Tuesday, 11 August 2015

Serius dan gila II (habis)

gila karena setres, berbicara tak nyambung, otaknya rusak, sinting
Dikelilingi pagar-pagar kecil yang bisa diloncati oleh orang dewasa. Bangunan yang berlantai keramik itu berada ditengah-tengah rumah warga. Kutanyakan pada salah seorang remaja yang bersama kami, katanya bangunan yang biasa orang sini menyebut “balai pertemuan” itu, digunakan untuk acara nikahan atau acara-acara peresmian. dan sering juga untuk acara memperingati hari-hari besar.

Tak berapa lama, pandangan ini terputus bersamaan dengan langkah kaki kami berbelok ke  kiri jalan. “Kita sekarang ke pelabuhan pak”. ajak salah satu remaja dengan menunjuk kearah yang dituju. Tak sampai 5 menit, akhirnya sampai juga ketempat biasa orang menunggu boat jika ingin ke Batam atau kepulau sebelah.


Terasa begitu dekat dengan laut jika berada di tempat itu. Sejuk dikala senja menyapa membuat betah sesaat. jiwa ini terhibur. Terlebih mata, yang tak mampu dibohongi dengan pandangan yang mempesona. Tak mengira, bongkahan yang bernama bosan sudah menjadi makan harian orang-orang disitu. Padahal apa yang kurang dari indahnya pemandangan yang disajikan setiap semi pergeseran malam. Ia takkan bohong menutupi indahnya alami. Yang tidak mampu dilukiskan dengan barisan kata.

***

Dua sosok orang duduk disudut pelabuhan. Salah satunya berbadan gemuk, kulitnya sedikit hitam. Tanpa rasa canggung kami menyapa orang tersebut. Sadar diri, orang baru dipulau yang jauh, harus banyak punya kenalan. Atau jika tidak minimal  hanya sekedar sapaan.

Meluncur pertanyaan mengawali pembicaraannya kami. Ia manggut-manggut tanda paham mendengar jawaban yang keluar dari salah satu diantara kami. Jawaban selanjutnya yang kami berikan kepadanya makin lama membuat mimik mukanya berubah. Ia seperti tak puas, padahal sudah diberi jawaban yang gamblang dan jelas.

Salah satu teman dari kami bertiga duduk manis disampingnya menanggapi komentar bahwa kedatangan kami kesini diutus dari jakarta, untuk bertugas mendidik masyarakat Pulau Terong. Sejak tadi orang itu santai duduk dipinggir pelabuhan, Dan kami berdiri menjawab pertanyaan-pertanyaan  yang ia lontarkan balik. Makin lama pertanyaannya semakin membingungkan. Hanya satu teman kami saja yang duduk disampingnya memasang tampang serius.

Nampak sekali kabut diwajah teman kami tersebut. Bisa ditebak ia terbawa suasana yang bisa ditarik benang merah, kalau orang yang mengajak kami mengobrol itu tidak senang dengan kehadiran kami bertiga.

Sebenarnya saya pun hampir terbawa suasana itu. Tapi kenapa pertanyaan yang mulai aneh tersebut muncul, anak-anak remaja yang berdiri dibelakang kami cengar-cengir/senyum, terkadang tertawa geli. Awalnya sempat mengira kalau tertawa mereka hanya candaan saja dengan teman yang lain. Namun lama-lama ada yang ganjil.

Teman kami yang memasang wajahnya dengan serius dan sampai duduk menanggapinya, mendengarkan ocehan-ocehan yang makin tak jelas juntrungnya. Terkadang teman kami tersebut manggut-manggut tanpa membuang wajah seriusnya. Kutolehkan kepala ini ke anak-anak remaja yang ada dibalik punggungku.  Dengan sedikit meringis salah satu remaja memberi isyarat kepada kami dengan jari telunjuk miring menempel dipelipis.

Opppsss.........kaget dalam hati...itu kan sebuah isyarat pasaran. Tak perlu kata keluar, orang bakal paham. Anak kecil juga pasti tau apa maksudnya. Tapi kenapa tidak dikasih tahu dari tadi? Sudah tenggelam suasana, baru dikasih tahu!!. duh.. Untungnya aku sendiri tak terbawa dari suasana itu. Hanya tertawa geli melihat mimik wajah teman yang sempat berubah serius menanggapi bualan yang tak jelas.

Indentitas orang itu terbongkar.  Kuberi tahu teman yang termakan suasana tersebut dengan sepotong kalimat arab. Tak butuh waktu lama, kami bertiga yang mamatung  beberapa saat tadi, ambil langkah menjauh dari orang itu. Kalau tahu dari awal, mungkin apa yang diucapkannya tak begitu kami tanggapi. Hari awal kenal dengan salah satu orang kampung disitu, “kejebak” dengan orang yang tidak kami kira.

             Ciri-ciri badannya, membuat teringat satu hari sebelumnya dengan orang itu ketika ingin shalat jum’at. Aku menyalami dua tiga orang yang sudah duduk dimasjid, salah satunya adalah orang itu. Memakai baju khas melayu, warna merah menyala dan bahannya membuat baju itu berkilat jika terkena cahaya. Ketika kusalami, agak lama ia menjulurkan tangan, raut wajah yang tak enak dipandang menyembul sambil mengulurkan tangannya yang berat menyambut kearah tanganku. Mata yang diplototkan semakin menambah seramnya. Ada apa dengan orang ini? Belum kenal tapi bau benci sudah menyebar.

 Eh ternyata, setelah tahu peristiwa di pelabuhan disore tersebut hati ini jadi lega. Lega bukan karena senang melihat orang gila, atau senang kalau orang itu jadi gila. Tapi senang yang kukira dia waras,   ternyata dia mempunyai otak yang sedikit rusak. Orang situ bilang kadang ia kumat seperti orang gila.

Penyebabnya pernah kudengar dari salah seorang warga, bahwa ia pernah ditabrak dengan moncong boat yang lancip dan terkena kepala bagian belakang. Setelah kecelakaan itu, otaknya mengalami gangguan parah. Kemudian akibatnya pun seperti yang sudah kami alami dipelabuhan saat itu. kami menjadi korban, yang mungkin pertama kalinya.

Tak menyangka bakal bertemu hal lucu. Padahal baru dua hari disana, dan masih haus berkenalan dengan warga yang tentunya masih lebih banyak yang waras, dari pada yang kami temukan di Pelabuhan.

Yahh, Yang lebih menguntungkan tak banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu. mungkin akan jadi heboh, orang-orang tertawa geli melihat reaksi salah satu dari kami yang muncul. Kami jadi berfikir, selain mendidik masyarakat yang waras, mungkin kami juga mendidik beberapa orang yang tak waras. Dan malah disitulah ujian beratnya. He....

Orang-orang tak waras di pulau tersebut, sebagaimana yang kutahu ada tiga orang saja. Itupun melihat penampilannya akan tertipu, tak menyangka kalau itu orang tak waras alias sinting. Tapi setiap orang sinting disitu memiliki latar belakang kenapa menjadi seperti itu. Salah satunya karena ilmu ma’rifat. Dia menerangkan sendiri, saat tak mampu mencapai ilmu itu, otaknya bleng, tak terbaca lagi dan sudah tak mampu untuk berfikir dengan sehat.

 Dua penyebab besar  orang bisa menjadi seperti itu, belajar ilmu agama tanpa adanya guru dan belajar ilmu yang salah dan menyesatkan. Dan itulah kenapa Islam mengajarkan kita melalui sejarah para pendahulu dalam mencari ilmu agama. Ilmu yang benar dan guru yang selalu menuntun.
 Dalam persoalan hukum bagi orang yang memiliki otak yang rusak, tatkala mereka berbuat salah/menyalahi syari'at, sedang kala itu diluar kesadaran dalam melakukannya, maka tak dihukumi bersalah, artinya Allah memaafkannya.

Namun jika berbuat dosa yang masih dalam kondisi sadar, maka ia dihukumi bersalah dan berdosa. Tetapi jika gilanya total, diakherat nanti ia akan dihukumi perbuatannya sebelum ia menjadi gila. Ia hanya mempertanggung jawabkan amalannya ketika sadar saja.

Namun ada pendapat lain, bahwa ia dihukumi sebagai anak kecil. Diserahkan urusannya kepada Allah subhanahu wata’ala.
Rosulullah bersabda “diangkat pena dari tiga golongan,  dari orang gila sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari bayi hingga ia baligh."(HR. At-Tirmidzi, dalam shahih al-jami'is Shaghiir 3514)

 Tentunya tak ada yang mau memiliki cacat otak. Kita hanya berusaha untuk menjaganya yang tidak hanya dari cacat secara jasadi. Tetapi yang terpenting adalah cacat maknawi. Yang sudah lepas memikirkan Allah dan melupakan kediaman abadi dan nyata.

Cacat otak takkan dihitung apa yang dilakukan setelahnya meski di pandang setengah mata didunia. Namun  bagi cacat maknawi, bilangan hari atas perbuatan dan karya mereka saat hidup, mereka akan tercatat dilembaran yang lepas dari kekurangan.
Semoga kita diberi sehatnya pikiran ragawi dan maknawi, agar dimudahkan mengarungi ilmu-Nya yang dalam dan luas.


Walaupun rombongan anak muda yang membersamai kita ketika datang saat itu sudah berpisah semua, Muhayir, Sabil, Azwan, Fachri, Insya Allah jika atas kehendaknya kita dipertemukan lagi disuatu tempat.

****



4 comments:

  1. HAha hampir mirip pengalamannya
    its something

    ReplyDelete
  2. ada kesamaan cerita, walaupun yang mengalaminya pasti beda..he

    ReplyDelete
  3. yuhhh bener banget
    rasa takut,geram,ada .
    tapi rasa seremnya lebih banyak hahah

    ReplyDelete
  4. bagaimanapun kisahnya yang penting bisa dipetik hikmahnya

    ReplyDelete