Sunday, 4 October 2015

Tenggelam dalam Obsesi II (selesai)

Menyusuri kumpulan karang, menghindari kubangan disela-selanya, dan waspada dari hewan yang dianggap berbahaya. Itulah perjuangan “Mengarung” dibibir  Tobe. Tobe ialah batas antara karang jurang laut. Tak mudah memang menyusuri daratan yang biasa tenggelam dengan pasangnya air. Meski kaki tak memiliki mata, ia harus dipaksakan melihat dengan cara dirasa, apa saja yang akan membahayakan, jangan sekali-kali diinjak. Bisa jadi menginjak ikan Lepu atau batu yang tajam. Sudah banyak korban Lepu. Tak main- main dengan racun yang dimilikinya. Jika tak kuat menahan efek racunnya bisa mengalami hilang kendali badan alias pingsan.

 Ikan lepu adalah sejenis ikan yang hidup dikarang-karang dan memiliki racun yang kuat. Terdapat duri diatas punggungnya. Karena warna kulitnya yang hampir sama dengan benda yang ada disekelilingnya, ia kerap susah sekali dibedakan. Jadi, gaya bertahannya sama seperti bunglon.


Pernah ibu berbadan besar dan gemuk mencari gong-gong, sejenis siput yang enak dimakan. Sebelumnya sudah diingatkan jangan turun kelaut. Nanti terkena ikan lepu. Benar saja, mungkin larangan itu menjadi sebuah do’a yang tak dapat ditolak, dan mungkin saja itu taqdirnya. Ia terkena hewan beracun itu. Dan akibatnya banyak orang kerepotan. Karena badannya yang besar tadi membuat orang-orang yang dirasa kuat seperti kehabisan tenaga mengangkatnya.

Jarak yang ditempuh juga tak dekat. Dari karang ke daratan cukup jauh. Belum lagi dari darat ke rumahnya, dobel jauh. Kisah ini membuat yang mengkisahkan tertawa ditengah ceritanya sendiri dari apa yang didengar orang. Itu sama saja “hadiah” yang tidak sembarangan dari Lepu. Tak semua orang mendapatkan, dan jarang sekali orang mengalaminya. Akupun belum pernah, dan berdoa saja semoga dijauhi dari musibah itu.

Daerah pulau yang dipenuhi batu-batu karang, seolah memagari rumah dari apa saja yang membahayakan. Orang disana jika saat surut, sebagian memancing dekat dengan Tobe. Namun harus berjuang terlebih dahulu melewati karang-karang tajam. Jika tidak hati-hati bisa melukai kulit kaki. Orang yang memancing tanpa boat di ujung karang, disebut Mengarung. Kukira istilah itu diambil dari bahasa Indonesia, “mengarungi”. Tak salah disebut mengarung. Karena artinya menelusuri. Sedangkan mengarung disitu mengarungi dan melewati karang-karang untuk mencapai tobe. Tapi kata itu seperti mendramatisir keadaan. Seolah pekerjaan itu menjadi lebih mantap.

Ikan yang didapat hanyalah ikan yang hidup disekeliling karang. Dan terkenal amisnya. Tapi semua ibu-ibu disana memeiliki trik tersendiri jika menghadapi ikan yang sangat amis. Yaitu dibuat asam pedas.  Masakan favorit suku Melayu disana sekaligus menjadi alternatif menghilangkan ikan berbau  sangat amis. Kalau hanya sekedar digoreng bau amisnya tidak bisa hilang. Tapi dengan asam pedas, rasa amis itu tenggelam bersama rasa nikmat kuah asam pedasnya. Nyam nyam...glek.
ikan yang akrab didapat dari hasil ngarung, mancing dipinggir Tobe

Kelebihan ngarung dari pada memancing dengan boat adalah karena bisa sekalian merasakan segarnya air. Dan tarikannya lebih berasa dari pada mancing di boat. Bahkan ikan kecil pun tarikannya seperti ikan besar. Padahal saat mendapat ikannya seperti tertipu. Ukurannya tak sekuat tarikannya. Kelemahan mancing model begini harus berjuang menuju ketepi tobe. Apalagi jika ada tumbuhan laut yang disebut rengkam, harus terlebih dahulu diatasi agar berjalan tidak terjebak dan lambat gara-gara tanaman tersebut.

Dulu tumbuhan yang banyak hidup ditepi laut yang tak dangkal itu orang-orang mengambilnya. Pasalnya ada penampung yang akan membayar bagi siapa saja yang membawa kepenampung. Satu kilo tanaman dihargai 1000 rupiah setelah dikeringkan terlebih dahulu. Tak ada bedanya dengan proses penjualan rumput laut disana. Harus dikeringkan baru kemudian dijual. Namun yang membedakannya hanyalah harga. Harga rumput laut sekilo 6000 rupiah. Itu jika hasil budidaya sendiri. Sedangkan jika rumput laut dari alam, artinya bukan dari menanam sendiri, maka harganya 4000 sekilo. Karena antara budidaya dengan alam liar sangat beda kualitasnya. Lebih bagus budidaya dari pada memungut dari laut.

 Namun pulau yang aku singgahi tempatnya tak mendukung untuk membudidaya rumput laut. Jadi sebagian masyarakat ada yang kepulau sebelah untuk menanam disana. Tapi dipulau Granting, sangat mendukung alamnya untuk membudidaya. Banyak sekali warga yang menanamnya. Tempat yang luas dan sedikit berpasir, menjadi hal yang kondusif bagi tanaman yang bisa dijadikan bahan dasar agar-agar tersebut.

Membawa alat pancing seperti joran dan gulungan otomatis untuk mengarung sangat langka bagi orang disana. Bukan karena tidak kenal alat modern itu. Tapi tak biasa menggunakannya. Hanya bermodalkan senar yang digulung botol bekas minuman dan mata pancing dengan sedikit pemberat, sudah cukup menarik berekor-ekor ikan bagi mereka.  Begitu juga tak lupa membawa gabus besar yang mampu mengambang diatas air. Gunanya untuk tempat umpan dan sebagai menampung ikan nantinya.

 Aku yang pertama kali merasakan mancing tipe seperti ini merasa aneh sekali. Betul-betul tak biasa. Karena aku sering memancing dengan alat otomatis. Tak perlu memutar-putar botol agar senar tergulung. Dengan alat otomatis, tinggal menggulung senar dengan sangat mudah. Dan bagiku ketika digondol ikan tarikannya lebih berasa menggunakan alat dari pada senar yang langsung dipegang tangan.

Jadi dapat menilai orang yang diujung karang, tepi tobe, berarti dia lagi ngarung, mancing ikan karang dengan alat tradisional. Langganan ikan yang sering didapat adalah ikan penake. Ikannya bersisik, amis dan banyak durinya. Dapat dijual 10 ribu perkilo. Biasa orang membeli ikan itu untuk umpan ketam atau umpan ikan yang dibudidayakan. Seperti ikan sonu, sejenis ikan kerapu yang masih kecil.

Ngarung menjadi kegiatan mengisi kekosonganku, jika surut terjadi dipagi hari. Tapi pada bulan-bulan akhir aku disana sudah jarang ngarung. Kegiatan lebih banyak dari pada kosongnya. Dan ketika kosongpun tidak pas air surut. Jadi mustahil bertemu waktu pas untuk ngarung.
Bahasa tepatnya, mengarung hanya salah satu mencari lauk yang tak perlu menggunakan alat berat dan memakai bensin. Apalagi aktifitasnya hanya memanfaatkan alam yang berubah, dari pasang menjadi surut. Adapun orang-orang memancing untuk kebutuhan sehari-harinya, biasanya mereka memancing diperairan laut yang dalam dan bisa sampai berhari-hari disana.


***


Teriknya matahari siang semakin menantang. Gulungan ombak, tarian riak laut dan sapaan anginnya seperti menghilang dari peredaran. Bak sebuah kamar sempit tanpa jendela ditengah siang yang membara. Pemandangan yang belum pernah kurasakan. Entah hanya sebuah perasaan saja atau memang alam sedang mengalami dehidrasi. Padahal bentangan laut mungkin bisa menjadi bahan penghilangnya.

“Lempar pancingnya, pak”. Perintah seorang bapak, yang sering sekali mengajak aku dan Anshori merasakan hidup bekerja sebagai nelayan. Tapi kali ini Anshori tidak ikut. Oleh bapak itu ia pelankan laju boatnya. Ikan-ikan kecil nampak dipermukaan laut seakan kejar-kejaran dengan ikan yang lain, melewati boat kami yang dihuni 3 orang.

Pancing yang kulempar beberapa saat yang lalu seperti ada reaksi. Bergerak-gerak, terkadang ditarik tapi tak begitu kuat. Tarikannya tak tentu arah, kekanan, kekiri, dan dari berbagai penjuru. Sedikit demi sedikit kuangkat. Nampak dari kedalaman laut yang jernih itu sebuah makhluk menggandol diantara pancing-pancing yang terpasang dengan apik. Menggeliat-liat ingin melepaskan diri, tak ingin dipisahkan dari alam sebagai tempat hidupnya.

Wuuuhhh….Dapet banyak”.  Aku teriak kecil, sambil terus menarik pancing hingga diangkat ke boat. Sebelumnya aku hanya mendapat antara satu dan dua ekor saja. kini lebih dari lima. Apalagi perekor ukurannya lebih besar dari sebelumnya. Mungkin ada sedikit heran, kenapa memancing sekali dapat langsung bisa lebih dari dua. Padahal namanya memancing biasanya hanya dapat satu.

Inilah kelebihan dari Merawai. Tali rapiah disisi setiap mata pancing dijadikan sebagai umpan buatan. Jadi tak butuh umpan asli mereka sudah tertipu dengannya. Satu gulungan pancing bisa dipasang 20 sampai 30 mata pancing. Semakin banyak mata pancing terpasang, semakin banyak peluang mendapatkannya. Pada ujung paling bawah diberi pemberat, berupa timah  besar sebagai perentang senar antara dasar laut dengan pemegang pancing diatas boat. Tujuannya membantu mata pancing lebih cepat dimakan para predator umpan itu. Beratnya timah ditimbang ukurannya kira-kira hampir satu kilo.


ikan Tamban, salah satu hasil dari ngerawai
Sama seperti ngale’, digerak-gerakkan sedikit. Bedanya ngale’ harus lebih sering ditarik sampai senarnya sedikit berbunyi, gesekan antara tali pancing dengan permukaan laut kemudian di ulur. Namun Ngerawai cukup hanya ditarik ulur saja kedasar laut.
“Waduh, senarnya ruwet, ikannya pada gerak-gerak gak bisa diem nih.” Ujarku setelah mengangkat dan melepaskan satu persatu ikan yang sudah didalam boat. Mata pancingnya saling berkaitan tak beraturan yang menjadi sebab memakan waktu lama mengatasinya.

Baru kali ini kewalahan mendapat banyak ikan dalam satu pancing. Benar-benar nasib baik berpihak padaku saat itu. Hati senang sekaligus masih bingung menghadapi ikan yang semakin membuat mata pancing satu dengan lainnya terikat. Jadilah pekerjaan baru yang harus diurus agar pancing bisa digunakan lagi. Tak menyangka kalau senar bakal ruwet seperti itu.
“Tadz, biar gak ruwet ngelepasin ikannya jangan diboat, tapi waktu keluar dari laut, baru satu persatu dilepas.” Kata Fahri ditengah sibuk ngerawai, memberi solusi agar tidak terulang lagi. Ia salah satu murid di Pulau Terong yang sekolah di SMA Teluk Kangkung, ikut ngerawai disiang panas yang bolong.

Memang betul, karena ikan yang didapat lebih dari satu, sedangkan setiap senti tali senar terpasang tali pancing, maka jika diangkat semua dalam posisi banyak ikan, akan terikat-ikat dan berubah ruwet.
Hasil dari ngerawai adalah ikan tamban. Ikannya sama seperti ikan dalam kaleng,  sarden. Durinya banyak sekali namun lembut. Meski keselek, tak membahayakan. Perkilo  ikan tamban dijual 15 ribu hingga 20 ribu. Memburunya tak perlu jauh-jauh. Hanya sekitar pulau. Hal lain diluar perlengkapan pancing yang diperhatikan adalah arus laut. Karena ikan langganan korban ngerawai selalu mengikuti arus tersebut. Orang yang dapat banyak, kemungkinan besar ia paham arus laut yang membawanya.

 Pernah suatu hari Fahri bersama abangnya ngerawai yang tak jauh dari pulau Terong juga, tapi hasil tangkapannya saat itu banyak sekali. Hanya dari setelah ashar sampai sebelum maghrib dapat 10 kilo ikan tamban. Subhanallah. Katanya sebagian dijual dan sebagian kecilnya menjadi lauk. Aku dan Anshori pun dapat bagian. Namun ada yang mengatakan dapat sebanyak itu masih terhitung sedikit. Dipulau sebelah yang tampak mercusuarnya, diperairan itu ada orang yang dapat hingga 20 kiloan.
Jika mendapat seperti itu banyaknya, bisa dipastikan selain pandai mengetahui arus, tapi juga didukung dengan alam yang dipenuhi ikan tamban. Bisa dibilang perairan itu menjadi sarangnya. Dan yang terpenting juga adalah memang itu rezeki para nelayan. Tak ada yang tahu mereka akan dapat banyak atau sedikit.

Berjajar para nelayan memancing, tapi yang paling banyak mendapatkan ikan pasti ada. Walaupun umpan sama, ditempat yang tak jauh beda, tapi hasilnya bisa beda. Kenapa? Itulah rezeki yang tak ada manusia yang mampu membaca pikiran taqdir. Bagi nelayan yang paham akan itu, mereka mudah menerima semua hasil yang didapat. Tak perlu mencela dengan mengeluarkan kata-kata kotor. Atau tak puas mencarinya dengan mengorbankan banyak waktu sehingga kewajibannya dilalaikan.

Itulah warna warni para pencari ikan yang mungkin mewakili disegala perairan Kepulauan Riau. Sengaja hanya terbatas diperairan Riau, khususnya diperbatasan Karimun. sebab jika diperaian Indonesia akan semakin banyak lagi cara mencari ikan, yang tentunya lebih besar dan rumit jika diuraikan. Alam yang menyediakan berbagai jenis ikan, manusialah yang menjadi khalifah. Memanfaatkan segala potensi yang bermanfaat dari kandungan lautnya. Semua yang disediakan banyak menu dalam daftar halal. Sedikit sekali yang haram. Bahkan hingga hewan laut yang telah menjadi bangkai pun halal dagingnya. Airnya boleh dijadikan untuk bersuci, walaupun pengaruh pada kulit sedikit lebih lengket akibat garamnya.
هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.

Yang diharamkan adalah praktek buruan yang dapat membahayakan hewan yang lain. Seperti membom. Memang sasarannya adalah untuk ikan besar. Tapi ikan kecil yang lain turut mati. Belum lagi terumbu karang yang hancur karena ledakannya. Dan itu juga akan mengganggu nelayan yang lain disaat mereka sedang mencari ikan. Karena daya ledakan ketika dalam air meluas hingga jarak 3 kilo meter lebih. Ikan langsung kabur menjauh dari suara ledakan. Pengaruh-pengaruh buruk itulah para nelayan menyesalkan perbuatan pelaku tersebut.

Mungkin ini sebuah kisah mengandung pelajaran yang penting bagi para nelayan yang suka mencari jalan pintas dalam memburu ikan. Saat mereka akan melemparkan bom pada sasaran, benda yang dapat meledak itu terlepas dari tangan dan terjatuh di dalam boat. semua seisi boat yang dinaiki tiga orang langsung loncat ke laut. Naas. Satu orang tak sempat kabur, dia terkena ledakan dan hancur menjadi potongan-potongan. Kemudian tenggelam bersama angan-angannya mendapat ikan banyak dari hasil ikan yang dikecam banyak nelayan dipulau tersebut.

Tak ada yang diharamkan mencari sesuatu dari apa yang terkandung dalam laut. Tapi apa saja yang manfaatnya lebih kecil dari pada bahayanya, maka itu diharamkan dalam Islam. Bahkan tanpa dalam lingkaran islampun cara itu akan dijauhi oleh masyarakat. Karena akal sehat manusia berfikir itu akan membahayakan dirinya dengan orang yang ada disekitarnya. Dan juga akan membunuh bibit ikan yang nantinya menjadi besar dan mungkin akan ia buru dan juga untuk warisan anak cucunya kedepan.


Jika bibit-bibit ikan saja sudah pada mati dan terumbu karang hancur, dan akibatnya tidak ada ikan yang bersarang ditempat itu karena terumbu rusak, lalu apa kedepannya yang akan mereka buru?

No comments:

Post a Comment