Monday, 12 October 2015

RODA DUA LIBUR, JALAN DIUKUR I



Knalpot hondanya rusak, jadi belum bisa dipake”.

 Jawaban meluncur dari seorang ibu yang sudah berkepala dua keluar dari rumah.Tangannya  kosong mewakili jawaban yang disampaikan. Ia melewatiku, terhenyak dibalik senyuman berat sebagai balasan. Sebuah reaksi dari hal diluar dugaan. Dari sinilah “destinasi” perjalanan tertelurkan. Demi tugas suci yang tak boleh dilewatkan, dan meskipun berat hati  nyaris membabat niat tulus.

Suara kayu yang timbul itu mengikuti langkahnya masuk kesebuah rumah kecil bertutupkan papan triplek. Rumah baru itu beberapa hari telah selesai disusun. Ibu tersebut hanya menyampaikan pesan tadi dari suami yang terkulai lemas dikamarnya. Dari semalam badannya terserang demam, dan pagi tadi ia alpa mengajar anak SD di Pulau seberang.


seminggu sekali aku rutin meminjam kendaraan roda dua tersebut untuk menyambung kaki demi mengisi pengajian ibu-ibu dipulau seberang. Aku hanya meminjam kunci motornya yang tergabung dengan kunci gudang. Sedangkan hondanya terletak dipulau seberang yang terkurung oleh gudang terkunci.

Kubuka pagar keluar rumah pemilik kunci yang selalu tertutup itu dengan fikiran yang masih bercabang.

Gak pake motor bisa lama nanti sampe dipengajian”! bisikku dalam hati.
“Tapi gak papa lah nyoba jalan, apalagi ada yang nemenin”. Yakinku. Keraguan dalam hati sirna tatkala tenggelam rasa ingin mencoba. Awalnya sudah terbayang bakal sampai tempat pengajian tak ada halangan. Namun halangan itu sudah menodong diawal.

Langkahku diintip dua pasang mata yang sudah dari tadi menungguku disamping jalan dekat gardu usang tak terpakai. Disampingnya pohon jambu berdaun lebat menaungi gardu tanpa atap dan menahan teriknya panas. Dari kejauhan tempat itu memang sejuk. Terlebih ada tempat duduk dibawahnya.

“Gimana pak, ada tak kuncinya?” Tanya salah seorang yang dari tadi menungguku di tempat duduk dekat gardu. Ia salah satu murid yang akan menemaniku ke tempat pengajian nanti. walaupun terlewat hari kedua pada ujian sekolah dasar semester kedua, ia merasa tak terganggu belajarnya. Meski aku yakinkan beberapa kali sebelum berangkat, ia tetap mantap pilihannya sendiri untuk ikut menamaniku.

Hhh.......Sudut bibir tertarik sedikit keatas. Itulah jawabanku dari pertanyaannya. Kuseret kaki ini tanpa jeda. Berharap pergi kepengajian tanpa transportasi bisa cepat sampai tanpa halangan. Tak jauh langkahku berada, muncul dua pasang kaki mengikuti.

“Pak, mau kemana siang-siang gini?” Tanya seorang pemuda dengan mengerutkan dahi  tanda penasaran. Sudah kusadari keberadaannya sejak tadi setelah meminjam kunci.

“Biasa, dua minggu sekali ke Teluk Bakau Ham.!” Ku tolehkan wajah disertai jawaban yang memanggil namanya, tanpa berhenti berjalan. Dia salah satu murid yang sering bermain dirumahku. Shalat berjama’ahnya masuk pada jajaran orang rajin diantara teman-temannya dikelas tiga aliyah.

Jalanan yang berbelok memutus obrolan kami. Aku angkat tangan kearahnya sebagai kata pamitan. Kini hanya seorang diri dan diikuti anak yang masih sekolah dasar duduk dikelas lima. Mengikuti pas dibelakangku seperti anak yang mengikuti ayahnya. Terkadang risih jika diikuti seperti itu. Tapi kutepis pikiran yang tiba-tiba muncul dibenakku. Bersyukur ada yang menemani ditengah siang hari.

“ ih....Irpan ngikut pak terus!” Cerocos yang keluar dari perempuan kecil, berada disamping ibunya. Wanita kecil itu mendatangiku dan menyodorkan tangannya dengan menempelkan tanganku kedahinya. Kebiasaan anak-anak pulau, jika tahu ada guru agama lewat, dengan sa’i (lari-lari kecil) selalu melempar senyum dan bersalaman.

Kok ape lah, jalan-jalan sama pak!” Balas Irpan sungut. Ia berjalan dibelakang tanpa merasa bersalah. Langkah kakinya lebih cepat dan mendahuluiku. Ia menunggu dipelabuhan yang sudah dekat.
“Nak kemane pak?”. Sapa seorang ibu pengajian. Ia termasuk ibu yang rutin ikut dalam pengjian seminggu sekali. Sudah lama kukenal dan tak asing, logat melayu yang melekat kini terdengar akrab. Ia memiliki anak perempuan dan pintar semua. Anak pertama kuliah di Jawa Barat jurusan bahasa arab. Tergugah sekolah yang jauh dari orang tuanya karena disemangati oleh ustadz yang pernah mengajarnya tahun lalu.

Pengajian rutin dua minggu sekali buk, di Teluk Bakau!” jawabku dengan sedikit senyuman. Kuhentikan langkahku mendengar ia menceritakan temanku, Anshari. Ia menjualkan HP ibu itu di Batam untuk dibelikan HP berbentuk jam untuk anaknya yang kuliah dijawa.  Tapi tak jadi karena harga HP bentuk jam itu lebih mahal dari pada hp yang akan dijual.
Sesekali ibu itu menirukan logat jawa medo’ temanku yang membuatku tak kuat menahan tawa.

Obrolan kuputus mengingat waktu yang kian menjepit. Takut sampai disana terlambat. Kugerakkan kaki ini agak cepat. Terlihat beberapa orang menghadap laut yang terlihat indah. Terpaan angin kuat dipelabuhan, meredam panasnya yang dikirim dari sang surya. Ah, kondisi yang kuharapkan. Si air biru itu melambai-lambai mengikuti instrumen angin.
 Hamparan laut diterik panas mengajak dua pasang mata tertarik melihat hamparan luas nan dalam di sebelah kiri dan kanan. Aku duduk diteras pelabuhan berkeramik putih. Menarik nafas panjang, dan pandangan tak lepas kedepan, terpaku kesebuah pulau. Itulah yang akan ku tuju. Dipisah pulau itu dengan tempat ku berada oleh laut.

Ya, laut disini sangat berkuasa. Manusia ditempat itu sudah terbiasa dibawah jajahannya. Bahkan dari jajahannya, orang yang punya kendaraan roda hanya hitungan jari. Dan mobil pun kendaraan yang hanya bisa disaksikan dikota saja. Namun akibatnya bisa menumbuhkan  manusia disiplin kelas tinggi. Kesekolah pakai boat, kekota pakai boat. Sekali terlambat berarti tidak berangkat ke kota atau sekolah. Tak mungkin ia paksa berenang walaupun jaraknya tak jauh.
 Suara ricuh anak-anak bermain dibelakangku dari tadi melengkapi keramaian ditempat itu. kini harus bersabar menunggu boat yang bersedia mengantarkan kami. Lewat setengah jam menunggu, kusuruh Irpan, bilang kepada Ilham yang sempat tadi bertemu dijalan, untuk mengantarkan keseberang dengan sampan.

“Semalam kemane pak? Anakku nak ngaji kok ade pak!” artinya: “Kemaren kemana pak, anakku mau ngaji tapi gak ada bapak?”. Tanya tiba-tiba seorang ibu yang sedari tadi duduk dipelabuhan bersama dua anaknya. Biasanya ia mengajak anaknya mengaji setiap maghrib, tapi aku waktu itu tidak ada dirumah.

“Saya kedarat bu, beli bumbu diwarung atas”. balasku tenang.

“Itu pengajian ibu-ibu hari apa ya pak?” lupa, dah lama kok ngaji.” tanya nya lagi. Ia terlihat hadir sekali dalam pengajian ibu-ibu. Ibu berbadan besar itu dipandang sedikit negatif dengan orang-orang disitu. Entah apa rahasia yang dimilikinya sampai dipandang aneh.

“biasanya pengajian hari sabtu setelah ashar. Tapi kalau ada acara nikahan, pengajiannya dimajukan jum’at sore”. Terangku.

“Owh hari sabtu, ya lah, besok-besok masuk lagi, ngilangin syetan sikit”. ungkapnya dengan pandangan mengarah kedepan. Ucapannya agak lucu. Berarti banyak syetan dalam tubuhnya. Tapi kenapa yang dikeluarkan hanya sedikit, nanggung sekali. Mungkin terlalu enak memelihara syetan. Hehe...

Dia tak bisa ngantar, sampannya kok ade pak”. Ucap Irpan yang tiba-tiba muncul, menyembul dari samping kiriku. Harapan diantar dengan sampan hilang. Kini berharap boat lewat dipelabuhan. Semoga saja ada yang bersedia mengantar.

Jajaran samping kiri beberapa laki-laki dengan tas koper, seperti menunggu tumpangan gratis. Belakangan wajahnya tak asing. ada tompel sedikit hitam diwajahnya, pernah kulihat jual asesories HP dekat dengan pelabuhan. Ia senasib denganku, tapi tujuan saja yang mungkin berbeda.

Deruan suara boat terlintas ditelinga, ditemani pandangan mata mencari suara tersebut. Sebuah boat dari viber menepi ketangga-tangga pelabuhan yang tertutup lumut hijau.  Hanya seorang saja diatas kendaraan yang mengambang diatas air itu. Sambil menjaga keseimbangan, ia pandang orang yang berada tempat ditutup atap. Seperti ada yang ingin dicari dari jajaran orang duduk.
“Ayo pak, minta antar sama boat ini”. Ajak irpan yang berdiri dan berjalan kerah pemilik boat yang siap menyalakan mesinnya.

Si Irpan meminta agar orang itu bersedia mengantarkan keseberang. Tampak dari raut muka orang tadi menolak mengantarkannya. Aku berdiri dan mendatangi orang tersebut. Panas diujung pelabuhan itu membalut sekujur tubuh, namun tak kubiarkan rasa sungkan meminta bantuan ini menguasai.

“Pak, bisa antar kita keseberang?”, pintaku lembut disusul senyuman ramah penuh arti, berharap ia luluh dan bisa mengantarkan kami berdua keseberang.

Terdengar suara cukup keras dari salah satu orang yang sedang duduk. Agak jauh dari belakangku. Wajah yang agak tua itu menggunakan kalimat yang tak kupahami. Walaupun menggunakan bahasa melayu, tapi bahasanya asing bagiku. Ia melemparkan kata-kata kepemilik boat sambil menggerakkan tangan. Sepertinya bapak  yang memanggilnya kenal dengan orang itu. Meski tak kutangkap apa arti perkataannya, tapi dapat kupahami maksudnya.

Kutolehkan kepalaku kesumber suara keras itu berada, tangannya mengisyarakatkan agar aku menaiki boat itu.

“dia mau ngajar, antar aja keseberang”. Itu maksud dari percakapan terakhir yang kutangkap dari pinta bapak tua tadi kepemilik boat. Pemilik boat langsung kesisi tangga. Padahal sudah hampir ketengah dan akan meluncur. Namun ia diberhentikan suara keras tadi, dan akhirnya mau mengantarkan kami berdua. Alhamdulillah ada orang yang mampu membaca keadaaan kami yang sedang dalam kesusahan.

Padahal sudah terbetik akan merencanakan planning B, jika planning A gagal. Bila jam setengah 2 siang belum ada yang bersedia mengantar, dengan sangat terpaksa mengisi pengajian diundur minggu besok. Itulah planning yang akhirnya tak jadi terlaksana.

Teringat tausiah seorang ustadz yang mengatakan dengan mengutip sebuah dalil Qur’an, “Jika kalian menolong agama Allah, maka Dia akan menolongmu”. Jika berusaha menyebarkan ilmu-Nya, maka Dia akan memudahkan urusannya.

“Terima kasih banyak, pak!” ucapku sambil senyum mengembang dengan memegang tangga kayu menuju keatas pelabuhan yang sudah berada dipulau seberang. Tak sampai satu menit melewati selat kecil yang diapit dengan dua pulau.

ujung jembatan setelah menyeberang dari Pulau Terong. Disinilah awal perjalananku dengan Irpan menantang panasnya siang menuju Teluk Bakau berjalan kaki.


Perjuangan baru dimulai. Jembatan panjang berwarna kuning cerah tergelar sampai ketepi pulau. Disisi kanan kiri terdapat rumah panggung, tinggi menghindari cakaran air laut yang terkadang pasang surut.

“Ayo pan, jalannya dicepetin, biar gak terlambat, apalagi tujuan kita agak jauh.” Kataku mengingatkannya disertai volume langkah kaki meningkat. Hela nafas yang berat kubuang bersama jejak kaki yang tak kuhiraukan.

“Mungkin kalo kendaraan bisa dipake nyantai aja berangkatnya. Tambahku diselingi senyuman.
Sapaan angin dan panas berlomba-lomba menyentuh dua insan yang sedang berjalan, ketepi pulau.
Boat-boat besar berjajar dikanan jembatan. Menutupi hamparan pasir putih yang sudah bercampur dengan sedikit warna hitam.

Dekat dari boat-boat itu, bangunan persegi dari triplek beratap asbes berdiri. Ya, tempat yang selalu kuhampiri jika ingin berangkat kepengajian. “Sarang” dimana motor itu berada. Ruangan yang cukup meletakkan kendaraan roda dua saja. Tapi kali ini, hanya tatapan senyap kebangunan itu. Mata dipenuhi kabut melengkapi pandangan, dan kupalingkan segera, mengikuti jalan yang berbelok.
“Bener, gak papa ikut saya?” Tanyaku memastikannya lagi sambil berjalan. Sudah kuulangi dua kali pertanyaan itu. Walaupun bisa kutebak jawabannya sama.

“Gak papa pak, dulu juga pernah jalan jauh!” Jawabnya yakin. “Saya sering ke Teluk Bakau, tapi kok pernah lewat darat, kami langsung pake boat. Jelasnya. Belum tergambar lelah yang ada diwajahnya.
Aku menoleh kearah kiri. Batas pandangan eksotis Pulau Terong tertutup bakau yang tumbuh liar, meredam air yang mencabik-cabik bibir pantai.

Jalan berbelok kearah kanan, dihiasi dinding tanah menjulang tinggi dan akar pohon menggantung kejalan. Hembusan angin segar, terpanggil mata ini penasaran menoleh kesebelah kiri. Ya, Pulau Terong tampak jelas dengan bangunan yang padat penduduk. Terpisah dengan lautan.

Satu kelurahan memiliki 5 pulau terpisah, dan Pulau Teronglah yang paling banyak penduduknya dari pada yang lain. Kurang lebih 3000 penduduk, 500 KK menempati pulau yang namanya sama dengan salah satu sayuran tersebut.

Setiap hari tinggal dipulau itu, namun ada keindahan tersendiri jika dipandang dari pulau lain.  Banyak bakau menghiasi pulau yang dekat dari Pulau Terong. Biasa orang memanggil Teluk Kangkung. Konon katanya banyak tumbuh tanaman kangkung disekitar pulau tersebut. makanya dinamakan Teluk Kangkung.
 Pulau Terong nampak dari pulau sebelah, Teluk Kangkung. Diambil setelah dari Teluk Bakau saat motor tak rusak


Pesisir pantai semakin jauh kebelakang. Memasuki jalanan kecil yang di ramaikan pohon-pohon besar mencakar langit. Terbayang jika melewati keadaan ini seperti berada di gunung. Hanya saja kondisi udara disini lebih segar dan sejuk. Nyanyian bermacam-macam burung bersiul mewarnai perjalanan kami. sinar-sinar kecil bak laser dari balik-balik daun yang menyeringai menahan terpaan panas, menembaki kami bertubi-tubi tanpa luka.

Sisi disepanjang jalan penuh dengan rumput. Tanda jarang sekali orang melewati jalanan itu. 1000 meter sebelah kiri, berdiri tiga rumah berjajar menghadap tanah lapang yang sudah ditumbuhi banyak rumput panjang. Dibelakangnya bakau-bakau menjadi pagar rumah mereka dari gangguan hempasan air. Tak jauh dari rumah itu, pohon kelapa menjulang tinggi, dan dekat dari jalan yang akan kami susuri.

Dinding kuning besar bermenara samar-samar malu tertutupi daun-daun rimbun. Dua rumah panggung disampingnya menemani ruangan besar itu yang selalu memancarkan alunan adzan dari spekernya.

Ya, inilah bangunan yang selalu tampak jika aku menaiki boat penambang, baik pulang maupun berangkat ke Batam. Diujung kubahnya tertancap lambang bintang dan bulan yang bersatu. Orang akan langsung bisa menebak dari kejauhan kalau itu memang menara dari rumah Allah.

 Setelah melewati masjid dan beberapa rumah warga, dua jalan bercabang terhampar menghadang didepan kami, tanpa banyak fikir aku memutus jalan yang sejak tadi ku jejakkan. Walaupun jalan satunya keluar dari jalan utama. Sebelumnya mata ini terpaku melihat sebuah objek. Seperti hewan berukuran besar yang hidup dipohon bakau. Entah benar tidaknya, karena pandangan ini terbatas dengan jauhnya jarak dari objek tersebut. Kutunjukkan pada muridku apa yang kulihat. Namun ia seperti tak percaya dari tangkapan mataku. Belum sempat rasa penasarannya hilang, langsung kubelokkan langkah ini kejalan tak bersemen.

“Pak, kok ape lewat situ, itu hewannya kok gigit!” sanggahnya. Berusaha menghiburku,  dan menjelaskan bahwa hewan itu tak gigit. Aku tau kalau hewan yang kukenal dengan sebutan biawak tidak akan menggigit, apalagi makan manusia.

“Kita kok lewat situ pan, pak biasa lewat sebelah sini.” Tukasku dengan menunjuk kearah jalan berpasir.

Ia mengira aku takut melewati jalan itu karena ada hewan besar tadi. Memang seperti hewan biawak dengan ukuran besar. Tapi bisa saja itu hanya kayu dari daun kelapa yang jatuh dan menyerupai hewan yang hidup didua alam.

“Pak udah hafal lewat sini pan, soalnya sering ngelewatin jalanan ini dua minggu sekali”. Jelasku menyusuri jalanan baru.

 Tak lama melewati jalan berpasir, kujumpai lagi jalanan bersemen. Disekelilingnya semak belukar menyambut kedatangan kami. Jalan berliku membuat kami tak tahu jika ada orang lewat dan siap menabrak. Tanaman liar memakan tempat luas jalan yang hanya satu meter lebih. Tak ada rumah sejengkalpun yang berdiri disitu. Hanya kayu-kayu bersusun tingkat tak terlalu tinggi. Disekelilingnya gundukan tanah merah menghiasi. Sebuah sumur ditengah kebun tak berpenghuni.
kondisi jalan menuju Teluk Bakau. Penuh di tumbuhi tanaman liar hingga hampir menutupi jalan

Ranting-ranting menunduk kejalan dan kubalas dengan kepala tertunduk. Tak kubiarkan kayu-kayu kecil itu memukul kepalaku. Langkahku menurun, mengikuti irama jalan berbatu dan pecah bercampur tanah. Bertemu kembali dengan hutan bakau yang lebat. Kali ini menutupi kiri dan kanan jalan. Setelah melewati jalan seperti ditengah kebun tadi, kini menginjak jalan yang menjadi satu dengan jembatan. Ia mengantarkan kami sampai keujung tapak yang berpasir. Jalan yang terbuka membuat tiada penahan terpaan panas, tidak seperti kebun yang sebelumnya kami lewati.

Sebenarnya ditengah jembatan bisa melihat laut lepas, namun terhalang dengan kumpulan bakau yang luas. Muncul air mengalir dari tengah hutan bakau mengikuti tempat rendah yang mengarah kelaut. Jernihnya air sampai tampak apa yang ada dalan air itu. sesekali ikan-ikan kecil memecahkan pandangan kami.

Sampailah kami dipenghujung jembatan. Pernah orang bilang tumbuhnya bakau  yang berjajar menancap melawan laut tersebut sebagai pemisah dua daerah. Yaitu Teluk Sunti dan Teluk Bakaulah yang dipisah oleh pohon-pohon itu.

Bersambung......

No comments:

Post a Comment