Saturday, 10 October 2015

Pulau Hilang Sinyal (Pulau Geranting) II Tamat

Batam, Singapura, Kembang Api, Tahun Baru Masehi, budaya
foto diambil tepat di belakang Pulau Geranting saat dhuha dan laut sedang pasang
Orang pulau khususnya di kelurahan Pulau Terong biasa melihat penumpang membludak disaat 3 atau 2 hari sebelum tahun baru. Mereka lebih memilih banyak menghabiskan malam tahun baru di kota. Dan hendak melihat dengan jelas kembang api tanpa henti diluncurkan orang-orang yang merayakan dan meramaikannya. Ada juga yang hanya melihat dari pulau terdekat, yaitu Belakang Padang,  dekat sekali dengan negara yang terkenal ketat peraturannya, Singapora. Begitu banyaknya orang-orang pribumi pulau pada pergi ke Batam, sampai kata orang yang biasa menghabiskan tahun baru hanya dirumah, merasakan begitu sepi dari masyarakat pulau. karena berlibur tahun baru di Batam.

Dari dulu di negeri Singa itu ledakan dari kembang apinya lebih banyak dan menarik. Sampai ada beberapa orang Batam telah memboking tempat sepanjang pesisir pantai yang menghadap ke Singapora dua hari sebelum malam tahun baru, demi melihat meriahnya negara tetangga memainkan kembang api. Karena dari pantai itu sudah sangat tampak negara tetangga.  Dari gedung-gedung, hingga terang benderang lampu disana. Ternyata orang Batam yang pindah ke pesisir pantai bukan saja sekedar melihat. Malah seperti pengungsi, membawa peralatan tidur, juga tak lupa membawa pula hampir semua peralatan dapur. Duh...pengungsi petasan di malam tahun baru.


Tahun baru setiap tahunnya menyedot segala perhatian setiap etnis. Sebagian besar manusia sangat loyal acara tahunan yang begitu meriah. Meniup terompet, pesta pora mewarnai malam yang penuh ledakan kembang api. Dan sebagian sisanya mewanti-wanti agar tidak menghaburkan uang yang tidak ada manfaatnya. Dan sebagian lainnya lagi hanya berdiam diri, malah kadang asyik ikut merasakan pergantian tahun tersebut.

Yah... budaya yang telah mengakar jauh kedalam hati orang Indonesia yang mayoritas adalah muslim ini susah dihilangkan. Tak sadar bahwa apa yang dilakukan tiap tahunnya merupakan perbuatan yang nihil dari manfaat. Toh itu perayaan kelender masehi.  Bukan dari Islam. Lalu kenapa dengan semaraknya malah kita ikutan, seakan robot yang terprogram khusus tahunan, harus melakukan kegiatan diawal tahun baru.

Kita memiliki kelender Islam. Justru sepi dari pada perayaan tahun baru masehi. meski memang tidak dituntut untuk menyamai perayaan mereka. Alangkah baiknya memilih duduk manis  ikut acara keislaman di awal malam tahun baru masehi. mendengarkan bahaya dan mafaat yang sedikit jika mengikuti perayaan budaya kafir. Sebenarnya kita itu sudah mulia berada dipelukan Islam. Tapi kok dengan entengnya melepas pakaian kehormatan dengan ikut budaya rendahan.

Umar bin Khattab berkata: “Kita telah mulia dengan adanya Islam, namun jika masih ada yang mencari kemuliaan diluar Islam, maka Allah akan menghinakannya”.

Kalau dipikir-pikir, mereka yang ngefans berat pada budaya kafir, sebenarnya tanpa sadar mereka itu seperti “dikasih hati, eh malah minta empedu. makan tu pahit”.

***

Dibandingkan dengan pulau yang aku singgahi sebagai tempat tugas dari kampus selama setahun, aku lebih senang tinggal dipulau Geranting.  Meski di Geranting kelebihannya tak sebanyak Pulau Terong, tapi suasana masyarakat dan strategisnya letak rumah membuatku lebih betah berlama-lama disana.

Diesel hidup suaranya begitu kuat dari rumah kayu yang hanya dipisahkan dengan sepetak lapangan. Ia mulai menguasai atmosfir yang ada disekelilingnya ketika menjelang maghrib. Terkadang jam 7 malam baru bersuara. Hidupnya mesin itu, bertanda hidupnya listrik dipulau tersebut. Tanpa diprediksi, semua orang dipulau itu langsung mengecas HP dan memasak Nasi. Karena dua itu adalah potongan kehidupan yang tak bisa ditinggalkan. Jika hp mungkin hanya sebagian kecil saja yang acuh tak acuh untuk memakainya. Tapi untuk perkara yang selalu dikonsumsi perut, tidak bisa dipisahkan dari hidup.

Tidak seperti dipulau Terong, dipulau ini listrik hidup hanya dari maghrib hingga jam 11 malam saja. Setelah itu hanya bertemankan gelap. Jika ingin terang bisa mengandalkan senter. Ada beberapa rumah yang lampunya tetap nyala walaupun listrik telah padam. Ternyata mereka memiliki alat tenaga surya yang bisa merubah panas matahari menjadi tenaga listrik dan kemudian dimanfaatkan penerang bagi rumahnya disaat rumah orang lain gelap gulita. 

Jalan cor-coran memanjang di sisi lapangan. Melewati tiga rumah, salah satunya rumah Labib yang menjadi ruang singgahanku jika main kesana. rumah paling pojok diantara lainnya. Jika malam tiba, jalanan yang sering dilewati oleh para siswa dan siswi SD dan SMP itu sangat gelap. Untung saja warna jalanan itu tak segelap jalanan aspal.

 Sempat ada orang berinisiatif memanfaatkan tenaga surya yang sudah lama nganggur berdiri mematung didekat balai pertemuan. Begitu besarnya ukuran tenaga surya yang sebenarnya digunakan untuk memberi tenaga alat penyulingan, persis seperti alat salah satu olah raga, tennis meja. Pernah ada anak-anak bermain diatasnya. Berteriak, tertawa dan berlari-lari, hingga mengundang emosi orang yang melihatnya. Karena benda yang diinjaknya bukan sembarang alat. Tetapi barang yang mampu membuat listrik hidup.

Sayang sekali, barang itu tetap saja tak ada yang memanfaatkannya. Padahal pengadaan barang tersebut menghabiskan ratusan juta. Hanya dipakai beberapa minggu, setelah itu rusak. Mau dimanfaatkan sebagai listrik untuk penerang sepanjang jalanan gelap yang melewati rumah temanku, tapi hanya janji saja. Janji yang keluar dari salah seorang tokoh setempat tak kunjung dipenuhi. Sangat mubazhir barang-barang penyulingan itu. Minimal dimanfaatkan saja tenaga suryanya untuk penerang jalan. Karena selepas jam 11 malam akan gelap gulita. Minimal adanya lampu itu akan memudahkan para pejalan kaki sepulang dari laut untuk istirahat. 
Seolah adanya barang itu menjadi hiasan masyarakat sana tanpa ada arti. Sekalian saja membuat musium, “barang-barang yang tak dipakai”.

Sebagian masyarakat pulau Terong, kelurahan dari Geranting menyebutkan setiap alat-alat yang dipasang di pulau itu banyak yang tidak dirawat. Contohnya alat penyulingan. Dan masyarakat disanapun jika mencari ikan hanya menggunakan kapal Tingting, sedikit yang memakai boat. kapal ting-ting adalah sampan kecil yang hanya menggunakan mesin kecil sebagai pengganti dayung.


 Namun itu sekedar hanya penilaian dari beberapa orang dipulau Terong. Tapi jika diamati memang masyarakat Geranting mayoritas sedikit menggunakan enggine/mesin untuk pergi kelaut. Juga disana hanya mencari ikan-ikan kecil saja. sedangkan  masyarakat pulau Terong mencari ikan hingga keperbatasan Singapora. Tentunya hasil tangkapannya beda jauh dengan mencari dilautan terdekat.

Sebagian mereka menilai berkembang tidaknya melihat dari mata pencahariannya. Padahal jika dibandingkan dengan akhlak anak-anak disana jauh lebih baik dari pada pulau Terong. Malah beberapa orang menyebutkan anak-anak pulau Terong lebih nakal dari pada pulau yang lain. Aku begitu takjub melihat anak-anak Geranting ketika guru agamanya lewat. Menyapa dengan salam adalah sesuatu yang tak lepas dari aktifitas mereka. Begitu  juga sangat antusias jika ada program shalat shubuh berjama’ah di pagi ahad.
Bahkan pernah sekali aku bermalam, rumah temanku yang malam itu banyak anak-anak tidur disitu, bangun ditengah malam.

“Pak, nanti kalau tengah malam bangunkan kami ya, pak”. pinta salah murid madrasah kepada gurunya sebelum tidur.
Pada malamnya, bukannya yang dipesan membangunkan anak-anak, malah murid-murid yang membangunkan gurunya. Mereka shalat malam dengan diimami sang guru. Suatu ketika pernah tidur dimushalla ramai-ramai bersama murid. Ditengah malam sebagian murid bukannya tidur malah membaca Al-Qur’an. Sahut-menyahut dikeheningan malam yang syahdu dipenuhi suara alunan kalam suci, dari mulut-mulut hambanya yang baru menginjak dewasa. Benar-benar pemandangan yang sangat jarang, bahkan tidak pernah terjadi.

Hampir sebagian orang tua dipulau itu banyak yang menyekolahkan anaknya dipesantren. Ada di Jawa Timur, tapi lebih banyak yang dimasukkan pesantren yang dekat. Seperti  di pesantren El-Yasiin dan Qur’an Senter di Batam. Makanya ketika liburan sekolah, apalagi ramadhan, suasana dipulau Geranting semakin ramai. Ditambah juga anak muda yang kerja dan kuliah di Batam melengkapi ramainya liburan dipulau Geranting.

Sebagian wali murid mereka begitu sadar pengaruh dari pendidikan pesantren, sampai ada salah satu ibu pengajian disana mengatakan “Saya punya tekad pak, semua anak-anak saya akan saya masukkan kepesantren”. ucapnya kepada Labib saat berkunjung disalah satu rumah warga, yang juga memiliki anak-anaknya yang hampir selesai kuliah.

 Ibu itu memiliki anak-anak yang sedang menghabiskan masa kuliahnya di jurusan tafsir. Hanya beberapa semester lagi mereka akan lulus. Kemudian satu anaknya lagi menunggu lulus SMP, rencana akan di pesantrenkan di jawa. Semakin banyak anak-anak dipulau itu yang masuk pesantren semakin terasa pulau santrinya meski tidak/belum ada berdiri pesantren disana. Suasana islami dipulau ini begitu kental dibandingkan dipulau-pulau yang masih satu kelurahan. Paling banyak anak yang sekolah dipesantren hanya dipulau Granting saja.

 Begitu tentram rasanya jika tinggal dipulau tersebut. Perbandingannya begitu jauh dari pulau yang lain. Bahkan masyarakat disana bilang jika ada acara Islam, “ every thing  is good, way not. Jika itu bagus, kenapa tidak. Masalah dakwah disana banyak yang mendukung. Terlebih antusias ibu pengajian lebih besar dari pulau yang lain. Tak ada percecokan dari para tokoh. Semua satu kata untuk kebaikan. Bahkan pengajian ibu yang sudah terbentuk dua tahun lalu mampu membagi amplop pengisi materi setiap minggunya. Padahal di tempat lain seperti pengajian di Teluk Bakau, Pekasih dan pulau Terong tak ada yang seperti itu. Bukan aku dan teman-teman berharap adanya uang itu. Tapi ini sekedar menunjukkan bahwa pengajian disana lebih berkembang dan besar antusias dari pada ditempat lain. Apalagi untuk ukuran pulau,  jika jama’ahnya rutin memberi uang, bertanda bahwa pengajian itu berkembang dari pada pulau lainnya.

Apabila sudah memiliki besar minat pada warisan Nabi ini, kekurangan tempat dan kondisi disana,  bagi para pengajarnya tak menjadi halangan sama sekali. Akan tertutupi dengan cipratan semangat dari para peserta pengajian. Air yang susah, listrik yang hanya beberapa jam saja hidup dan fasilitas tempat tinggal yang masih jauh disebut ideal, itu semua justru menjadi seperti air bensin yang disiram ke api, semakin cepat besar dan tak ada yang mampu menghadang semangat.

Tanpa perlu memandang orang-orang yang hidup diatas kenyamanan, dan merasa bahwa ada yang lebih buruk dari keadaan dipulau itu, perjalanan mendidik orang pulau hingga setahun disana seakan mempercepat gerak waktu. Halangan dan hambatan itu pasti. Bedanya semua kekurangan itu dijadikan bahan bakar. Tugas disana menjadi pengalaman dan menambah wawasan. Bisa melihat manusia yang tetap memiliki semangat meski segala keterbatasan menghimpit.

Dari sini juga kami memungut hikmah dibangku kehidupan. Yang tidak dapat dibangku kuliah dimanapun. Justru mungkin akan lebih cepat membentuk mental jika langsung merasakan. Meski awal pahit, tapi karena pembiasaan berubah menjadi suapan pokok yang mampu menikmati perjalanan.

===Garis taqdir yang berlaku takkan membiarkan manusia tersungkur meratapi nasib. Tapi musibah yang terjejak dari taqdir  terkadang membuat manusia susah bangun dari ratapan terhadap nasib==



No comments:

Post a Comment