Wednesday, 7 October 2015

Pulau Sinyal Hilang (Pulau Geranting)


Hawa dingin meraba kesegala potongan tubuhku yang menyembul keluar dari selimut. Angin saat itu kencang sekali. Atap seng yang hampir lepas sahut-menyahut tarik suara. Tak mau ketinggalan ikut meramaikan suasana, yang saat itu bisa dibilang cuaca buruk bagi nelayan.
Melihat gejolak laut dari jauh saja rasanya seperti akan tumpah kedarat. Apalagi kalau menjeburkan diri ketengah ngerinya ombak, sama saja ingin bunuh diri.

Angin barat. Ya, biasa orang nelayan menyebutnya. Cuaca yang mungkin dikatakan tidak bersahabat dengan para nelayan. Dicuaca yang kuat angin tersebut para nelayan lebih baik tidak keluar mencari ikan. Selain mungkin ikannya susah jika arus bergelombang besar, ini juga demi keselamatan para nelayan itu sendiri.

 Jika melihat gelombang itu teringat ketika hangat-hangatnya peristiwa hilangnya pesawat MH 370 tanggal 8 Maret 2014Saat itu pesawat terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Pesawat tersebut jatuh dibagian selatan diperairan Samudera HindiaPerairan itu termasuk salah satu samudera terbesar ketiga didunia. Ganasnya lebih berlipat ganda dibanding perairan laut yang dipenuhi banyak pulau, walau dalam cuaca angin barat. Namun dengan alat canggih yang dimiliki Singapura mampu menemukan bangkai kapal yang berada didasar samudera dan terdapat beberapa mayat saja yang menempel. Selebihnya hilang terbawa arus samudera yang ganas. Padahal banyak sekali yang berada di badan kapal itu.



Begitu susahnya mencari para awal kapal yang tenggelam hingga dasar samudera. Bahkan sampai menghabiskan berminggu-minggu lalu lalang diatas salah satu perairan terbesar itu. Tentu tidak ada yang mampu mencari dengan tangan kosong tanpa peralatan yang memadai. Ditambah lagi dengan kondisi samudera yang tak sepi dengan badainya. Mengingat pengalaman seorang pemancing indonesia yang diajak oleh salah seorang ke lautan Hindia, dia banyak mendapati pengalaman baru. Salah satunya jika seseorang telah terjebur kelautan itu, berarti pasrahkan saja dia. Tidak usah dicari lagi. Sebab arus laut diperairan itu sangat kuat. Dalam beberapa menit saja mungkin ia telah hilang dan susah mencarinya. karena sebelumnya ada awak kapal tercebur tanpa ada satu orang pun yang tahu. Ada pula data mencengangkan mengenai samudera hindia, bahwa kandungan oksigen diperairan hindia sangat tipis. Sehingga mudah sekali saat orang tercebur didalamnya lebih cepat mati.

Jika dibandingkan samudera itu yang memiliki kedalaman rata-rata 3.890  meter, kemudian diukur dengan ketinggian menara tertinggi didunia, maka masih belum sampai ukuran kedalamnya. Dengan kata lain jika menara yang tertinggi, seperti menara Petronas Tower di Malaysia yang memiliki ketinggian 452 meter, menara Burj Khalifa di Dubai yang memiliki ketinggian 829,8 meter dan menara Eiffel di Paris memiliki ketinggian 324 meter,  ingin mencapai kesamaan ukuran kedalamannya dengan samudera, harus memiliki ukuran tinggi hingga tiga kilo meter lebih. Tentu menara seperti apa jika harus membangun setinggi itu. Dan pastinya jika ada menara dengan ukuran tinggi hingga sekilo lebih, tentu akan dinobatkan menjadi menara tertinggi didunia, dan tingginya  hampir sama dengan kedalaman samudera.



 Bergeser ketopik diluar samudera. Masih diperaian yang mungkin air samudera dibawa gelombang sampai dipulau tempatku berada. Saat itu tubuh ini bergetar, pilek, pegal-pegal, seakan betah hinggap dibadan ini yang terhitung kurus. Ini adalah hasil akhir dari sebuah liburan menjelang tahun baru 2015. 4 hari sebelumnya dihabiskan berlibur dengan anak-anak murid, berenang didepan lataran rumah sang imam masjid. Begitu ramainya yang mandi, pemilik rumahpun tak mau ketinggalan ikut serta nyemplung  di akademi angkatan laut amatiran. Walaupun sudah berusia diatas 50 tahun, tapi ia masih kuat berenang dan semangatnya tak kalah dengan kami.
“Dulu waktu muda saya ikut angkatan laut, latihan fisik.” Kenangnya. Tanpa mengenakan baju, ia siap loncat, sambil berbagi sedikit pengalaman kepada kami semua yang tengah asyik menikmati air asin disiang itu.

Begitu semangatnya mandi waktu itu, punggung serasa dipukul benda keras dengan bertubi-tubi. Baru saja sembuh dari sakit punggung dua hari berikutnya diajak mandi lagi dipulau sebelah. Tepatnya di Pulau Granting, dimana temanku berdomisili. Sebelum berenang, sempat beberapa jam menghabisi waktu berdiam diri diatas sampan. Mengadu nasib mencari lauk dengan memancing ikan. Walaupun memang saat itu arus sangat kuat, tapi aku dan 3 orang yang menemani tak surut langkah mendayuh. Apalagi hanya mencari ikan karang, tak butuh jauh-jauh hingga ketengah laut, hanya ditepi-tepi pulau saja.

Padahal badan mulai ada tanda-tanda sakit menyapa, setiap ada ajakan tuan rumah di Geranting seolah tak mampu kutahan dan kutolak. Seperti “YES MAN” saja. Tidak mampu menghindari tawaran. Dan tawaran itu selalu saja dibela hati, “udah terima saja, gak enak lo, udah ditawarin kok malah ditolak, punan (kualat, bahasa melayu) nanti”. 

Tubuh memang bisa ngambek. Kecapean yang dipaksakan kerja berat, akan timbul reaksi badan tak seimbang. Berdiri rasanya isi daratan berputar. Cuaca yang saat itu buruk, seakan tubuh ini bermeditasi dalam lemari es. Kuistirahatkan tubuh yang menggigil ini seharian penuh. Berdiam diri dikamar, ditemani hembusan angin kencang yang masuk dari berbagai sela-sela rumah. Pasalnya, lantai dan dinding kamar disusun dari kayu. Setiap susunan terdapat celah masuknya angin.

Mungkin sebenarnya pembuat rumah itu berniat baik. Agar dalam rumah terasa layaknya ruang kantor ber AC. Bedanya rumah ini ber AC alami, yang kapan saja bisa berhembus dan tak bisa dimatikan. Gratis pula tanpa bayar tambahan listrik rumah. Ditambah lagi tak susah-susah membuat kotak sampah atau membuang sampah keluar. Cukup menyusupkan sampah dibawah lantai pas di sisi-sisi papan yang longgar. Itu juga berada diberbagai ruang. Kerjaan semakin efisien, tanpa membuang waktu dengan menyapu. Itulah kelebihan memiliki rumah kayu yang dibangun diatas panggung. Hehe.....

Jika air laut pasang, dari balik papan lantainya, terlihat seperti diatas sampan. Sungguh pemandangan yang jarang kusaksikan saat itu. Melihat air pasang yang hanya dari balik lantai  bercelah. memang jika pasang, dibawah rumah temanku itu dipenuhi air. kadang terdengar suara lompatan ikan-ikan yang melintas dibawah rumah.

Hembusan berbagai arah dari luar semakin memperkuat suhu badan yang tak stabil. Aku terima inisiatif dari tuan rumah, Syafid. Yaitu dengan adanya ide untuk mengobati dari resapan tradisi melayu dalam mengatasi demam. Kata Syafid air direbus hingga hangat, lalu dimasukkan kedalam botol. kemudian air hangat  dalam botol itu diletakkan di sudut-sudut tubuhku yang kian merana.

Badan yang sudah terbalut selimut setengah tebal, bantal-bantal diletakkan semua disisiku, ditambah lagi hasil ide cemerlang ala melayu dengan botol-botol plastik tadi. Posisiku saat itu jika dibayangkan mungkin seperti peterjun payung, yang akan terjun keperaiaran Riau. Dari ujung kaki hingga leher tak ada celah sedikitpun untuk memberi kesempatan angin masuk. kondisi badan semakin lama terasa panas. Tapi kutahan sekuat mungkin untuk kebaikan, agar cepat sembuh.  Rasa canggung muncul saat itu benar-benar tak kugubris. Letihnya tubuh yang berujung tergelak lemah berkasurkan papan, mungkin mengikis sungkan sebagai tamu disitu.

Hal yang tak terbayangkan, padahal hanya mengisi liburan di tempat Labib, harus menjadi beban karena sakit ditempatnya. Sungguh merepotkan. Tapi kupendam dalam-dalam, bukan waktunya meratapi nasib. Yang harus kuyakinkan saat itu adalah bagaimana caranya cepat sembuh.  Karena besok harus ikut membuat laporan tugas ke kantor dewan dakwah di Batam.

“Pas sekali kesini, sakit demam ditambah cuaca buruk, lagi”. Canda Labib disaat asyiknya aku tergeletak lemas, digedong dengan selimut, persis anak yang baru lahir. Bedanya kalau bayi imut-imut, ini sungguh amit-amit. Aku saat itu hanya senyum-senyum kecut. Ditimpa rasa sakit baru sadar, rasanya ingin selalu segar bugar. Tentu ini kehendak Allah, Sang pengatur taqdir. Kita hanya bersabar dan berusaha sembuh dengan cara yang baik dimata-Nya.

Kusengaja menghabiskan waktu dipulau Geranting. Sebab besok pergi kebatam lebih dekat dari pulau ini. Satu hal yang tak kami duga, yaitu  berkesempatan akan melalui tahun baru disana. Anshari, teman seperjuangan yang saat itu ia tinggal sendiri dipulau kami berdomisili. Dia berencana akan bersama-sama nanti pergi ke Batam. Ia naik boat penambang dari pulau Terong dan akan bertemu dipelabuhan Pulau Granting. Karena Rute awal boat itu beroperasi setiap harinya dari Pulau Terong. Kemudian baru melewati pulau Geranting dan pulau kecil-kecil yang dekat dari situ. jadi aku dan Labib cukup menunggu dipelabuhan Pulau Geranting.

Namun boat kayu benar-benar telah sesak penumpang. Nampak sekali sampai penumpang banyak berdiri didekat sopir. Jika kendaraan darat mungkin bertumpuk-tumpuk penumpang masih bisa diseimbangkan, atau jika jatuh pun tidak terlalu beresiko. Tapi kalau untuk kendaraan laut, jika tak seimbang resikonya besar sekali. Banyak penumpang dari para ibu dan anak yang tidak semua bisa berenang. Apalagi masih musim angin barat. Kutakutkan jika aku menaikinya makin memperparah keadaan boat yang kelebihan kapasitas.

Kuurungkan niat menaiki boat yang berjejal penumpang. Tapi keengganan itu berbuah tawaran dari salah seorang istri RT untuk ikut menaiki boat sendiri yang rencana akan pergi ke Belakang Padang.  Ia merupakan kecamatan dari pada pulau Terong dan Geranting. Ibu itu juga  takut melihat para penumpang yang memaksa diri agar bisa ke Batam, walaupun keselamatan masih belum tahu.

“Alhamdulillah jadi ke Batam”. Batinku. Padahal rencana ke Batam ingin diundur esok hari karena mengikuti jadwal boat pembawa penumpang itu yang hanya sehari sekali saja.  ucapan Syukur dalam hati aku ulang lagi tatkala bayarannya diluar perkiraan ku dan Labib. Ibu itu bilang bayar saja 15.000 untuk bensin. Aku kira satu orang lima belas ribu. Ternyata uang segitu untuk dua orang. Masya Allah, murah sekali. Kami sesekali memaksanya untuk bayar lebih, tapi ia terus menolak pemberian kami. Ya sudah, kami akhirnya hanya bisa mengucapkan terima kasih saja padanya.


 Anshori sudah duluan bersama rombongan boat penambang. Saat itu aku berdua terbawa keindahan bersama dengan kendaraan apa adanya. Boat dengan mesin 15 PK. lebih dari cukup kecepatannya untuk mengejar boat penambang yang sudah mendahului kami. Harapan keselamatan tentu menjadi hal utama saat menaiki boat itu. Tetapi skenario Allah tidak ada yang tahu. Manusialah yang hanya berusaha menghindari dari sesuatu yang dianggap membahayakan jiwa manusia. Namun alhamdulillah tak terjadi apa-apa. Walaupun kekhawatiran dan kecemasan sudah menenggelamkanku di alam sadar. 

bersambung....................


No comments:

Post a Comment