Wednesday, 19 August 2015

Taubat, Pengubur hina pembangkit mulia


Taubat, Fudhail bin iyadh, cahaya taubat, berserah diri, sinyal hidayah
Tak ada yang mampu merubah dirinya dari pekerjaan kotor itu. Bertahun-tahun ia menyelami kejahatan yang sangat ditakuti bagi para kafilah. Apa yang mereka bawa harus rela diberi dengan Cuma-Cuma dibawah bayangan ancaman, antara kematian atau cacat seumur hidup. Kehidupannya semakin kelam. Hingga terkenal namanya, bukan karena ada kebaikan dari pemilik nama, tapi ukiran buruk melambungkan namanya didaerah itu.

Selalu saja kafilah bergegas melewati daerah antara Abu warda dan Sirjis. Karena disitulah biasa mangkalnya pemotong jalan. Tentunya mereka tak ada yang mau rugi harta mereka dicuri. Dan tak ada pilihan lain selain mereka harus bersegera jika melewati tempat itu.


Namun, tempat segelap apapun akan ada setitik cahaya. Sebuah cahaya direlung hati seorang yang masih mengaku mukmin. Padahal dari tangannya itu tak sedikit menjadi korban dari nafsu yang menguasainya. Tapi cahaya itu seperti bereaksi dengan sebuah perkara yang suci. Saat tragedi yang tak dia kira. Untuk mengikuti nafsu dengan cara lainnya. Ia terpikat seorang wanita. Namun disaat nafsu menuntunnya, salah satu penangkap sinyal kebenaran mengalir syahdu di pintu telinga. Alunan suci itu masuk, ke dalam ruh, yang hidupnya seakan digariskan sebagai pelaku kejahatan hingga akhir hayat.

Fikirannya memproses, berusaha keras mengungkap makna dari sebuah pesan. Bahkan lebih dari sebuah pesan. Alunan itu menjerat semua gerakannya menuju keinginan nafsunya. Ia bergeming beberapa saat. Semakin lama tubuhnya bergetar hebat. Efek lebih dari sebuah pesan yang dengan mudah didengarnya menjadi peringatan. Cahaya kecil yang jauh dalam lubuk hatinya semakin membesar.

Pesan yang ia terima dari alunan itu menjadi peringatan yang ia rasa hanya tertuju padanya. Maka tak ada tindakan yang lebih baik dari itu selain menuruti pesan dari kalam suci.

“Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna meningat Alah serta tunduk kepada kebenaran yang tleh turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq (QS Al Hadid 16).

Ia menyambut panggilan itu, menandakan siap membuang semua apa yang sudah dia kerjakan selama ini. Kini, cahaya itu telah mampu menerangi hatinya. Sejak awal ia merenung kalam dari Ilahi. Ia berkata: “Tentu saja wahai rabb ku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).

Taubatnya merubah segalanya. Lembaran kelam telah Ia tinggalkan. Tak sedikitpun ia tega untuk menengok kebelakang. Ia buka lembaran baru, dan selalu menatap kedepan dengan kesungguhan, mengalahkan ketaatannya dengan orang muslim lainnya. dari kesungguhan itu mengantarkannya menjadi salah seorang ulama yang disegani bukan karena dulu ia sebagai mantan perampok. Tapi kini ia disegani dan terkenal karena ilmunya.

Taubat berawal ayat yang didengarnya, mampu menggerakkan otot-otot pikiran dan tekad yang kuat dalam menggapai ampunan-Nya. Taubat yang tulus, tak peduli seberapa kelam manusia jatuh kejurang maksiat, dapat ditolong dengan luasnya ampunan Sang maha Pengampun. Ternyata dirinyalah yang bisa merubah diri sendiri. Bukan orang lain atau lewat orang lain. Itu selainnya hanya perantara, sedangkan penentunya pada keputusan dalam diri. Tak ada paksaan mengikuti petunjuk-Nya.

Ia telah mengubur kenangan hina diliang taubat. Ia telah berdiri menjadi manusia mulia. Mengubah hidupnya tanpa ada celah penyesalan untuk kembali ke masa lalu. Semuanya ia buat menjadi penghambaan totalitas, tidak setengah-setengah. Dan menjadi jajaran manusia yang banyak dipetik hikmah, baik dalam keilmuan maupun jejak rekam kehidupannya.


Taubatnya, menuntunnya membawa kemuliaan.

No comments:

Post a Comment