Saturday, 24 October 2015

Sela Hiburan Ditengah Kesibukan


Pulau Takong, Perbatasan Singapora, mercusuar, mancing, ikan Dingkis, berenang, Epo-epo
“Minggu besok ade acare tak pak?” Tanya salah seorang teman. Ia sering sekali bermain kerumah. Jarang kosong tangan jika ia sudah bermain. Sering sekali membawa makanan khas Melayu, seperti Epo-epo,  roti digoreng berisi kentang kecil-kecil dan makanan khas lainnya. Loyal sekali sama teman-temannya. Ia yang mengajar di sekolah SD Teluk Sunti itu, nyambi juga kuliah di Batam jurusan pendidikan. Saat itu ia tinggal menunggu hari wisuda saja.

“Kalau hari minggu kite kok ade acare, pak. Kosong”. Jawabku pasti dengan sedikit ikutan bahasa Melayu. Khusus hari ahad sengaja aku dan Anshori tiadakan kegiatan. Karena hari-hari sebelumnya jadwal padat mengurusi lomba cerdas cermat antar MDA Pulau Terong dan Pulau Geranting. Hari kedepannya lagi akan mempersiapkan acara besar pelepasan da’i. Turut mengundang ketua Baz Kepri, ketua Dewan Da’wah Batam dan calon ketua Baz Batam.


Jadi hari ahad sengaja kami kosongkan. Bulan ini, tidak bisa dibayangkan berubah menjadi bulan yang menyibukkan. Padahal bulan ini termasuk hari-hari terakhir kami disana. Sengaja kami luangkan satu hari bebas gangguan untuk bernafas legah ditengah bersiteru dengan kesibukan yang berlipat-lipat.

“Rencana nak ngajak pak ke pulau Ndangkan. Jika nak (mau), besok saye carikan tekongnya.” Tawar teman yang memiliki perawakan agak gemuk dan tinggi itu. Ia menawarkan kepada kami refreshing ke pulau Ndangkan. Pulau ndangkan memiliki pantai berpasir yang cukup luas. Disanalah pertama kali pulau tak berpenghuni kami singgahi saat baru beberapa minggu di Pulau Terong. Diajak salah seorang nelayan yang beristri asal Blitar untuk mencari udang dan ikan Dingkis.
Ikan Dingkis. Saat hari raya cina (imlek) menjadi makanan primadona bagi mereka

Ikan Dingkis adalah salah satu ikan musiman. Saat musimnya, ikan ini mudah sekali didapat. Harganya bisa melambung tinggi saat hari raya orang cina tiba. Satu kilo saja bisa mencapai 300 ribu. Namun jika diluar hari raya, harganya turun drastis, sampai 20 ribu perkilo. Selain harganya yang bisa naik turun, ternyata ikan ini sangat lezat dan disenangi orang cina, khususnya mereka yang berada di Singapura. Anehnya dari ikan ini, hanya saat hari raya cina saja ia bertelur. Biasa nelayan mendapatkan ikan ini lewat bubu. Yaitu memasang perangkap di ujung-ujung Tobe/tepi jurang dekat kedalaman laut. Tanda dimana terdapat ada perangkap ikan, biasanya bisa dilihat dari banyak kayu-kayu yang terpasang disudut-sudut pulau.

“Boleh sekali tuh pak. Udah lama kita gak maen kepulau-pulau”. Celetukku senang. Anshori, teman satu tugas juga meng iyakan ajakan langka itu.

Sekalian ke pulau Takung gimana pak? Sela Anshori. Semoga aja dia gak berfikir, “Nih orang ditawarin malah milih”. Hehe..

Soalnya dari dulu Anshari dan aku ngarep bener ke pulau Takung. Pulau yang sangat dekat dengan Singapora, tempat adu nasib para sebagian nelayan dari Pulau Terong. Sudah lama kita mendapat ceritanya, tapi tidak ada satupun yang mau ngajak kepulau itu. Eh ini kebetulan ada yang ngajak, tapi sayangnya bukan kepulau Takung. Namun  bak seorang politisi, kami rayu teman kami ini, biar bisa sedikit lebih jauh lagi. Ke Pulau Takung.

Para nelayan yang telah kami kenal memang sedikit perhitungan jika mengajak kami. sebab mereka yang berburu ikan disana tidak setengah hari atau sehari saja. Tapi hingga berhari-hari disana. Pasalnya, semenjak kenaikan BBM mereka mau tidak mau harus menghemat bahan bakar dengan tidak bolak-balik dari tempat tinggal ke Takong. Dulu, sebelum BBM naik, kata salah satu nelayan, setiap nelayan ke Takong, pada hari itu juga mereka bisa pulang. Karena saat itu BBM masih murah. Namun sekarang kalau pulang balik menjadi pertimbangan. Akan lebih banyak mengeluarkan uang untuk bensin bila tetap seperti itu. Tentu kalau kami ikut dan nginap disana, berarti mau tidak mau kami tidak mengajar anak-anak di madrasah. Itu mustahil bagi kami.

Mimik muka teman kami, yang biasa dipanggil pak Wada’ berubah seketika. Ada yang berat dari balik wajahnya. Mungkin tawarannya yang disela Anshari dengan sebuah permintaan lain, seolah menambah bebannya.

“Nanti kita tambah aje pak, untuk uang bensinnya. Berapa ajalah, yang penting bisa kesana”. Ide Anshari muncul dan mengimbangi permintaan. Anshari melemparkan tawa tipisnya, seperti ada harapan akan bisa kepulau Takong. Karena jika kepulau Ndangkan sangat dekat dan kami sudah 2-3 kali kesana. Tapi untuk kepulau perbatasan itu sama sekali belum pernah. Hanya mendengar dari cerita para nelayan, katanya ikan-ikan besar banyak didapat dari sana. Dan itu terbukti.

Tawaran Anshari membuatnya lama berfikir. Tentunya jika perjalanan jauh akan lebih harus diperhitungkan. Baik dari persiapan fisik maupun uang untuk bensin.

“Nanti kita tanyakan dulu ke tekongnya pak, jika die nak, bise lah kite berangkat ke Takong.” Ujar pak Wada’ menghibur. Seperti ada seberkas cahaya harapan. Keberangkatan yang telah dinanti-nanti akan muncul kesempatan didepan kami. Sebuah kesibukan hari-hari sebelumnya yang hampir membuat kami setres, seakan muncul ada pegangan, yang cukup mampu menyeimbangi tubuh kami.


***

Ketukan terdengar dari arah depan. Namun sudah tak mengherankan, setiap setelah maghrib akan selalu ada saja yang bertandang kerumah. Baik itu anak SD yang mau belajar Iqra’ maupun anak remaja yang hendak belajar Al-Qur’an. Saat itu memang pintu belum terbuka. Biasanya setelah maghrib langsung aku buka pintu depan. Entah siapa saja maghrib itu yang ingin mampir, kami persilahkan. Ketukannya semakin kencang. Suara langkahku maju menuju suara berasal. Lalu, segera kubuka pintu.

Ooo….Pak Wada’ to. Kirain siapa. masuk pak”. Kataku sambil mempersilahkannya masuk. Wajahnya menyimpan sebuah jawaban dari tawaran dua hari yang lalu. Malah lebih dari sebuah tawaran, tapi menjadi permintaan dari kami.

Siap-siap pak malam ini. Insya Allah kite berangkat besok!” Serunya. Matanya berbinar. Keceriaan serasa menguasai rumah persinggahan kami. Jawaban itulah yang kami tunggu. Tak menyangka, akhir-akhir ditengah hari kesibukan bisa meluangkan 3-4 jam, menikmati pulau perbatasan.

“Oh indahnya...seakan keinginan dari dulu yang sempat terpendam dan sepertinya tak terealisasikan, kini selangkah lagi terwujud. Mimpi apa ya semalem?!”.  Pikirku dalam hati.

Mungkin jika terjadi peperangan, pulau inilah yang akan menjadi tempat ribath, berjaga-jaga dari musuh. Sebab jarak pulau negeri Singa, yang menjunjung tinggi tingkat kebersihan sangat dekat jaraknya. Jarak bakauheni merak yang memisahkan pulau Jawa dengan Sumatera saja tak bisa dilihat. Tapi jarak Singapora, bukan jarak yang memakan waktu perjam. Tapi permenit. Bisa dibayangkan bila mereka melepaskan meriam atau tembakan kearah Indonesia atau Kepulaun Riau, sangat bisa terjangkau.

Semua perlengkapan ke Takong telah masuk. Walaupun masih terhitung persiapan dadakan. Yang penting terwujud bisa menginjakkan kaki sampai perbatasan negeri orang. Keberangkatan dari pulau Terong, kami harus menjemput Labib di Pulau Granting. 10 menit dari pulau Terong. Setelah menjemput Labib, speed bermesin 40 PK melaju kencang dibawa deburan ombak yang masih pagi, melewati pulau-pulau tak berpenghuni dan membelah permukaan sibiru ditengah mulainya nelayan beraktifitas.
Pelabuhan Pulau Takong

Empat puluh menit lebih seisi boat diombang-ambingkan oleh ombak kecil. Namun deburan ombak semakin besar saat pulau perbatasan mulai tampak.  Melintas kapal-kapal besar dengan pelan. Cerita para nelayan mulai terbukti. Bisa dibilang laut dekat pulau Takung menjadi jalur antar Negara. Hanya dalam beberapa menit saja kapal besar selalu melewati pulau diujung perbatasan itu. Pasti jika ditanya kedalaman lautnya, sangat jauh beda dari pada pulau dekat kami tinggal. Laut Disana rata-rata kedalamannya dari 2000 meter hingga 4000 meter.

Diatas pulau berdiri kokoh mercusuar. Kapal-kapal menjadi tahu bahwa mereka akan melewati pulau itu karena adanya mercusuar. Berdiri pula disampingnya seperti menara sinyal. Bersaing tinggi dengan menara yang diujungnya tertancap lampu tembak besar.
adu tinggi Mercusuar dan Tower sinyal

Sesampainya dipulau Takong, kami mulai expedisi kebeberapa sudut-sudut pulau. Hal yang pertama kali kami lakukan adalah menaruh barang-barang bawaan terlebih dahulu ditempat yang aman. Tapi kami harus memulainya dengan menaiki anak tangga untuk menuju atas pulau, dimana tempat aman berada. Kalau berjalan ditanah yang meninggi seperti itu, teringat sama ndaki gunung. Bedanya ini Cuma beberapa menit saja ndakinya.

Tak semenitpun saat itu aku biarkan terbuang sia-sia disana. Setelah sampai diatas, Kami beserta 4 orang lainnya menaiki mercusuar. Awalnya takut. Tapi karena semua teman sudah nekad naik, kami pun menyusul mereka. Sampai diatas mercusuar kami menyaksikan pemandangan yang sungguh menakjubkan.

Kami berdiri diatas menara. Di situlah kapal dari belahan dunia melihat menara yang kami naiki. Namun sayangnya aku seperti mati kutu. Melihat ketinggian yang sangat mengerikan itu membuat syaraf seluruh tubuh tak mampu bergerak. Hanya bisa duduk dekat pintu keluarnya saja. Sekedar berdiri saja seolah mau bunuh diri.

Dengan entengnya dua teman dari Solo, Anshori dan Labib berdiri, lalu berjalan disisi pagar yang hanya lebar tak sampai 1 meter. Kemudian duduk nyantai dipagar pembatas.

“Ya Allah… ini orang kayak gak punya jantung kali ya!!!”.

Kami yang melihat mereka berdua jadi merinding. Takut terpeleset atau tertiup angin yang tiba-tiba berhembus kencang, bisa saja terjadi. Ah. Mungkin kejadian itu tidak ada dikamus otak mereka. Kami yang melihat pemandangan dalam posisi duduk saja sudah senang. Tak perlu mengorbankan jantung dengan berdiri, apalagi berjalan-jalan diatas mercusuar. Karena selain memiliki ketinggian, pagar-pagarnya juga pendek. Hanya tingginya dibawah pusar rata-rata manusia.
Disini lah aku seolah mati kutu. bener-bener tinggi menaranya. dari belakangku juga nampak Negara Sebelah, Singapora

Lelah menaiki tangga dari dalam mercusuar terbayarkan setelah melihat sepanjang mata memandang dengan dipenuhi lautan. Kapal-kapal tampak kecil. Berlalu menerobos lautan. Pelampung besar mengambang disudut-sudut pulau. Ia sebagai pembatas bagi para kapal agar tidak melewatinya. Sebab jika tetap saja di terabas, kapal itu akan berjalan  dilautan dangkal. akibatnya akan bergesekan dengan karang.

Putih-putih berbentuk bulat, sayup-sayup terlihat jauh, tapi tampak jelas. Disitulah Negara tetangga. 
Dari pulau Takong melihat kotanya tidak begitu jelas. Tapi kalau dari Batam justru nampak sekali. Dari pulau ini hanya bisa melihat sisi pinggiran Singapora saja, tanpa melihat sisi kotanya.

Bersambung........

No comments:

Post a Comment