Saturday, 19 September 2015

Tak Ada Kapoknya


Senja memperlihatkan kegagahan dengan sinar keemasannya. Memancarkan kesetiap sudut-sudut ruang. Keemasan itu semakin silau, tatkala musim penghujan belum masuk gilirannya. Silauan itu membuat siapa saja yang terbasuh dengannya. Termasuk remaja yang sempat mondar-mandir mengangkut kotak kertas dari pintu belakang menuju masjid.

Persiapan untuk mengadakan acara buka bersama, terhitung 3 jam dari waktu itu masih saja berlangsung hangat. Tangan-tangan berkekuatan muda mengiringi kesibukan yang terus berlanjut. Walaupun jalanan kearah masjid agak meninggi, tetap saja ditempuh seakan jalanan datar tanpa halang. Bebas tanpa hambatan. Begitu juga kosong perut dipenghujung hari tak mengurangi tenaga para panitia yang semuanya masih terbilang muda.


“Oiya, jangan lupa nanti terakhir setelah semua barang diangkat, bawa kertas daftar peserta buka bersama kemasjid.” Perintah pak ketua panitia kepadaku. Ia mengingatkan kertas yang berada didalam kamar tidur, siap tinggal dibawa. Kertas itu salah satu berkas tambahan dan termasuk bagian penting nanti untuk laporan kepusat, penyumbang dana buka bersama. Acara ini bisa dibilang sedikit terlambat. Karena hari itu sudah masuk di gerbang 10 akhir dari  dalam bulan suci. Dan akan siap-siap berkemas meninggalkan semua kaum muslimin.

Semua kebutuhan acara itu telah terpasang ditempatnya. Siap diterima para jama’ah yang sebelumnya menerima undangan, khususnya didahulukan anak mereka yang mengikuti MDA dan masuk pada jama’ah majelis ta’lim ibu Pulau Terong, serta jama’ah masjid.

Jama’ah sedikit demi sedikit mulai berdatangan. Dua posisi panitia stand bay disetiap sudut pintu masuk, dan harus meregistrasikan jama’ah (menulis nama dan tanda tangan) dulu ketika masuk. Acara dimulai setelah para jama’ah yang diundang datang semua.


***

Suara menggema tersangkut disudut-sudut rumah Allah. pengajian menjelang buka bersama itu terasa begitu khidmat. Terpanah semua mata ke layar slide power point yang terpasang. Menjadi daya tarik tersendiri adanya alat tambahan tersebut.

Kotak isi makanan berbuka dan aqua gelas mulai disebar. Mengingat 10 menit lagi akan berbuka. Ricuh tak dapat dihindar. Suara kasak-kusuk disana sini seakan memaksa cepat menyebar makanan yang dibawa pembagi.

“Pak, buka bersama dibelakang, ini ada tambahan makanan, sekalian nanti doa-doa”. Tawar salah satu jama’ah, yang sebenarnya dia diluar undangan. Ia jarang sekali kemasjid. Datang diacara itu dengan membawa makanan sendiri dan minta di do’akan. Memang do’a apa? Dimasjid ini kan masih ada buka bersama, kok malah ada acara sendiri?.

Kita tak tahu acara orang itu, dan untuk apa do’a yang ia minta. Panitia tak ada yang bisa mengikuti permintaan orang tadi. Hanya bapak-bapak yang berada didepan, pindah semua kebelakang karena permintaan yang tiba-tiba datang sebelum buka bersama dimulai. Kesibukan kita terhalangi adanya acara “ilegal” itu dan tak mau ambil peduli.

“Anaknya meninggal karena kecelakaan laut pak”. Kata salah seorang jama’ah setelah acara buka bersama usai. Walaupun badan dan pikiranku masih tampak letih setelah buka bersama tadi, tapi rasa penasaran ini masih saja muncul dari kabar salah satu jama’ah maghrib.

Ya, baru paham, do’a itu untuk arwah anaknya yang meninggal. Seperti menjadi tradisi bagi warga sana, jika ada yang meninggal dan masuk dihari bilangan tertentu, keluarga si mayyit mengundang orang-orang disekitar dan khususnya para tokoh untuk minta do’a. Disana terkenal dengan sebutan kenduri. Masalah seperti ini dalam Islam tidak pernah diajarkan. Jika memang ada ajarannya, tentu para sahabat dan orang-orang setelahnya melakukan itu dan menganjurkan mengamalkannya.

Sebagaimana ungkapan mantan penyebar hindu, jika ada orang yang mati, pada hari bilangan tertentu, seperti hari ke 20, 60, 70, bahkan sampai 100, harus membuat makanan dan mengundang tetangga untuk menikmati makanan yang sudah disediakan si ahli mayyit. Ini termasuk ajaran hindu yang masuk kedalam Islam dan menjadi tradisi kaum muslimin. Tak selayaknya kita mengikuti adat dan tradisi agama lain. Justru orang muslim akan hina melakukan tradisi orang kafir.

***

Anak jama’ah yang meninggal merupakan salah satu korban dari karamnya kapal. Kecelakaan yang terjadi hingga mengakibatkan banyak korban, khususnya wanita, ternyata kapal yang mengangkut para TKW adalah termasuk ilegal. Kapal kayu yang hanya cukup muatan kurang lebih 40 orang, tapi oleh sopirnya dilebihkan muatannya, hingga ada penumpang yang merasa tersiksa. Sebenarnya, kata salah seorang masyarakat disitu, para TKW membawa surat-surat lengkap untuk tinggal dinegeri tetangga. Tetapi pembawa merekalah yang menjadi petaka.

Meskipun kapal itu memiliki 3-4 mesin dan setiap mesinnya sampai 100 PK, tapi kalah jauh untuk berhadapan dengan kapal Malaysia jika nanti bertemu ditengah jalan. Sebab sudah menjadi peraturan mereka, bila ada kapal ilegal menerobos perbatasan Malaysia, polisi laut itu tak segan-segan menabrak kapal tersebut hingga karam.

Mereka tak mau tahu apa isi dari kapal ilegal. Mereka hanya menjalani peraturan yang berlaku disana. Kapal para polisi jelas lebih besar dan sangat cepat untuk mengejar para pelanggar. Lain hal dengan polisi Singapora. Mereka hanya menodongkan senjata bagi siapa yang melanggar dan kemudian dibawa kepemerintahan Singapora untuk diperiksa.

Berita seperti diatas sudah sangat dikenal oleh para warga sana. Beberapa Tekong (sopir untuk kapal laut) ada yang tidak kapok mendengar  kapal-kapal yang mencoba kabur dari pantauan marine malaysia. Walaupun kisah-kisah sebelumnya sampai banyak didapatkan korban mengapung dilaut dan menjadi mayat, tapi seakan hatinya telah gelap dengan mata pencaharian yang sangat membahayakan dirinya dan terlebih orang lain.

Salah seorang warga yang rumahnya dekat dari sekolah SD pulau Terong mengatakan sebelum kapal ilegal akan pergi, si tekong selalu kontak temannya yang melihat situasi laut, memberi kabar jika ada marine lewat. Dan kalau terlihat sepi, kapal itu langsung berangkat menuju pulau yang dituju. Ada orang dalam yang selalu stand bay menunggu perkembangan perairan yang banyak ditunggu marine. Terlebih daerah perbatasan Malaysia-Indonesia.  Jika saja marine mendapat kapal ilegal lolos dari pantauan, mereka akan tetap mengajar sampai melewati perbatasan Indonesia.

Marine negara tetangga sudah biasa masuk keperairan indonesia, apalagi untuk mengejar para ilegal yang berusaha kabur dari pantauannya. Muhammad Labib, salah satu teman kami, yang bertugas di pulau Granting bercerita, bahwa ia mendapat kisah dari warga tempat dia tinggal. Ia mengisahkan ada kapal besar membawa 3 mobil Singapora dikejar-kejar oleh marine sampai masuk kepulau Granting. Masyarakat di pulau itu belum banyak tidak seperti sekarang.

Si tekong sengaja menerabas dengan kapalnya sampai belasan meter masuk kedarat. Ia merapatkan kapal tersebut didaratan yang sepi dari warga dan kabur melewati hutan-hutan dan masuk kerumah salah satu warga. Ia dicari-cari hingga hampir satu minggu. Orang itu seakan lenyap. Tak ditemukan. Namun ia meninggalkan kapal beserta muatan yang berisi beberapa buah mobil yang bila dihitung kira-kira hampir 1 milyar. Marine bolak-balik dipulau tersebut seolah mereka berada dinegaranya sendiri. tak ada rasa ragu sedikitpun.

Kenapa semua marine negara tetangga seperti tak bersalah jika masuk keIndonesia? Bahkan dengan sengaja “membunuh” dengan menabrakkan marine kekapal ilegal Indonesia. Apakah polisi Indonesia diperbatasan tak menjangkau? Ataukah tidak mampu? Inilah yang menjadi pertanyaan selama ini. Negeri Singapora dan Malaysia, memiliki penjagaan yang super ketat. Bahkan membuat undang-undang sendiri demi amannya negeri mereka. Indonesia? Kita mungkin bisa sendiri menjawabnya. Justru malah sibuk dengan masalah internal. Dan lupa, bahwa harus ada yang dijaga.

Masalah mungkin sengaja dimunculkan oleh pihak asing. Lalu mereka akan sibuk dengan masalah internal. kemudian dengan mudahnya “musuh” masuk ke indonesia tanpa ada yang harus dilawan.
Hari ini memang jika orang ingin dapat uang cepat, sebagian mereka mengambil jalan pintas. Salah satunya menjadi tekong kapal ilegal itu. Namun ancamannya bukan saja harta atau benda, nyawapun siap terancam hilang. Sampai hari ini masih saja kapal-kapal itu mondar-mandir kenegara sebelah. Hanya tinggal menunggu kabar yang bakal orang akan menyayangkan perbuatan tersebut.

Jelas sekali dosa yang ditimbulkan dari pekerjaan itu. Ditambah dengan suatu saat penumpang menjadi korban. Ia seakan membunuh para penumpang lewat kerjaan yang dilakoninya. Namun, dari kisah sebelumnya juga, apakah para penumpang tak mau mengambil hikmah, agar menahan diri menjadi penumpang gelap walaupun secara surat menyurat operasional penumpangnya resmi tinggal disana? itu juga menjadi intropeksi para penumpang.

Kecepatan sampai disana tanpa harus ke Batam menggunakan trasnportasi yang resmi adalah salah satu yang tidak diinginkan para penumpang tadi. Maka sangat beralasan dari mereka tetap ikut dalam wadah yang ilegal. Pasalnya, tak setiap penumpang juga suka dengan yang prosedural, dan lebih tertarik pada yang instan seperti ilegal tersebut.

Dalam Islam, secara maslahat (kebaikan) dan mafsadah (keburukan) sangat dipertimbangkan. Jika sebuah pekerjaan yang maslahatnya lebih kecil, maka dia harus meninggalkan pekerjaan tersebut walaupun dilihat dari sisi keuntungan jauh lebih besar dari pada maslahat/kebaikan yang didapat. Dan begitu juga sebaliknya, jika perkerjaan yang mudharatnya lebih kecil bagi agama dan nyawanya, maka tak mengapa bertahan didalamnya. Islam sangat menghormati nyawa manusia. Jika satu orang membunuh, seolah-olah dia telah membunuh seluruh manusia.

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
Artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”. (QS. Al-Maidah: 32).

 Dan juga ada hukum qisshah dalam Islam adalah untuk menghukum dengan hukuman yang sama sebagaimana apa yang sudah dilakukannya.
Masalah sejenis mengenai ilegalnya kapal sebenarnya masih ada selain itu. Yaitu antar barang Singapora ke Indonesia. Kapal yang mengangkut adalah ilegal. Tapi mereka berani berhadapan dengan marine Singapora. Yang jelas tidak dengan tangan kosong. Mereka memperlicin perjalanan bisnisnya dengan sogokan uang setiap antar barang. Jadi kapal ilegal tadi tetap bebas seperti kapal legal dan resmi lainnya.

Sedikit banyak pemasukan dari pekerja itu sudah tak dapat diragukan. Namun, dalam Islam mata pencaharian yang selalu tersentuh system “memperlicin” atau bahasa yang familiar adalah sogok menyogok, sudah terperosok dalam lubang pendapatan yang meragukan. Jika meragukan, berarti hasil kerjanya sudah diujung garis haram.

Sedangkan dalam hadist disebutkan kalau sudah masuk syubhat, berarti masuk dalam lingkaran haram.
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada hal-hal yang syubhat (menyerupai halal atau menyerupai haram), Banyak orang tidak mengetahui hal-hal yang syubhat itu. Barang siapa yang menjaga diri dari yang syubhat maka ia telah membebaskan diri dari yang haram untuk agama dan kehormatannya, dan barang siapa yang terjatuh pada syubhat, jatuh pada hal yang haram”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam hadist yang lain disebutkan,
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ (رواه الحاكم(
"Rasulullah melaknat orang yang menyuap, orang yang menerima suap, dan orang yang menjadi pelantara keduanya.” (HR. al-Hakim/No.7068).

Kita memang ada yang bersanding dengan alam liar. Tapi kita diberi akal agar tak hidup dengan system  yang liar. Orang pulau memang biasa merasakan ganasnya ombak. Tapi mereka diberi akal agar tak hidup dengan sikap ganas, yang bekerjanya, mampu “memakan”  banyak nyawa manusia.
Semoga saja dengan banyak kejadian-kejadian yang telah berlalu mengikis rasa bebal mereka dari bertahan mencari penghidupan yang membahayakan jiwanya maupun orang lain.


No comments:

Post a Comment