Saturday, 26 September 2015

Masa Kelam Itu Tersingkap



Keindahan yang selalu tersimpan alamnya, masih saja menjadi hal yang dapat dirindukan. Tak ayal, dengan keindahan pulau Terong, dahulu sering didatangi kerajaan dan menjadi tempat wisata mereka. Terkadang diadakan acara-acara perlombaan untuk menyambut raja yang berwisata kepulau yang termasuk pada perbatasan kabupaten Karimun itu.

Namun dibalik keindahan yang disuguhkan melalui alamnya, ternyata menyimpan kegelapan yang sedikit orang menyadarinya. Memang tak dapat dipungkiri, daratan yang banyak dikuasai oleh hamparan laut itu sering diganggu dengan keberadaan makhluk ghaib yang sebenarnya haram campur tangan mereka kealam manusia.


Mudahnya mereka mengganggu manusia yang berdomisili di pulau, disebabkan singgasana mereka sangat dekat dari tempat tinggal manusia. Ya, Rosulullah mengabarkan kepada kita, bahwa mereka menempati diatas laut. Bahkan sebagai dijadikan singgasana mereka.

Rosulullah bersabda: Sesungguhnya singgasananya iblis berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. ((HR. Muslim 2813).

Kisah ini mungkin membuat sebagian orang merasa merinding mendengarnya. Sebuah perbincangan yang entah sampai hampir tak disadari menemukan pengalaman ini.

Malam itu.....

 Sayup-sayup terdengar alunan anak remaja mengaji dalam dekapan suasana malam ramadhan. Gelapnya malam dan tak sepi diramaikan dengan bintang bertaburan, sekaligus menyapa lautan tenang dengan cahayanya. Bayangan gelap, kokoh, besar dan menghadang sebagian lautan.  Pulau yang tak berpenghuni menjadi tempat gelap, tanpa lampu setitik pun. Hanya cahaya bintang menerangi sebagian. Itupun tak menyeluruh. Tak jauh dari kondisi alam lautan dimalam itu, empat sosok manusia berada diteras rumah.

“Beberapa tahun lalu bapak kami terkena penyakit aneh. Tak ada sebab, tiba-tiba seluruh badan kerasa gatal, kakinya bengkak, badan membesar dan susah bergerak”. Ia Mengambil jeda untuk menghela nafas. Seorang wanita dari 20 anak bersaudara, entah urutan keberapa ia menduduki keluarga tersebut. Ia sedikit banyak mengetahui apa yang dialami ayahnya dulu.

“Kami sempat membawanya kerumah sakit kemana-mana”. Ia melanjutkan kisahnya. “Tapi seperti tak membuahkan hasil. Akhirnya kami bawa ke Malaysia, dan sempat dibawa ke paman kami, adek bapak yang menjadi ustadz besar disana. Prof. DR. Abdullah Yasin namanya. Diberi air yang sudah dibaca ayat-ayat pilihan, kemudian diminum, kendati perawatan dari dokter masih tetap berjalan.” Suara lirih mengiringinya.

Anshori, yang duduk disampingku terlihat asik mendengarkan kisah itu. Walaupun belakang, ia tak suka dengan kisah-kisah yang berbau seram, apalagi menonton film horror. Teras depan rumah yang berbahan kayu, dengan model rumah panggung, saat itu menjadi terbawa suasana dari kisah yang masih saja mengalir ditelinga kami.

Padahal, awal kami datang sekedar silaturrahim setelah shalat tarawih, hanya ingin obrolan ringan. Namun perbincangan masuk melenceng ketika temanku menuturkan, bahwa beberapa hari ini banyak yang ingin di ruqyah. Berawal dari tetangga dekat kami mengalami kesurupan. Anak dari seorang janda yang mengamuk dan sempat membakar bawah pohon kelapa yang didekat rumahnya. Sesekali menunjuk-nunjuk kearah rumah pemilik pohon tersebut sambil mengeluarkan kata hinaan.  Ia merasa tak terima jika ayahnya dulu yang meninggal, dianggap menjadi tumbal ketika pergi mencari kayu di pulau seberang.

Ayahnya beberapa tahun silam terkena musibah. Yaitu ketika kilatan petir menyambar sebuah gubuk kecil yang sedang dihuni tiga orang. Akibatnya dua orang lumpuh, dan satu meninggal. Korban yang meninggal, jasadnya gosong, hangus, dan susah dikenali. Dan dua korban lainnya yang masih selamat, mereka lumpuh.  Dan salah satu dari korban yang mengalami kelumpuhan adalah saudara kandung dari wanita itu. Adapun seorang yang meninggal merupakan bapak dari orang yang kesurupan dimalam ramadhan saat itu.

Dari kejadian inilah ibunya menjanda, dan anaknya merasa tak terima dengan kematian bapaknya. Ditumpahkan rasa kesal pada tetangganya sendiri yang bapaknya pernah bekerja disana. Melihat marahnya yang over, bisa ditebak saat itu ia telah dikendalikan oleh syetan. Menjerit-jerit, melepas baju, memukul jendela rumah hingga melukai tangan sendiri. Suara yang terdengar sampai jauh, menjadi magnet bagi siapa saja yang ingin tahu. Hingga beberapa temannya datang menenangkannya.

Saat itu kami dengan beberapa remaja sedang i’tikaf dimasjid. Terdengar sekali teriakan itu karena kejadiannya persis disamping masjid. Tak lama keadaan meredah. Anshori dipanggil teman dari pemuda itu yang berada ditangga bawah masjid. Saat kondisinya sudah stabil, Ia Berbincang-bincang dan memberi nesehat agar tidak terjadi seperti itu lagi. Menyuruh selalu istighfar, dan membuang segala benda yang selama ini diyakininya memiliki kekuatan. Terakhir, ia meminta air mandi dan minumannya agar dibacakan do’a-do’a yang sesuai dengan petunjuk Nabi.

 Entah lewat omongan yang terdengar dari telinga ke telinga, tersebar seperti berita kalau ada orang yang bisa menyembuhkan penyakit. Termasuk ketelinga yang tak tahu kalau dia “Rasul” utusan syetan.
“Jangan Ustadz”. Larang wanita berkerudung malam saat kami berbincang-bincang diteras rumah. Disampingnya ditemani abangnya, yang sekitar 4 tahun diatasnya. Ia melarang menerima pakaian yang diberi dari orang yang tak jelas. Pasalnya, bapak wanita itu terkena “kiriman” adalah dari sebuah topi yang sering dipakainya.

 “Ustadz seharusnya tanya-tanya dulu, kalo misalnya ada sesuatu yang ustadz anggap aneh.” Usul  abang perempuannya yang berumur hampir 35 tahun. Ia pengajar di sekolah dasar yang tak jauh dari rumah.

“Iya ustadz, soalnya dulu disini banyak paranormal. Alhamdulillah sekarang udah berkurang. “ tambah adek perempuannya mantap.

“Kemarin ada orang dateng kerumah buk, waktu kita duduk diteras. Orangnya udah tua.  Ibu itu cerita sering ngeliat benda-benda aneh yang masuk keminuman anaknya. Itu dikasih sama suaminya sendiri, entah niatan mau mencelakai atau main-main aja. Lalu ibu itu berdoa yang saya gak pernah denger  apa yang dia bacakan”. Kata Anshori dengan wajah yang serius.

“Kemudian katanya, benda-benda aneh itu langsung hilang dari dalam minuman. Itu terjadi setiap mau makan dan minum.” Anshori menghentikan kisahnya, dihadang dengan pertanyaan.

“Siapa tadz nama anaknya?” dahi mereka melipat, saling tanya, perempuan didepanku dengan abangnya.
“Nama anaknya MS pak, yang ngajar di dipulau Granting”. Ucap ku memberi tahu.
Mereka berdua mengangguk, langsung tahu apa yang kami katakan. Sebab adek kandung mereka satu sekolah dimana MS mengajar.

“Perempuan itu dulu pernah minjam topi bapak saya tadz, terus tak lama setelah itu bapak langsung sakit, kakinya bengkak, tak bisa jalan. Yaa, sebelumnya tak tahu untuk apa. Baru sadar setelah bapak sudah sakit. Dia seorang dukun tadz.” Wanita itu mendengus kecil. Seperti ada kejengkelan menyerang.  Ia mungkin teringat lagi saat bapaknya yang sakit tak wajar. Siapa yang suka di “dikirimi”penyakit seperti itu. Bahkan jika pengirim ditanya, mau tidak merasakan kirimannya sendiri? Tentu menolak.

“Sempat ibu itu meminta minuman yang dibacakan do’a dimasjid. Ya.... kami nurut aja. Sebagai tanda terima kasih, dia ngasih kami pakaian satu tas. Sekarang masih ada dikamar”.  Wajah Anshori menegang.  Memperbaiki duduknya. Tampang seriusnya keluar.

“Awas tadz, jangan dipakai, mending langsung dibuang aja, atau dibakar, takut kalo terjadi apa-apa.” Wanita itu memberi inisiatif.

“Ialah buk, kita juga gak tau, mungkin pakaian itu udah dikasih sesuatu, atau dibacakan sesuatu. Besok langsung kita bakar aja.” Anshori menyetujui inisiatif yang diberi ibu itu.

“Orang-orang yang kayak gitu udah pada pergi tadz. Dulu mereka ada banyak. Tinggal ibu tua itu aja yang masih di pulau ini. Juga dia jarang keliatan, seringnya kepulau Takung.” kata ibu itu memberi informasi.

Takung ialah sebuah pulau yang berada diperbatasan Singapora. Disana ikan-ikan besar mudah sekali didapat. Kedalaman lautnya yang hingga 1000 meter, menjadi sarang ikan-ikan jumbo dan jenis ikan besar lainnya. Kata warga pulau Terong, disana termasuk peraiaran yang ramai. Jalan besar bagi kapal-kapal besar. Satu jam saja kapal-kapal itu lewat hingga 30 kapal lebih.  Sebagian nelayan pemburu ikan besar, Takung menjadi tempat istirahat yang didambakan. Riak ombak selalu menemani mereka. Sebab kapal-kapal besar selalu melewati perbatasan Indonesia-Singapora.

Terdapat satu pulau lain yang tak jauh dari persinggahan para nelayan itu. Banyak nelayan yang mengatakan, konon ada mayat orang cina yang dikubur dipulau tersebut. Sebagian orang yang pernah kepulau Takung pernah melihat hantu. Yang katanya roh dari mayat itu. Padahal kalau dipandang dari segi agama, mana mungkin orang mati rohnya masih berkeliaran dialam manusia. Kemudian bisa menakut-nakuti siapa saja yang ditemuinya.

Masih banyak orang tak paham dengan agama mereka sendiri. Khususnya orang pulau. . Pulau yang dihuni satu kuburan cina dekat pulau takung itu tak ada para nelayan yang singgah, meski  sekedar melepas penat dari mencari ikan. Mereka hanya langganan singgah di pulau Takung, tidak dipulau yang lain.

“Dulu sebenarnya banyak orang yang tinggal disana.” Wanita berkerudung kecil  itu melanjutkan ceritanya. “Tapi karena suka di “kirim” sama dukun yang tinggal disana, jadi mereka gak ada yang betah, tadz. Sekarang cuma keluarga orang itu aja sepertinya yang disana. Orang yang tinggal disana selain keluarganya dibuat ribut sama keluarganya sendiri ”. Ia menarik nafas kecil, membenarkan ujung kerudung.

Aku sedikit senyum getir. Begitu tega sampai membuat orang tak tenang siapa saja yang ada disekelilingnya. Orang yang sudah jauh dari Allah, Dia jadikan syetan sebagai temannya. Apa yang ia inginkan, dituntun dengan syetan. Segala aktifitasnya selalu diwarnai dengan bisikan teman barunya itu.

Orang seperti itu adalah “Nabi” bagi syetan. Menyampaikan dari atasannya segala kebohongan, kemudian disampaikan ke orang-orang. atau menerima pesanan orang,untuk melukai tanpa ada yang tahu dari jarak jauh.  namun hidup “Nabi” kesehariannya lama-lama seperti orang terasing.

 Aku saat melihat wajah ibu itu penuh dengan kabut tebal tak bersahabat. Dan aku perhatikan selama dipulau, ia menghindari jalanan yang selalu dilalui orang.  Itulah yang kudapat melihat dukun yang tersisa di pulau Terong. 

Percakapan malam itu berakhir. Namun menyimpan selembaran “takut” menyelip di sudut hati.  tapi sedikit banyak tersingkap juga masa lalu pulau yang ternyata penuh kelam. Kehadiran kami yang belum genap sebulan, tak menyangka harus mendengar masa kelam daratan yang akan lama kami singgahi. Apalagi barang yang mungkin sebagai “kiriman”  masih berada dirumah singgah kami.  Membuat suasana seram makin menguasai saat itu, padahal masih dibulan ramadhan.

Perbincangan semalam membuat kami mengatur materi mingguan. Khususnya seputar aqidah. Agar para ibu mempertebal keimanan dari godaan syetan. Dan juga agar para orang tua menyampaikan kepada anak-anak mereka. Karena syetan sangat mudah masuk disaat benteng melemah. Dan tak seharusnya percaya dengan para normal yang sebenarnya mereka bukan orang normal. cacat dalam aqidah. Mereka diangkat menjadi “nabi” utusan iblis.

Masa kelam itu tentunya menjadi bahan renungan. Renungan yang berubah menjadi salah satu perencanaan. Demi melindungi iman masyarakat pulau dari salah satu dosa besar. Jangan sampai mereka nekat medatangi dukun, bagaimanapun bentuknya. Karena Allah akan menolak shalatnya selama 40 hari. Apalagi meyakini apa yang mereka katakan.  Maka akibatnya akan lepas keimanan yang terpakai selama ini di hati mereka.
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim no. 2230). 

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan).





No comments:

Post a Comment