Tuesday, 13 October 2015

Roda dua Libur, Jalan Diukur II (Selesai)

Nelayan, mesin engane, Honda. Jembatan, Lomba Speed
Jalan lurus berpasir terbelah, memisah urutan rumah yang berada disebelah kiri, dan nampak kebun-kebun disebelah kanan jalan. Boat besar dari viber disisi rumah besar berpanggung menghadap laut, memiliki 3 mesin. Setiap mesinnya diatas 300 PK. Bisa ditebak pasti mengeluarkan banyak uang punya mesin boat sekuat itu. Anggine, orang-orang disana menyebutnya. Ukuran 40 PK saja harganya sudah hampir 40 juta. Itu saja sangat kencang untuk berlari diatas air. Apalagi sampai 300 PK. Jika dibanding-bandingkan dengan orang yang berada didarat yang menggunakan roda dua, para nelayanlah yang lebih kaya. Karena trasportasi sehari-hari mereka menggunakan mesin yang harganya lebih mahal dari pada transportasi yang dipakai mereka didarat.

Kurang lebih lima belas menit yang lalu kami melewati kebun dan hutan bakau. Kini kami melewati Rumah-rumah khas ala pantai. Bahan kayu menjadi menu wajib bagi ruang persinggahan rumah-rumah itu. Jembatan kayu tersusun rapih setiap rumahnya, menjadi penghubung antara “pondok-pondok idaman” dari daratan yang tak jauh.


Butir-butir keringat semakin deras keluar membanjiri badanku. Bermeter-meter lintasan tanpa sadar telah terukur dibawah pergelangan kaki. Hembusan nafas yang tak beraturan muncul tanpa disuruh, menandakan lelah mulai memasuki babak semi finalnya.

 Ah, tempat yang kukenal walaupun hanya seminggu sekali kesini. Sesekali kukibaskan baju ini, menghibur diri dari terpaan panas yang kian menggeliat. Keringatpun mengkilat memenuhi leher dan muka. Tak terkecuali si Irpan. Kilatannya terbaca jelas, didukung dengan warna kulitnya yang sedikit hitam. Sesekali ia mengelapnya dengan punggung tangan.

 Agak jauh dari tempat kami berjalan, terdapat tiga orang berada dibawah naungan sinaran menyengat. Bongkahan kayu besar berbentuk boat berwarna murni, tanpa cat, terletak didepan mereka. Dengan menggunakan alat yang dipegangnya, menghaluskan kayu tadi agar bagus dan rata tanpa kasar. Itulah tempat pembuatan boat. Suatu kali setelah pengajian pernah aku ngobrol dengan pembuat boat. bahwa harga untuk membuat boat tergantung daru ukuran. Jika berukuran kecil, harga berkisar dua juta hingga tiga juta. Tapi jika ukuran besar, harganya berkisar hingga 6 sampai 8 juta. Kayu sebagai bahan dasar boat dibeli dari pulau lain. Tidak sembarang kayu yang dibuat. Selain membuat boat, dia juga menerima service boat yang rusak atau bocor. Disamping rumahnya, saat itu aku lihat ada beberapa boat yang siap ia service.

Tak jauh dari tempat pembuatan kapal boat itu berada, berjalan seorang ibu berkerudung kearah kami. Kulemparkan salam, walaupun tampangku siang itu benar-benar lelah. Tapi tak kugubris.

“Hari ini pengajian dirumah siapa ya buk?”. Tanyaku kepada ibu tadi tanpa basa basi, sambil kuhentikan langkah sejenak. Walaupun dimataku ibu itu terlihat asing, namun kuberanikan diri kusapa. Tidak setiap ibu yang dipengajian kukenal wajahnya. Karena jumlah mereka yang lebih dari 30 orang, bagiku tak mungkin setiap personal dapat kuhafal wajah mereka. Apalagi aku datang kesana hanya seminggu sekali. Itupun jika tak ada halangan, seperti hujan atau acara dadakan di Batam.

“Hari ini dirumah pak Sulaiman. Sekalian kerumahnya, pak, saya juga mau kesana.” Ajaknya dengan menoleh kearahku, dan berjalan ke rumah tempat pengajian berada.

Tanpa pikir panjang, kuikuti ibu tersebut, dengan menahan lelah yang hampir dipuncaknya, kupaksakan melangkah dengan santai menginjak papan-papan kayu, penghubung darat kerumah, dimana tempat pengajian berada.

Diluar rumah memang terasa panas menyengat, ditambah lagi perjalanan yang tak dekat, cukup menguras tenaga. Namun, ketika kaki ini masuk kerumah berlantai kayu yang dilapisi terpal lantai, sejuk menerpa masuk kesela-sela pakaian. Jendela dan pintu diujung rumah itu terbuka lebar. Dengan selonongnya angin laut itu menghilangkan gerah yang sejak tadi menguasai.

Walau tak setetespun air masuk membasahi kerongkongan, tapi hati ini merasa terhibur dengan sampainya kami yang belum terlambat dipengajian. Sekumpulan ibu-ibu Teluk Bakau telah memadati rumah dari kayu itu. Dinding kayu menjadi bahan sandaran mereka. Karena rumah mereka dekat dari tempat pengajian, jadi sudah berkumpul dirumah papan tersebut.

Hanya jama’ah pengajian dari daerah tetangga yang belum datang. Memang seperti yang sudah-sudah. Sepuluh atau lima belas menit mereka sering terlambat dari pada ibu-ibu Teluk Bakau. Yah, bisa dimaklumi, jarak rumah mereka yang jauh, ditambah  mereka juga menjemput ibu-ibu yang lain.
Sedikit obrolan menghiasi suasana kajian ditengah menunggu dari rombongan  Ibu-Ibu Pekasih datang. Keringat yang membanjiri tubuh telah hilang dilahap angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela dan pintu yang terbuka. Padahal tadinya hampir baju bagian depan dan punggung basah dengan peluh keringat. Terdengar obrolan diluar, beberapa ibu muncul dari longokan pintu yang menganga. Berarti pengajian hari itu akan dimulai.

Biasanya aku membawa tas kecil gantung, tetapi berhubung dipinjam, bahkan hingga jadi langganan (mungkis tasnya bagus), maka waktu itu kupakai tas gendong yang cukup besar yang biasanya kubawa saat membawa banyak barang.
 Pengajian Ibu-Ibu Di Teluk Bakau. Dari belakang jendela itulah angin segar berhembus menghilangkan lelah 

Buku kecil berisi materi kajian yang berada dalam tas kucabut keluar. Kubaca sedikit materi sekedar pengulangan. Sebelumnya sudah kupersiapkan matang-matang untuk penyampaian kepada ibu pengajian kala itu. Bahkan sampai hafal dalil dari materi tersebut. Isi kajian siang itu berjudul 4 modal yang telah Allah berikan kepada manusia.

Berawal dari filosofi berdagang, antara berdagang yang untung dengan yang buntung. Berdagang yang untung jika berdagang keuntungannya lebih banyak dari pada kerugiannya. Dan kategori dagang yang rugi jika pengeluarannya lebih banyak dari pada  keuntungan. Begitu juga dengan modal yang Allah beri. Dia telah memberi modal berupa umur, anggota badan, ilmu dan harta. Jika dipakai banyak untuk maksiat dan membuahkan banyak hal tak bermanfaat, maka akan rugi. Namun jika semua modal itu menghasilkan banyak kebaikan dan membuahkan pahala, maka akan untung. Dan nanti ketika diakherat, semua modal yang Allah berikan, akan dipertangggung jawabkan dihadapan-Nya.

Allah beri umur, untuk apa ia habiskan, Allah beri ilmu, untuk apa ia pergunakan. Allah beri harta, dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan. Dan Allah beri anggota tubuh, untuk apa ia pergunakan.

Maksimal dalam retorika harus dilakukan. Walaupun kondisi disiang hari panas terik menguasai, kucoba tetap menguasai kondisi para jama’ah agar tak terasa bosan apa yang kusampaikan. Tak sampai 60 menit, kurampungkan materi yang sudah kupersiapkan malam sebelumnya. Ada beberapa ibu sedikit tersenyum kecut ketika kusinggung mengenai naiknya BBM disela-sela penutup. Memang sangat berpengaruh sekali nunggaknya BBM yang membuat semua barang menjadi mahal. Khususnya untuk warga yang hidup dikelilingi lautan luas.

Bagaimana tidak, tatkala hasil mata pencaharian mereka dijual dengan harga biasa, meskipun harga bensin telah naik. Dengan ujian ini, berarti para nelayan harus berpikir panjang jika pergi melaut, banyak sedikit hasil yang didapat menjadi pertimbangan ketat yang tak boleh diabaikan.

Belum genap sebulan dari mahalnya semua harga, telah mampu mempengaruhi pola pikir bagi para pekerja yang selalu mengadu nasib dilautan. Yah, itulah tantangan terbaru yang harus dihadapi, bukan diratapi. Akan ada hikmah setiap kejadian yang menimpa. Jika disikapi dengan baik dan positif, maka hasilnya pun menuai positif.

Ya, wajah para ibu saat itu terlihat biasa. Namun dibalik itu terlukis rahasia akan tekanan ekonomi yang semakin menjepit. Mereka perlu mengatur ulang system perbelanjaan. Harus semakin hemat, lebih memprioritaskan dari sesuatu yang sangat dibutuhkan dari pada sekedar kebutuhan. Memang laut selalu menyimpan banyak keuntungan. Namun tak selalu mereka raup keuntungan itu. Sehingga menjadi wajib mengatur perekonomian dari lingkup terkecil, keluarga. Agar tak menjadi beban, yang menuai hilangnya kehormatan dimata tetangga maupun masyarakat.

Selepas penyampaian materi, bapak pemilik rumah memanggil keluar dari tengah-tengah para jama’ah. Dipinggir dekat pintu tersuguhkan hidangan,  makanan kecil tak tahu namanya, segelas teh susu dan sepiring lontong kuah kacang disertai krupuk. Benar-benar seperti hidangan spesial. Baru duduk sebentar, aku langsung disuruh menikmati hidangan yang sudah disiapkan.

Perut tak bisa dibohongi, tanpa basa basi kurenggut piring berisi potongan lontong disiram kuah kacang yang menunggu didepan mata. Seolah jika hanya dipandang saja hidangan itu semakin menghina. Menghina perut dan letih, serta rasa penasaran yang kian memuncak.
Si Irpan yang berada disampingku malu-malu kucing mengambil bagiannya.

 Seluruh sisi dari isi piring kulumat tanpa ampun. Lelahnya perjalanan, pikiran yang dikuras dalam penyampaian, suara yang dihabiskan, semua sirna ketika lahapan pertama.  Suara-suara dari bacaan wirid yang telah mulai selepas pengajian usai tak kugubris. Fokus pada satu urusan, bahasa jawanya “untu”. Akhirnya tak sampai lima menit, piring yang dipenuhi lontong, berubah menjadi sisa-sisa kuah kacang saja.

 Pengajian di Teluk Bakau memang berbeda dengan di Pulau Terong. Makanan dan minuman selepas ngaji, tak pernah ketinggalan. Yah, walaupun itu bukan niatan, tapi bonus, tanpa mengurangi pahala di akherat. Insya Allah.
Diberi oleh-oleh beraneka makanan selepas pengajian di seberang. 

Makanan ini yang menjadi langganan untuk oleh-oleh setelah pengajian. Tapi kadang diberi oleh-oleh makanan yang beda seperti gambar diatas.


Dipulau tempatku tinggal, pengajian tahun lalu para ibu tanpa disuruh membawa makanan dan minuman. Pengajian selesai, acara selanjutnya seasen tanya jawab sambil dihidangkan makanan. Namun ustadz yang selalu mengisi melarang adanya hidangan tersebut, entah apa alasannya, tepatnya tiga bulan sebelum ia pergi. Ia mengajar sepertiku melengkapi syarat pengambilan ijazah s1. Semenjak saat itu sampai hari ini hidangan sudah tidak ada.

Pernah salah seorang ibu yang rutin pengajian di Pulau Terong sedikit kaget atas cerita yang kusampaikan. Setiap pengajian ada hidangan dan membawa oleh-oleh makanan dari Teluk  Bakau.
“Enak sekali pak, disana ada makanannya!” katanya sambil tertawa lebar. “Dulu juga waktu sebelum pak kesini, setiap pengajian kita ada makanannya, pak. Tapi ditiadakan. Padahal ibu-ibu gak ada masalah kalo bawa makanan. Eee...abis dilarang bawa makanan, gak lama ustad yang ngajar kita pulang kampung. Gak balik lagi!” Terang ibu itu dengan meninggalkan sesal dihati sambil matanya sedikit melotot ke arahku.

Tak ambil lama mengistirahatkan lambung, segera aku berpamitan kepada jama’ah ibu pengajian yang tengah asyik dalam acara wirid. Hanya tiga dan empat orang saja yang menoleh, tahu kalau aku ingin pergi saat itu. “Efek bius” pengaruh dari makanan yang tertelan mulai memberatkan langkahku. Kami keluar ditemani seorang bapak yang sejak tadi menemani kami berdua makan.
“Dulu ada salah seorang ustadz yang melarang ibu-ibu membawa makanan”. Kata bapak itu, berjalan disebelah kiri dengan pelan. Tatapan yang tetap memperhatikan langkahnya, dengan raut muka yang sedikit kesal, ia melanjutkan ucapannya, “Hanya alasan kalo bawa makanan nanti mubazhir! ”.

“Sebenarnya adanya makanan kembalinya untuk para jama’ah pengajian itu sendiri, kan sebagian ada yang rumahnya jauh, haus setelah pengajian, atau mungkin dari rumah belum sempat makan”. Terangnya lebar.

Mendengar menuturannya, aku sesekali mengangguk, dan menyetujuinya, adanya makanan memang ada maslahatnya. Hanya sebuah alasan mubazhir, para ibu disana tak tega meniadakan makanan dalam acara pengajian itu. Begitu juga bapak yang ada disampingku. Ia menentang sekali alasan seperti itu, bahkan adanya makanan, seperti tradisi yang telah mendarah daging dimasyarakat tersebut.

Dipenghujung jembatan, dari rumah ke jalan, mataku menangkap suatu objek hidup. Ia mendekati kami bertiga. Terkadang menjulurkan lidahnya. Berjalan santai. Ia duduk di pinggiran jalan, satu meter dari kami.

“Itu anjing saya, khusus menjaga kebun saja, pak”. Kata bapak yang biasa di panggil pak sulaeman dengan menunjuk kearah hewan itu. “Yang penting dia tak dekat-dekat dengan kita, karena kalo memegangnya saja sudah najis.” Ungkapnya dengan sesekali memperagakan tangan. Ya, dia memang salah satu tokoh Teluk Bakau. Sempat aku pernah berbincang-bincang dengan istri RT disana, katanya, orang melayu itu tak ada yang memelihara anjing. Karena melayu semuanya Islam. Dan Islam tak memelihara anjing. Orang yang memelihara anjing berarti bukan orang Islam.”

Islam sebenarnya memperbolehkan seseorang itu memelihara anjing. Tetapi ada syaratnya, anjing khusus untuk menjaga kebun dan berburu saja. Tidak boleh masuk kerumah, apalagi dipegang.

Rosulullah bersabda yang artinya, "Siapa yang menjadikan anjing –kecuali anjing penjaga ternak, atau anjing pemburu, atau anjing penjaga tanaman- niscaya berkuranglah satu qirath pahalanya setiap hari”. (HR Al-Bukhari dengan seumpamanya dalam Adz-Dzba’ih dan Ash-Shaid (5480-5482), Muslim dalam Al-Musaqat (1574).

Apabila berkurang pahalanya satu qirath berarti ia berdosa dengan perbuatannya tersebut, karena hilangnya pahala seperti mendapatkan dosa, keduanya menunjukkan haramnya. Dalam kesempatan ini, saya memberi nasehat kepada orang-orang yang tertipu dengan perbuatan orang-orang kafir berupa pemeliharaan terhadap anjing, merupakan perbuatan keji.

Kenajisannya lebih berat daripada najis-najis lainnya. Sesungguhnya najis anjing tidak bisa suci kecuali dengan tujuh kali basuhan, salah satunya dengan tanah. Sampai-sampai babi yang keharamannya ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an dan ia adalah rijs (najis), kenajisannya tidak sampai kepada batas ini. Anjing adalah najis yang sangat buruk sampai kepada batas ini. Anjing adalah najis yang sangat buruk. Namun sangat disayangkan, sebagian orang tertipu dengan orang-orang kafir yang terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan tercela, maka mereka memelihara anjing ini tanpa ada keperluan, tanpa keterpaksaan.

Terlepas dari masalah pribadi dari perkataan ibu RT tersebut, mungkin didalam melayu tidak ada yang memelihara anjing. Tetapi orang Islam diluar melayu ada yang memelihara hewan tersebut. Hanya mungkin nuansa Islam dimelayu kental, sehingga hal yang berbau diluar agama ini tidak cocok digiring kedalam masyarakat khas kepri itu.

Tembakan sinar matahari yang mulai menyusut, menandakan bergeser pemanas alami itu condong kebarat. Aku yang berdiri merasakan sengatan panas yang telah memudar. Saatnya kupamitkan diri, kembali kepulau asal. Senyuman lebar dilemparkannya, mengiringi perpisahan kami berdua. Tugas untuk hari ini selesai. 

Perjalanan hari itu sungguh berbeda dan cukup menguras tenaga.
Membayangkan jejak dakwah yang kurasakan, sulit dan susah ini belum ada apa-apa dari pada lainnya. Tak perlu jauh-jauh. Kakak kelas yang mereka telah bertugas, sebagian mereka selalu melewati tempat-tempat yang berbahaya. Dengan sampan menyusuri rawa-rawa yang dihuni buaya, dengan langkah kaki melewati hutan-hutan yang dipenuhi babi berkeliaran. Bahkan, salah satu mereka ada yang memakan daun-daunan saja sebegai pengganti makanan pokok.

Gara-gara hal ini, seorang da’i hendak dipindahkan ketempat lain yang lebih sejahtera. Dan pengirimnya merasa bersalah karena telah mengutus ketempat yang untuk makanan keseharian saja susah, sehingga terpaksa memakan tumbuhan saja yang ada disekitar rumah. Namun si da’i berkata yang membuat hati ini meleleh mendengarnya. ”Pak, jangan pindahkan saya. Karena saya merasa keadaan ini membuat saya semakin dekat kepada Allah.” Allah  mus’taan.

Ternyata ditengah samudera kehidupan yang luas dan berkembang ini, masih terselip permata indah keikhlasan. Mengemban amanah yang besar, tetapi mampu menguasai keadaan hati meski kondisi diluar kendali.

Ia kaya. Walau tak satupun barang dan makanan ia nikmati. Ia menang. Walau tak satupun hadiah kontan ia dapatkan. Ia kaya dan menang, karena telah mengendalikan hati dari belitan angan dunia. Dan membuat rasa derita menjadi sesuatu yang mulia.

***
Terpaan angin siang menjelang sore, membuat baju ini berkibar lunglai. Jembatan panjang menerobos batu-batu karang, sekali lagi bertemu dengannya. Nampak gubug teduh yang berdiri diujung pelabuhan, menjadi tujuan sebelum menyeberang. Kulihat jam tangan, jarum jam kearah tiga. Setengah jam lagi adzan ashar berkumandang. Bangunan kecil yang berdinding papan itu menjadi tempat santai yang menurutku paling nyaman. Pasalnya angin yang berhembus kencang menghilangkan penat, dan hamparan laut yang memanjakan mata. Hampir kantuk menyerang, padahal duduk disitu baru sebentar. Benar-benar tempat yang menggoda.
Sering ada perlombaan Speed di selat antara Pulau Terong dan Teluk Kangkung ini. Disinilah seminggu sekali aku menyeberang untuk pengajian ke Teluk Bakau
Disitu hanya tinggal menunggu boat yang sedia mengantarkan kami keujung pelabuhan sebelah, Pulau Terong. Nafas berat kulepaskan, senyuman kecil menghiasi wajahku, pikiran lepas mundur kebeberapa jam yang lalu. Sambil duduk bersandar dinding papan terbayang perjalanan hari ini. Ya, hari ini dengan “alpa”nya kendaraan motor, membuat diriku menyelam dari sedikit rasa pahit yang dialami da’i ditempat lain yang pastinya lebih susah. Hanya berjalan kaki, tak melewati tempat-tempat berbahaya, dan menemui hewan liar nan ganas. Masih terlalu nikmat dengan suasana dikelilingi pulau. Jika ditanya, gimana, besok jalan kaki aja ya, gak usah pake motor biar perjalanan bisa dinikmati? Hmmm....alangkah baiknya kita syukuri apa yang Allah beri.

“Maksudnya?”

“Allah sediakan motor, harus disyukuri dengan memakainya, itung-itung biar ibu-ibu tak kehabisan waktu menunggu sang ustadz yang terlambat”. !!!

                                                                    ***



No comments:

Post a Comment