Tuesday, 22 September 2015

Masjid, Tangan Di Atas Tangan I

Masjid adalah rumah Allah. Diperintahkan manusia untuk memakmurkannya. Masjid akan baik jika struktur didalamnya baik. Terlihat indah, orangpun akan suka mendatanginya. Namun jika strukturnya buruk, hancur, terlihat awut awutan, jama’ahpun akan melihat sebelah mata dengan masjid tersebut. bisa jadi malah mengurangi semangat mereka untuk mendatanginya.

Pertama kali melihat masjid satu-satunya yang besar dan memanjang diseluruh kelurahan pulau Terong, begitu sejuk melihatnya. Diramaikan dinding-dinding diatasnya dengan ornamen kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Allah. Kilatan pantulan cahaya keramik memenuhi lantai hingga tak memberi kesempatan sesenti pun tanpanya. Hanya bagian depan saja ditutupi dua karpet memanjang kesudut-sudut ruang.


Rindangan pohon sekitarnya membuat rumah Allah itu makin terasa sejuk. Ditambah penampung air yang berada di belakang, mampu diisi hingga puluhan drum jika hujan telah turun. Kata salah satu jama’ah, pembuat atap masjidnya sangat pandai. Ia memasang selang/paralon disegala penjuru masjid dan dihubungkan pada satu titik. Yaitu penampung air yang terletak dibawah lantai masjid, luasnya setengah dari masjid ini. terhitung dari pertengahan  sampai kebelakang.

Luasnya atap masjid, membuat debit air semakin banyak menampung ke drum-drum.  Sudah banyak rumah semacam penampung air yang dikumpulkan dari atapnya. Semakin luas atap yang dimiliki, maka semakin banyak air yang masuk kepenampungan.

Jika musim kemarau, masjid ini masih sanggup menyimpan air dengan jumlah yang banyak. Bahkan aku yang tinggal tak jauh dari masjid itu sering mengambil airnya. Tak ada sumur maupun sumber air dekat bangunan tersebut. Ia hanya mengandalkan dari hujan. Tetapi sekali hujan deras beberapa menit saja, sudah cukup menampung puluhan drum.

Tak jauh dari teras masjid berpagar bagian selatan, disajikan garis horizon laut, dan siluet gunung menebal pemandangan yang kian indah memenuhi mata. Anginpun tak sungkan-sungkan berhembus diteras yang berkeramik itu. Karena daratan rumah Allah dipulau tempat kami berada lebih tinggi dari jalan bawah pinggiran bibir laut.

Walaupun masjid terlihat besar dari luar, dan memanjang, namun masalah-masalah dirumah Agung itu mulai tampak. Tanpa harus disembunyikan, sepertinya akan terlihat sendiri. apalah salah masjid tersebut. Ia hanya bangunan yang patut dihormati dengan dimakmurkan. Kenapa harus mengikuti beban orang yang menghuninya yang tak jelas akan tanggung jawab?

Papan pemasukan dan pengeluaran terlihat lengang dari tulisan. Menggantung jauh kebelakang. Nampak sisa-sisa spidol, guratan tulisan lama. Dulu huruf-huruf mewarnai kata matematika sempat singgah dipapan kecil itu. Sekarang hanya menggantung tak berdaya. Tidak ada yang menyentuhnya apalagi menyinggungnya. Jama’ah mantan pengurus masjid bilang semenjak pemegang masjid itu pindah ke kepala ta’mir yang baru, segala aktifitas jadi agak berkurang dan strukturnya ikut berantakan.

Papan tersebut menjadi saksi bisu. Dahulu ia biasa diisi dengan catatan. Sekarang, hanya melihat uang-uang hasil kotak infak langsung dibawa pulang tanpa ada laporan.
Setiap jum’atan selesai, acara menghitung uang dimulai. Isi kotak itu, setiap jum’at dimasukkan kedalam kresek hitam dan dibawa pulang langsung oleh ketua ta’mir. Disisakan sedikit rupiah untuk pengkhutbah jum’at waktu itu. Namun sayangnya, semua pengeluaran dan pemasukan sama sekali tak ada laporan.

“Saya sebagai bendahara masjid, laporan keuanganpun tak tahu. Sampai sekarang tak pernah sepeserpun megang uang masjid”. Ungkap salah satu pengurus, menguak keganjilan yang mulai tampak dipermukaan.

Lalu, apa gunanya pengurus yang lain, jika semuanya dikendalikan oleh ketuanya saja? Yah, minimal bisa membuat proposal yang lebih rasional agar bantuan-bantuan tetap ngalir”!.  Formalitas yang membawa petaka bagi struktur!. Ujung-ujungnya masjid yang tak bersalahlah yang menjadi korban.

 Dari sini minimal adanya laporan tertulis, apalagi ditulis di papan pengumuman, agar jama’ah tahu, pemasukan dan pengeluaran, kemudian mereka tak berprasangka buruk kemana uang tersebut pergi.  Memang saat itu ketua ta’mir sering memberitahu lewat  ucapan. Tapi hanya sekedar lewat lisan pastinya belum mencukupi. Kalau seandainya ia beri tahu kesetiap jama’ah, bahwa uang-uang itu dihabiskan untuk keperluan masjid, tapi hal itu apakah cukup? Apa sanggup ia bilang kesemua orang, satu persatu ke jama’ah bahwa uang digunakan untuk kemakmuran masjid?

 Maka adanya laporan tertulislah semua itu sudah mewakili. Dan juga orang yang rutin infaq dimasjid itu akan merasa nyaman, karena pemasukan dan pengeluarannya transparan.


***


Belakangan ketua ta’mir memiliki saudara-saudara yang tak jauh dari rumahnya, bahkan menjadi tetangga rumah. Namun orang tak dapat menyangka dengan apa yang terjadi. Jika orang saja membela-bela diri untuk silaturrahim walaupun perjalanan jauh ditembus, hanya untuk bertemu saudara yang masih ada ikatan darah. Namun tidak untuk ini. Memang jaraknya hanya dihalangi satu rumah, tapi seolah jarak mereka antara langit dan bumi. Susah ditempuh antara kedua hati yang tali ikatan darah masih mengalir dalam tubuh mereka.

Pemegang masjid saat itu, dan mungkin sampai saat ini, memiliki kakak kandung. Dan sebelum adeknya ini memegang kendali masjid, abangnyalah sebagai ketua sekaligus  penggerak dalam memakmurkan masjid. Jama’ah banyak mengakui dengan suasana begitu terasa makmur. Jama’ahpun ramai memenuhi setiap 3-4 shaf shalat 5 waktu. Ditambah lagi struktur yang rapi dan penuh tanggung jawab.

Kenapa mantan ketua tersebut sudah absen kerumah Allah?
Kesehatan saya mulai terganggu tahun-tahun ini pak ustadz, jadi saya jarang kemasjid. Begitu juga beberapa minggu sekali harus cek darah dan badan dengan rutin ke Malaysia. Kaki ini susah digerakkan dan sering keram, berjalanpun tak bisa jauh-jauh”.  Dia menunjukkan kaki yang bengkak, dari dengkul hingga ujung kaki. Itulah penuturannya sendiri saat kami silaturrahim ke rumahnya.

Pernah awal-awal minggu ketika kami datang dipulau, ia memaksakan diri shalat jum’at. Tergopoh susah payah berjalan setapak meninggi menggunakan tongkat. Namun semenjak kesehatan berkurang, ia sudah absen datang kemasjid.

Patut disayangkan darinya adalah anak-anaknya yang terbilang paling banyak dipulau, tak ada satupun yang mau singgah untuk shalat jama’ah. Berawal dari adeknya yang menjabat sebagai ketua ta’mir, semenjak itulah mereka absen berjama’ah. Saya dan orang baru disana menaruh husnudzhan mungkin mereka memiliki kesibukan sendiri sehingga tak sempat shalat dimasjid.

Mantan ketua ta’mir mengatakan bahwa ia berhasil membiayai semua anaknya menjadi “orang”. Mayoritas masuk PNS. Tidak seperti adeknya tersebut. Hampir semua anaknya tak ada yang “betah” dirumah. Ada yang memiliki salon di Malaysia. Ada satu dipulau pun mantan terserang virus gandrung dengan obat terlarang.

Anak-anak dari abangnya akan shalat semua kemasjid hanya jika saudaranya yang menjadi ustadz besar di Malaysia datang, dan memberi nasehat dalam pengajian. Beliau termasuk orang yang dihormati di negeri Jiran, hingga jama’ah yang disana melarang kembali pulang ke asalnya. Agar sedia menyampaikan ilmunya dengan terus menerus.

Saat diminta untuk menetap di Malaysia, Dia yang sudah bergelar Prof dan DR. Ini meminta satu syarat. Yaitu dibuatkan bangunan MDA (madrasah diniyyah awwaliyah) di pulau Terong.  Adanya itu adalah loncatan awal membangun akhlak yang baik kepada anak-anak Pulau dimana beliau dibesarkan. Dan aku termasuk pengajar anak-anak disana dan berusaha menyelamatkan akhlak mereka dari akhlak yang buruk.

 Sayang, penghormatan akan ilmunya itu hanya terjadi di negeri tetangga. Namun untuk tanah kelahirannya, justru sedikit yang menghormatinya. Bahkan sebagian mereka membencinya, hanya karena masih keluarga dan loyal terhadap abang yang mantan ketua ta’mir dan juga dahulu mantan RT.

***

Penyakit Malaria Tropika, pengaruhnya sangat besar terhadap kelakuan dan perasaan korban. Begitu kata dokter melalui mulut seorang yang sampai saat ini menjabat ketua ta’mir. Pengakuan dari dokter itu sejalan dengan sikap perasaan yang mengganggu jama’ah masjid tersebut.

Jama’ah yang dulu sering rutin datang, sedikit demi sedikit rontok meninggalkan masjid. Sebagian memang kesibukan mereka, dan sebagian besar mungkin akibat perasaan dan sikap yang muncul dari penyakit itu.

Menjadi semakin kontras saat serakan bukti kami temukan dari satu, dua, tiga jama’ah membagi sepotong kisah. Bak kepingan puzzle yang hampir terpasang semua.
“Pak haji itu angin-anginan pak. Jangan terlalu diambil semua omongannya. Sekarang bilang “Semua anak boleh datang kemasjid”. Tapi dua, tiga hari lagi bilang, “Anak-anak ini kalo datang kemasjid ngotorin lantai aja”. Omongannya gak bisa dipegang. Jadi jangan terlalu berharap.” Begitu jama’ah menjelaskan sifat murni ketua masjid.

“Waktu dulu banyak jama’ah dan juga tokoh shalat dimasjid, tapi mereka sekarang lebih memilih shalat di Surau yang jaraknya lebih jauh. Itu lebih baik bagi mereka dari pada berhadapan dengan ketua masjid setiap shalat.” Ungkapan jama’ah sekaligus pengurus yang terus mencoba bertahan dengan berbagai kekurangan pemegang masjid tersebut.

Bapak itu pernah dimarah, karena drum untuk wudhu pernah tak penuh. Juga menyelipkan sedikit sobekan sampah ke bawah karpet masjid. Padahal beliau sama-sama tua. Tua satunya seperti memarahi anak kecil yang nakal. Tak pandang bulu siapa yang dimarahinya.”. Kenang jama’ah yang sampai saat ini terus bertahan. Dan sambil menunjuk kesalah satu jama’ah yang masuk usia tua.


“Dasar anak-anak syetan”. Cela ketua Ta’mir melihat anak-anak membawa bola masuk teras masjid. Mengusir anak-anak dari tempat itu dengan geram. Padahal bapak salah satu anak yang dimarahinya ada disitu dan mendengar celaan yang sangat mungkin mengandung do’a. Bagaimana nanti kalau memang celaan itu terkabulkan, mengubah anak itu berprilaku syetan, atau celaan tadi mantul ke pemilik kalimat, mengubah perilakunya menjadi buruk?

Bersambung.....

No comments:

Post a Comment