Sunday, 6 September 2015

"Royalti" Yang Disegerakan II (habis)

cara mengetahui pencandu obat terlarang, tips mengetahui pecandu
“Mike waktu itu mau pergi kemana sama ibu?”. Tanyaku dilain hari saat istirahat tengah pelajaran di madrasah. Aku tanya ulang, karena ketika kusapa waktu bertemu di Batam, ia hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaanku, walaupun sebenarnya hanya basa basi saja.

“Waktu itu aku dan ibu nak tengok bapak dipenjara.” Jawabnya polos tanpa ada rasa malu. Tak ada tundukan kepala, tak ada muka kecewa, atau minimal menjawab dengan berbisik. karena saat itu  didekatnya banyak teman yang sedang bermain. Seolah ia menjawab kalau ayahnya hanya pindah dari pulau ke Batam. dan jawaban itu seperti menunjukkan jika masalah itu menjadi rahasia umum pulau tersebut. Aku mewajari, melihat dari anaknya yang mukanya selalu ceria, berseri. Dan masuk nominasi cantik, walaupun dia baru kelas 4 SD.


Dia seperti menjadi primadona di antara wanita sebayanya. Banyak laki-laki seumurnya, bahkan kakak kelas yang suka mengganggunya. Saling lempar tuduhan kalau si itu senang sama wanita yang masih SD itu. Meski dia salah satu murid dimadrasah yang pintar dan mudah hafal jika disuruh menghafal hadist, bahasa arab dan dan doa harian, disisi lain dia seolah mengumbar pesona.

Nampak sekali banyak laki temannya yang menggoda. Dan itu bukan karena selain dia cantik. Tapi dilihat seringnya bergaul dengan laki-laki dengan sikap yang lenjeh, dan ingin diperhatikan dengan lawan jenisnya.

Jika dihubungkan dengan pekerjaan orang tuanya sebagai pengedar narkoba dan kelakuan anaknya yang lenjeh, akibatnya banyak diganggu laki-laki, bahkan tak jarang dipeluk, hingga bila ada laporan aku beri hukum anak laki tersebut, maka pengaruh mata pencaharian bagi kelakuan anak dan istri sangat besar sekali.

Pengaruh terbesar didunia, do’a yang dilantunkan untuk mengetuk pintu langit takkan terpanggil. Seberapapun banyak do’anya dan waktu yang mustajab, Dia takkan mau menerima dari seorang yang makan dari uang haram, pakaian dari uang haram, dan semua apa yang mengiasinya dari hasil pekerjaan haram. Itulah royalti yang disegerakan, meskipun hari ini banyak yang tidak paham masalah seperti itu. Tahunya asal do’a, entah makanan halal atau haram, pakaian dari uang halal atau haram, dianggap tak memiliki pengaruh terhadap do’a.

Bapak dari wali murid yang mendekam dipenjara karena mengedar narkoba, adalah salah satu orang yang ditangkap pada malam hari saat itu. Hukuman pengedar lebih lama dari pengkonsumsi. Karena tingkat bahaya di ambil alih oleh pengedar, dari pada pengkonsumsi. Pengedar maunya bagaimana barangnya habis, sehingga harus mencari banyak pelanggan. Dan apa yang ia usahakan berarti dia akan menghancurkan masa depan seseorang. Kalau pengkonsumsi, dia hanya konsumsi untuk dirinya sendiri, tanpa mengajak orang lain.

Trik yang dilakukan pengedar mendapat pelanggannya agar setia membeli barang yang dimata masyarakat adalah sesuatu kriminal, yaitu gratis alias tanpa mengeluarkan uang sepeserpun sebagai bonus membeli barang pertama. Setelah pertama kali mencoba, pastinya akan kecanduan. Secara otomatis dia akan terus membeli. Jika tak punya uang berusaha hutang kepada siapa saja. Atau jika perlu menjual barang-barang berharga yang ada dirumah. Karena barang haram itu bersifat candu, maka pengedar memanfaatkan sifat obat terlarang itu. Walaupun ia rugi diawal, tapi setelah itu larut tanpa disadari,  orang yang diberi barang gratis diawal akan menjadi pelanggan setia, dan bersedia membayar mahal, berapapun harganya agar memenuhi hasrat candunya yang tak terbendung. Itulah efek buruk yang hampir masuk diujung garis final pengaruh terburuknya, yaitu kematian.

Sebenarnya para pemerintah sadar akan ancaman besar bagi para pengedar. Apalagi setelah pihak yang berwajib mendapati malam tahun baru 2015, barang haram hingga satu ton yang dibawa oleh kurir. Dengan tegas pemerintahan ini memberi hukuman mati bagi pemilik barang tersebut. Meski catatan pemerintahan baru itu memiliki banyak rapot merah, tapi dalam masalah kriminal tak segan-segan “royalti” mereka berikan kepada kriminal.

Contoh lainnya saat pencuri ikan dari negeri Vietnam tertangkap, tanpa pikir panjang kapal mereka luluh lantak dibakar. Sebagai pelajaran tidak akan ada ruang bagi para perampok ikan dilautan nusantara.

Mayoritas apa yang dilihat manusia adalah sebuah kejahatan, sebenarnya pada dasarnya sudah ada larangan dalam agama. Insting alamiyah manusia akan menolak. Karena hal itu akan membahayakan diri mereka. Jadi kecendrungan menahan diri dari melangkah kearah buruk lebih mudah. Tapi musuh dalam diri (nafsu) yang dihembus-hembuskan musuh luar takkan pernah rela menjauhi keburukan. Segala keterpaksaan ingin meraup dunia dengan singkat menjadi menghalalkan segala cara. Sehingga terburu-buru itulah membutakan mereka akan “royalti” yang selalu mengintai dimanapun mereka berada. Balasan yang bisa jadi menyambung dinegeri abadi, atau hanya ditimpa di alam yang  fana ini.


Royalti yang disegerakan? Tentu kita memilih double royalti kebaikan, untuk didunia, sekaligus  juga  di akherat.  

No comments:

Post a Comment