menikmati taburan bintang. Apa mereka refreshing dimalam hari? Apa kurang menikmati tinggal didaratan, sampai-sampai memilih refreshing ditengah laut, dimalam hari lagi?
Oh...ternyata itu bukan refreshing, atau bukan orang yang membuang  galaunya dilaut. Tapi mereka para pencari cumi-cumi. Menggantikan waktu kerja menjadi malam, disaat seharusnya malam digunakan sebagai istirahat dan pelepas penat meneruskan kerja untuk esok, namun harus bekerja melepas kekuatan demi menyambung hidup atau hanya tambahan lauk dimeja makan.

Pertama kali disaat ingin mencoba memburunya,  kami harus menyaksikan beberapa kali cara bagaimana menangkapnya terlebih dahulu. Awalku lihat sepertinya jika dipraktekkan susah sekali. Perlu menyeimbangi pegangan gagang jaring yang panjang. Dan juga perlu hati-hati agar tidak mengenai lampu, disaat mengibaskan jaring kedalam air. Setelah beberapa jam melihat aksi nelayan dengan lihainya mendapatkan mangsa, hati ini mulai tergelitik, bergeser menjadi penasaran dengan mencoba, bagaimana rasanya mendapatkan cumi? Intinya harus memulai, dapat atau tidak nya, ya... itu belakangan.

Saat mendapatkannya hewan itu akan mengeluarkan semprotan-semprotan hitam dengan membabi buta. Jadi jangan dekat-dekat jika tidak ingin menjadi korban semprotannya. Meski bisa hilang tinta yang menempel dipakaian, tapi cukup pedih bila mengenai mata. Setelah ditaruh ke ember, rasanya ingin sekali cepat-cepat pulang dan langsung digoreng.

Jenis hewan ini mudah sekali didapat. Tak perlu keluar uang banyak untuk merasakan masakan sea food di Pulau Terong. Ditempat itu terbentang luas mencari beragam hewan laut yang tentunya diluar keharaman.
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu” (QS Al-Maidah [5] : 96).

Tidak ada istilah kapling-kaplingan dalam mencarinya. Tidak ada namaya batasan laut ini milik ini, batasan laut itu milik orang itu. Artinya tidak ada hak kemilikan laut. Terlebih pemilikan surat luasnya permukaan si biru. Yang ada hanya perairan nusantara, berarti milik masyarakat Indonesia.
Berbicara masalah harga, tentu tak semahal diperkotaan. Wajib mengeluarkan kocek yang lebih dalam demi makanan hewan seperti ini. Apalagi disajikan dirumah makan besar atau restorant elit. Harganya akan lebih melambung tinggi dari pada saat dikeluarkan dari alamnya. Jika ingin murah atau  malah gratis, minimal berkunjung kepulau, atau menjadi tamu orang, dan dijamu dengan makanan laut.



***


“Eh berat, kayak tersangkut”. Tanganku menarik senar pancing. Aku yang  berada paling depan dengan menghadap belakang dalam sebuah sampan, seperti bangun dari kesadaran. Syafit, Pembawa sampan, berada dipaling belakang ingin memegang senarku yang memanjang hingga jauh kebelakang. Dia seperti tahu jika aku mendapat sesuatu pada pancingku. Namun aku tolak. Biar aku mencoba sendiri, walaupun terasa sedikit berat.

Anshori yang posisinya ditengah, kaget dengan reaksiku. Keadaan yang tadinya hening, menjadi pecah, tertuju pada apa yang ku alami saat itu. Hari semakin larut malam, tapi kantuk yang menguasai 95 persen tubuhku hilang seketika. Padahal 1 jam yang lalu terombang-ambing dengan kantuk level dewa, nyaris tertidur diatas sampan.

“Wahhh... akhirnya dapet....huhuhu...” Teriak seisi sampan. Termasuk aku. Keheningan malam pecah dengan jeritan waktu itu. Perlawanannya saat kutarik begitu tertantang. Antara ingin segera ditarik cepat dan pelan-pelan. Jika terlalu kencang, hewan laut itu akan lepas. Dan jika terlalu pelanpun dia akan membalas menarik pancing dengan kuat. Harus bisa seimbang sampai mengangkatnya hingga keatas sampan.

Bulan saat itu sedang terang-terangnya. Sangat tampak pantulan cahaya menari-nari mengikuti irama gelombang kecil yang dibuat sang laut. Oh...alangkah indahnya malam itu. baru kusadari keindahannya setelah mendapat satu makhluk yang menyerupai cumi. Tapi 5-8 kali lipat ukuran besarnya dibandingkan cumi. Biasa orang menyebutnya Sotong.

Para pencari Sotong banyak sekali dari Pulau GerantingNgale. Itulah orang biasa menyebutnya jika ada yang memburu Sotong.  Semalam saja bisa mendapat tujuh hingga sepuluh kilo jika beruntung. Terlebih malam bulan purnama. Sangat membantu pencarian hewan yang berbadan keras tersebut.

Ada  seorang tua yang umurnya memasuki 70 tahunan masih semangat mencari semalam suntuk. untuk ukuran dia, badan yang tak kuat lagi masih bisa mendapatkan  enam kiloan. Jika dia lebih muda mungkin bisa lebih dari pada itu. Tapi kegigihannyalah yang patut di acungkan jempol.  Meski terbatas dengan keadaan fisik, semangatnya tak pernah padam mencari Sotong, yang mungkin satu-satunya mata pencahariannya.

Ngale tidak membutuhkan banyak  keluar bensin. Menggunakan mesin saat berangkat dan pulang saja. selebihnya mengandalkan dayung, menjalankan sampan dengan pelan. Sotong akan tertarik dengan umpan yang bergerak-gerak. Dengan umpan buatan yang serupa ikan kecil dan dihiasi sedikit bulu di kanan kirinya, menjadi semakin menggoda agar sotong terpikat untuk mencaploknya. Terdapat benda tajam pada umpan, sengaja diletakkan paling belakang agar hewan itu bisa tersangkut. Sedangkan bagian depannya tempat menyambungkan senar.

Tak cukup alat pancing itu hanya dicemplungkan saja dilaut sambil menggerakkan sampan dengan pelan. Senarnya harus ditarik-tarik secara perlahan untuk lebih mengundang hewan itu dan juga agar terasa ketika mendapatkannya. Karena tidak semua Sotong ukurannya besar. Jika besar memang dapat mudah dirasa. Tapi bila ukurannya kecil terkadang tidak terasa, ternyata sudah dapat saat senar didapat.

Hal ini seperti yang kualami sebelumnya. Baru saja matahari keluar dari peraduannya, aku bersama dua murid sudah berada dipinggiran pulau-pulau tak berpenghuni. Aku menarik senar, alat pancing Sotong, untuk memindahkan ketempat lain. Eh ternyata diluar dugaan. Umpannya sudah digandoli tangan-tangan seperti tali kecil yang panjang. Memang rezeki tak lari kemana-mana. susah dirasakan, karena ukurannya kecil. Apalagi aku tak sesensitif sebagaimana orang yang sudah berpengalaman mencarinya. Sampai berkali-kali bertanya  bagaimana rasanya jika pancing telah dimakan Sotong. Tapi tetap saja kecolongan.

Tidak setiap permukaan laut bisa dijadikan tempat mencari hewan itu. Orang disana biasa mencari dipinggiran pantai, dari pulau yang berpenghuni, atau yang tak berpenghuni sekalipun. Jadi bisa diprediksi, bahwa dia hidup di laut yang tak begitu dalam. Ada juga orang tak susah-susah menggunakan sampan. Dia cukup berdiam dipelabuhan. Pancing dilepaskan tanpa harus menggunakan sampan, hanya memanfaatkan arus laut saja.

Tekstur badan yang sama dengan cumi banyak orang memanfaatkan sebagai umpan. Mayoritas mereka jadikan untuk umpan ikan berukuran besar, lima belas, hingga dua puluh kiloan. Ternyata selain nikmat sebagai makanan manusia, dia juga sangat dinikmati bagi ikan-ikan monster didasar laut.


***


“ Chokk...Nah, kena dia” Tombakku mengenai kepiting, pas bagian badan atasnya. Ujungnya yang tajam, dibuat dari mata pancing itu menembus badannya sampai bawah ditempat pijakannya. Kulepaskan ke ember bersama puluhan kepiting/ketam yang tertangkap oleh ku dari setengah jam yang lalu.

Manjong, orang disana menyebutnya. dengan senjata bak pemburu rusa dihutan, menelusuri karang diwaktu surut mencari hewan berkulit keras dan bercapit. Tak hanya memburunya, terkadang bila menemukan hewan selainnya, seperti ikan dan udang tak luput dari incaran. Malah pernah niatannya hanya mencari udang saja. udang karang. Sangat manis rasanya. Orang disana suka dengan rasa udang tersebut. Banyak menyebutnya udang terasa manis lantaran hidup dikarang-karang.

Banyak jenis kepiting dipulau itu. Orang biasa menyebutnya dengan sebutan Ketam. Karena banyak tempat yang bisa menjadi rumah, maka ada Ketam pasir, Ketam karang, dan Ketam bakau. Dan kata Nelayan ketam yang paling mahal adalah Ketam bakau. Hidupnya diantara batang-batang pohon, menyelip dan menjadi tempat persembunyian yang menurutnya paling aman dari ancaman hewan lainnya.

Sering kucari hanyalah Ketam yang hidup di karang-karang saja. Sangat mudah didapat. Apalagi pulau yang kusunggahi dikelilingi karang, akan langsung nampak jika surut tiba.  Namun tidak setiap hari dapat mencarinya. Orang yang akan mencarinya butuh menunggu waktu surut malam. Jika sore diprediksi akan surut, maka pada malam harinya dipastikan surut. Namun jika ingin surut malamnya agar terlewat lama, berarti harus menunggu satu atau dua hari lagi hingga surut menjelang malam.

Tidak semua orang disana mencari Ketam dengan cara Manjong. Sebagian mereka menggunakan perangkap yang dibuat dari jaring berbentuk keranjang. Kemudian nanti diisi potongan ikan, lalu dimasukkan kedasar laut yang tak begitu dalam. Ujung perangkapnya diberi tali yang ditempelkan pelampung. Gunanya untuk mengetahui keberadaan perangkap jika nanti akan diambil.

Tak butuh seharian menaruh perangkap ketam. Cukup beberapa jam saja, jika memang rezekinya, ketam akan singgah dalam jebakan. Ketam yang didapat dengan perantara perangkap berbeda dengan yang sering kudapat. Disekujur tubuhnya terdapat bintik-bintik seperti macan tutul.
Walaupun daging Ketam hanya dibalik sisi tulang kerasnya saja, tapi rasa dagingnya yang nikmat membuat lupa akan kulit kerasnya yang membungkus daging empuk putih tersebut. Bahkan pernah sangking nikmat memakannya, mulut ini tertusuk duri yang ada dibadannya. Dia seperti tak mau kalah, digigit balas gigit.

 Banyak Ketam yang dijual hanya jenis pasir dan bakau saja. Sedangkan ketam karang agak jarang. Mungkin dari tekstur rasanya yang membuat mereka tak mampu bersaing dipasaran.
Namun ada beberapa jenis Ketam yang tak biasa orang makan. Akupun pernah mengambilnya. Tanpa tahu,  ku Panjong menembus kepalanya hingga hancur. Malah sampai didarat disuruh membuang, karena orang disana tak biasa memakannya. Ditakutkan Ketam racun.  Ketam jenis ini badannya berbentuk nyaris bundar. Berwarna kecoklatan muda.

Ada juga ketam ukuran tak begitu besar, berwarna kebiru-biruan. Biasanya nampak menempel dan bermain-main dikayu-kayu tiang rumah samping laut. Kata orang sana ketam itu beracun. Biasanya hanya digunakan untuk umpan ikan todak, ikan berukuran panjang yang muncul didekat rumah-rumah jika pasang tiba. Bila diingat-ingat waktu aku disemarang dua tahun yang lalu sempat mengkonsumsinya.

Masih terbayang waktu itu menangkap ketam dengan warna kebiru-biruan.   Aku saat itu bersama temanku menggunakan sampan dan menuju tempat diantara jaring-jaring kerambah kolam dan kayu gubug yang berdiri kuat disudut laut Semarang. Setelah dibawa pulang, kemudian ketam digoreng kering.  Lalu setelah itu tanpa ampun memakan semuanya dengan tidak tersisa. Sengaja digoreng kering agar tak repot-repot lagi membuang cangkangnya yang membungkus daging. Rasanya tak beda, dan tak sama. Antara keduanya menjadi rasa yang netral. Antara enak dan tak enak. Karena waktu itu jadul sekali untuk tahu rasa makanan. Rasa sedikit enak dilidah, ya sudah langsung diteruskan sampai perut.

Namun saat itu tak berfikiran jika Ketam yang aku makan termasuk daftar black lish yang harus dijauhi. Tapi justru masuk daftar dari menu umpan ikan. Nah!!!? Kalau sudah terlanjut, tinggal mana yang kuat. Antara ketahanan tubuh si omnivoranya atau dari hewan yang dianggap racun itu.

Bersambung..............





No comments:

Post a Comment