Sunday, 25 October 2015

Sela Hiburan Ditengah Kesibukan II (Selesai)


Jarum panjang masih menunjukkan jam setengah 9 pagi. Padahal aku, Anshori, Labib, Fahri dan Pak Wada'  sudah mengunjungi mercusuar dan menara disampingnya. tak heran, karena kami berangkat pagi-pagi sekali kepulau ini. Sebelum melangkah ke planning selanjutnya, kami sarapan didepan rumah yang sudah lama ditinggalkan tuannya. Kurang lebih 4 rumah yang dihuni oleh orang-orang yang kerja disana. 
Jika makan setiap harinya mereka dimasakkan oleh salah seorang Ibu dapur. Dan bahan-bahannya dibeli pada pulau yang tak jauh dari situ. Kira-kira ditempuh setengah jam dari pulau itu. Pekerjaan mereka hanya menyalakan lampu mercusuar. Terdapat listrik pribadi untuk mereka. Hanya orang-orang disitu saja yang listriknya sampai 24 jam. Dipulau tempat kami hanya 12 jam saja.

Selepas sarapan, hati ini sudah tak tahan ingin memancing dipelabuhannya. Tempatnya yang luas membuat kami leluasa mancing dimana saja. Persiapan pancing ala kadarnya. Bahkan aku hanya membawa 2 pancing serep. Jika putus, berarti tinggal dua serepnya. Jika putus semua, bertanda memancingnya selesai.

Saturday, 24 October 2015

Sela Hiburan Ditengah Kesibukan


Pulau Takong, Perbatasan Singapora, mercusuar, mancing, ikan Dingkis, berenang, Epo-epo
“Minggu besok ade acare tak pak?” Tanya salah seorang teman. Ia sering sekali bermain kerumah. Jarang kosong tangan jika ia sudah bermain. Sering sekali membawa makanan khas Melayu, seperti Epo-epo,  roti digoreng berisi kentang kecil-kecil dan makanan khas lainnya. Loyal sekali sama teman-temannya. Ia yang mengajar di sekolah SD Teluk Sunti itu, nyambi juga kuliah di Batam jurusan pendidikan. Saat itu ia tinggal menunggu hari wisuda saja.

“Kalau hari minggu kite kok ade acare, pak. Kosong”. Jawabku pasti dengan sedikit ikutan bahasa Melayu. Khusus hari ahad sengaja aku dan Anshori tiadakan kegiatan. Karena hari-hari sebelumnya jadwal padat mengurusi lomba cerdas cermat antar MDA Pulau Terong dan Pulau Geranting. Hari kedepannya lagi akan mempersiapkan acara besar pelepasan da’i. Turut mengundang ketua Baz Kepri, ketua Dewan Da’wah Batam dan calon ketua Baz Batam.

Tuesday, 13 October 2015

Roda dua Libur, Jalan Diukur II (Selesai)

Nelayan, mesin engane, Honda. Jembatan, Lomba Speed
Jalan lurus berpasir terbelah, memisah urutan rumah yang berada disebelah kiri, dan nampak kebun-kebun disebelah kanan jalan. Boat besar dari viber disisi rumah besar berpanggung menghadap laut, memiliki 3 mesin. Setiap mesinnya diatas 300 PK. Bisa ditebak pasti mengeluarkan banyak uang punya mesin boat sekuat itu. Anggine, orang-orang disana menyebutnya. Ukuran 40 PK saja harganya sudah hampir 40 juta. Itu saja sangat kencang untuk berlari diatas air. Apalagi sampai 300 PK. Jika dibanding-bandingkan dengan orang yang berada didarat yang menggunakan roda dua, para nelayanlah yang lebih kaya. Karena trasportasi sehari-hari mereka menggunakan mesin yang harganya lebih mahal dari pada transportasi yang dipakai mereka didarat.

Kurang lebih lima belas menit yang lalu kami melewati kebun dan hutan bakau. Kini kami melewati Rumah-rumah khas ala pantai. Bahan kayu menjadi menu wajib bagi ruang persinggahan rumah-rumah itu. Jembatan kayu tersusun rapih setiap rumahnya, menjadi penghubung antara “pondok-pondok idaman” dari daratan yang tak jauh.

Monday, 12 October 2015

RODA DUA LIBUR, JALAN DIUKUR I



Knalpot hondanya rusak, jadi belum bisa dipake”.

 Jawaban meluncur dari seorang ibu yang sudah berkepala dua keluar dari rumah.Tangannya  kosong mewakili jawaban yang disampaikan. Ia melewatiku, terhenyak dibalik senyuman berat sebagai balasan. Sebuah reaksi dari hal diluar dugaan. Dari sinilah “destinasi” perjalanan tertelurkan. Demi tugas suci yang tak boleh dilewatkan, dan meskipun berat hati  nyaris membabat niat tulus.

Suara kayu yang timbul itu mengikuti langkahnya masuk kesebuah rumah kecil bertutupkan papan triplek. Rumah baru itu beberapa hari telah selesai disusun. Ibu tersebut hanya menyampaikan pesan tadi dari suami yang terkulai lemas dikamarnya. Dari semalam badannya terserang demam, dan pagi tadi ia alpa mengajar anak SD di Pulau seberang.

Saturday, 10 October 2015

Pulau Hilang Sinyal (Pulau Geranting) II Tamat

Batam, Singapura, Kembang Api, Tahun Baru Masehi, budaya
foto diambil tepat di belakang Pulau Geranting saat dhuha dan laut sedang pasang
Orang pulau khususnya di kelurahan Pulau Terong biasa melihat penumpang membludak disaat 3 atau 2 hari sebelum tahun baru. Mereka lebih memilih banyak menghabiskan malam tahun baru di kota. Dan hendak melihat dengan jelas kembang api tanpa henti diluncurkan orang-orang yang merayakan dan meramaikannya. Ada juga yang hanya melihat dari pulau terdekat, yaitu Belakang Padang,  dekat sekali dengan negara yang terkenal ketat peraturannya, Singapora. Begitu banyaknya orang-orang pribumi pulau pada pergi ke Batam, sampai kata orang yang biasa menghabiskan tahun baru hanya dirumah, merasakan begitu sepi dari masyarakat pulau. karena berlibur tahun baru di Batam.

Dari dulu di negeri Singa itu ledakan dari kembang apinya lebih banyak dan menarik. Sampai ada beberapa orang Batam telah memboking tempat sepanjang pesisir pantai yang menghadap ke Singapora dua hari sebelum malam tahun baru, demi melihat meriahnya negara tetangga memainkan kembang api. Karena dari pantai itu sudah sangat tampak negara tetangga.  Dari gedung-gedung, hingga terang benderang lampu disana. Ternyata orang Batam yang pindah ke pesisir pantai bukan saja sekedar melihat. Malah seperti pengungsi, membawa peralatan tidur, juga tak lupa membawa pula hampir semua peralatan dapur. Duh...pengungsi petasan di malam tahun baru.

Wednesday, 7 October 2015

Pulau Sinyal Hilang (Pulau Geranting)


Hawa dingin meraba kesegala potongan tubuhku yang menyembul keluar dari selimut. Angin saat itu kencang sekali. Atap seng yang hampir lepas sahut-menyahut tarik suara. Tak mau ketinggalan ikut meramaikan suasana, yang saat itu bisa dibilang cuaca buruk bagi nelayan.
Melihat gejolak laut dari jauh saja rasanya seperti akan tumpah kedarat. Apalagi kalau menjeburkan diri ketengah ngerinya ombak, sama saja ingin bunuh diri.

Angin barat. Ya, biasa orang nelayan menyebutnya. Cuaca yang mungkin dikatakan tidak bersahabat dengan para nelayan. Dicuaca yang kuat angin tersebut para nelayan lebih baik tidak keluar mencari ikan. Selain mungkin ikannya susah jika arus bergelombang besar, ini juga demi keselamatan para nelayan itu sendiri.

 Jika melihat gelombang itu teringat ketika hangat-hangatnya peristiwa hilangnya pesawat MH 370 tanggal 8 Maret 2014Saat itu pesawat terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Pesawat tersebut jatuh dibagian selatan diperairan Samudera HindiaPerairan itu termasuk salah satu samudera terbesar ketiga didunia. Ganasnya lebih berlipat ganda dibanding perairan laut yang dipenuhi banyak pulau, walau dalam cuaca angin barat. Namun dengan alat canggih yang dimiliki Singapura mampu menemukan bangkai kapal yang berada didasar samudera dan terdapat beberapa mayat saja yang menempel. Selebihnya hilang terbawa arus samudera yang ganas. Padahal banyak sekali yang berada di badan kapal itu.

Sunday, 4 October 2015

Tenggelam dalam Obsesi II (selesai)

Menyusuri kumpulan karang, menghindari kubangan disela-selanya, dan waspada dari hewan yang dianggap berbahaya. Itulah perjuangan “Mengarung” dibibir  Tobe. Tobe ialah batas antara karang jurang laut. Tak mudah memang menyusuri daratan yang biasa tenggelam dengan pasangnya air. Meski kaki tak memiliki mata, ia harus dipaksakan melihat dengan cara dirasa, apa saja yang akan membahayakan, jangan sekali-kali diinjak. Bisa jadi menginjak ikan Lepu atau batu yang tajam. Sudah banyak korban Lepu. Tak main- main dengan racun yang dimilikinya. Jika tak kuat menahan efek racunnya bisa mengalami hilang kendali badan alias pingsan.

 Ikan lepu adalah sejenis ikan yang hidup dikarang-karang dan memiliki racun yang kuat. Terdapat duri diatas punggungnya. Karena warna kulitnya yang hampir sama dengan benda yang ada disekelilingnya, ia kerap susah sekali dibedakan. Jadi, gaya bertahannya sama seperti bunglon.

Friday, 2 October 2015

Tenggelam Dalam Obsesi


 
Dengan kencangnya kugerakkan gagang jaring tanpa ragu menyapu kepermukaan laut. Pancangan kaki diatas boat kapal harus menguat sambil badan mengikuti gerakan tangan, mengeksekusi penghuni laut yang terpancing.

Tak perlu pakai umpan sungguhan atau mainan memancingnya. Cukup dengan sinaran lampu pompa yang diletakkan ditempat yang sudah disetting sedemikian rupa, agar lebih mudah mengundang penghuni permukaan laut malam itu, dan kemudian menangkapnya.
Hanya menunggu 5-10 menit saja setelah lampu dihidupkan, jangkar dipancangkan, makhluk yang hidup tak jauh dalam laut akan segera muncul. Ia tertarik dengan lampu dikegelapan malam. Jadwal mencarinya saat tidak ada bulan, alias gelap. Disaat-saat seperti itu semalam saja orang bisa mendapat 7 kiloan.