Thursday, 6 August 2015

Pengasingan Dihari Spesial II

   
    Tak lebih dari satu jam, akhirnya sampai tujuan. Jakarta-Batam memakan waktu cepat, seperti dalam mimpi. Mimpi yang dialami orang yang pertama kali menaikinya.

     Tiga berjajar jalan ditengah kerumunan orang, seperti orang bodoh sambil saling pandang  dengan teman sampingnya. kami hanya mengikuti kemana arus orang jalan setelah keluar dari pesawat. Entah sampai mana hilir ini berakhir, yang penting bisa keluar dari tempat yang baru pertama kali  kami disana.

      Salah satu temanku yang juga sebagai ketua perjalanan, yang bernama Roni, merogoh hp yang ada dikantongnya. Sibuk mengotak atik kotak kecil ajaib itu sambil berjalan kearah jalan keluar. Ia tempelkan handpone ketelinganya.

 “Assalamu alaikum, kita udah sampai dibandara Batam, pak Gufron. Deket pintu keluar”. Jelas Roni berharap yang ditelpon paham dimana lokasinya berada.
Ia telah diberi nomor telpon penjemput ketika kami berada dijakarta. Karena kami orang baru dinegeri perantauan, sepertinya harus sedikit dimanja dengan jemputan. Walaupun sebenarnya tanpa jemputan tak ada masalah. Cukup modal tanya ke orang-orang.

Setelah dijemput kami dibawa ke sebuah masjid dan istirahat semalam disana.  kemudian esoknya kami diantar oleh ketua dewan dakwah Batam kepelabuhan Sekupang. Disinilah perjuangan ke tempat terasing bagi kami dimulai. 

Pemandangan laut bagi ku sudah tak asing. Karena tempat kelahiranku dekat dengan pantai dan sering sekali kesana. Akan tetapi bagi dua temanku, yang rumahnya jauh dari hamparan laut, menjadi kejutan bisa memandang birunya air yang luas.

Namun ada sesuatu yang asing. Yaitu nampak dari kejauhan bangunan-bangunan tinggi. aku belum tahu saat itu. dan tahu setelah beberapa bulan disana, ternyata bangunan menjulang tinggi dengan beberapa bangunan lainnya adalah negara Singa, Singapura. 

***

Sentuhan-sentuhan ombak kecil yang memukul kesemua dinding pelabuhan, tak pandang bulu terkena semua boat yang terparkir rapih disisi kiri dan kanan. Tak terkecuali salah satu boat yang terbuat dari viber yang baru beberapa menit menunggu kedatangan kami.

Boat viber itu menancap kuat membelah laut yang membawa kami kepulau yang tak pernah terpikirkan. Melewati beberapa pulau yang tak berpenghuni. Matahari yang masih berselimut awan mendung, seakan enggan menyapa kehadiran tiga makhluk baru dengan sinarnya. 

       Jam 11 siang lebih, kami sampai ditempat tujuan. Rumah-rumah panggung menghiasi sekeliling kesegala penjuru pulau. Nampak pulau-pulau besar menghadang diam, seolah menjadi saksi bisu kedatangan kami. Sedikit mengobrol dan perkenalan pertama kali dengan pemilik boat, yang ternyata, ia juga dulu mantan lurah, dan menjadi salah satu tokoh masyarakat didaerah tersebut.

Kalian bertiga nanti akan tinggal dirumah yang sebelumnya ditempati pengajar dulu”. Terang bapak yang sudah hampir berumur 70 tahun. “Yang jelas adanya kalian ini, insya Allah bisa merubah masyarakat disini, baik dari anak-anak, ibu-ibu maupun bapak-bapaknya”. Harapnya kuat.
Roni menanggapi penjelasan yang sudah disampaikan, “kami hanya manusia, yang tak lepas dari kesalahan dan khilaf. Tapi kami bertiga akan berusaha semampu kami untuk mengajar, mendidik mereka supaya kedepannya akan menjadi lebih baik lagi.”
“Mungkin kami bertiga mau beres-beres dan istirahat dulu pak, insya Allah nanti kalo ada waktu kita teruskan lagi ngobrolnya”. Ungkapnya dengan diselipkan sedikit tertawa.

Lumayan banyak barang bawaanku waktu itu. Satu koper, tas gendong dan tas selempang. Roni, dan satu teman lagi, Labib, terlihat tak begitu berat membawa barang-barang mereka. Hanya yang menggambarkan berat ada pada raut wajah mereka, dan juga aku, tanpa terkecuali. Memikul beban tanggung jawab besar untuk memberi ilmu yang telah kami dapatkan dijawa.

Minggu pertama- kedua dan ketiga tak terasa sudah kami lalui. Beragam aktifitas dibulan suci telah kami lakukan. Kultum, mengisi sanlat, khutbah jum’at, ditambah i’tikaf yang baru beberapa hari berjalan menjadi lembaran positif. Hanya menghitung  hari itu kesempatan yang semestinya menjadi  spesial bersama keluarga dikampung kelahiran, tetapi harus tugas didaerah yang baru beberapa hari ini kami mengenalnya.

 Sayup-sayup suara bacaan ayat suci keluar dari  speaker masjid. Menghilangkan kesamaan antara bulan itu dengan bulan yang lain. Gema yang membahana menyebar kerelung setiap rumah. Selesainya tarawih setiap malam, masjid dikuasai penuh oleh anak-anak muda. Terkadang kami memimpin mereka membaca, dan membenarkan jika ada bacaan yang salah.

dimalam itu menjadi perwakilan dengan malam-malam yang lain akan tak ada bedanya malam di sebuah pulau dengan malam dikota. Hanya saja sahut menyahut tadarus hingga larut malam dari masjid satu kemasjid lainnya lebih banyak dari pada didaerah ini. Karena masjid disini tak lebih dari 4-5 masjid untuk satu kelurahan. Namun istiqomah memegang agama  disini lebih besar dari pada suku yang lain.

     I’tikaf kami bersama anak-anak remaja disana telah berada dipenghujung, yang menandakan bulan hijriyah berikutnya akan berlaku. Di malam spesial, seluruh kaum muslimin menggemakan takbir, tahmid dan tahlil. Kata-kata yang mengandung sunnah masuk kerelung setiap jiwa yang telah digembleng pada salah satu perintah- Nya.  Suara yang tak henti silih berganti,memecah atmosfer di kegelapan malam. Tak menyangka tahun ini akan merasakan hari yang syahdu didaratan yang tak begitu luas. Tanpa saudara, terlebih keluarga untuk menikmati indahnya hari raya dikampung tanah kelahiran orang. Dengan segala kesenangan berbalut pasrah akan taqdir yang telah ditentukan, kami bertiga menghabiskan waktu detik demi detik yang syahdu di”pengasingan”.

“Pak, ayo pak, kita  mutar kampung”. Terdengar panggilan dari luar rumah, dekat dengan pintu belakang.
Iya, sebentar lagi, masih ganti baju, tunggu diatas ya”. Sahutku dengan membenahi baju sambil berjalan keluar kamar.

      Tradisi disana jika malam takbiran dengan takbiran keliling pulau. Tak butuh waktu banyak menyusuri daratan yang hanya beberapa hektar tersebut. Dengan pukulan beduk serta diiringi pekikan takbir puluhan anak yang mengiringi, kami tenggelam menikmati serunya acara yang hanya setahun sekali. Setelah acara keliling selesai, beberapa makanan khas melayu berjajar dilantai masjid. Jadi teringat kata salah satu remaja disana, “Nanti kalau malam takbiran pasti banyak makanan dimasjid pak, pokoknya pesta sampe kenyang...hahahaha”.

      Hal yang tak boleh dilewatkan adalah menelpon keluarga dirumah. Meridukan berada ditengah-tengah mereka, Tapi hari itu hanya bisa mendengar suara mereka lewat hp. Walaupun masih belum cukup menghilangkan hausnya rindu, tapi mampu mengikis sedikit kristal kesedihan. Mendengar suara kedua orang tua dan adik-adik dirumah meski jauh, sudah membuat hati ini tenang, terlebih semuanya dalam keadaan sehat wal afiat.

***

     Secercah sinar mentari mulai berusaha menerangi rumah-rumah kayu panggung yang berada dibibir pantai. Orang-orang dengan pakaian khas melayu baju kurung dengan berbagai warna polos mengkilat mulai berdatangan. Ada yang berwarna kuning, merah, pink dan hijau botol. mereka Mulai menerobos masuk kepenjuru pintu masjid yang telah dibuka sejam yang lalu. Pagi itu, dengan speaker di atap rumah Allah mengulang takbir tahmid dan tahlil, menghiasi alam raya menyambut ibadah sunnah nabi yang agung.

      Setelah usai pelaksanaan shalat dua rakaat dan khutbah iedul fitri, yang mungkin awal dan akhir ditempat itu,  kami menyiapkan berbagai macam makanan dan juga minuman lebaran. Sekiranya nanti  jika ada yang ingin bersilaturrahim, ada sesuatu yang bisa disuguhkan sebagaimana disetiap rumah pada hari lebaran.

     Benar saja, terhitung tamu pertama yang silaturrahim kerumah kita, yang ternyata rombongan anak-anak sekolah dasar. Tanpa rasa malu setiap tawaran yang kami lemparkan, mereka lahap makanan dari toples-toples kaca berbentuk agak bulat. Wajar, justru itulah kepolosan yang terbangun dari umur yang belum dewasa..

“Nih permen, untuk ngemut dijalan nanti!” Tawar Labib menyodorkan toples penuh permen kepada mereka sebelum pergi.  dengan cepatnya mereka memasukkan tangan-tangan mungil yang saling serobot itu kelubang toples yang ukurannya kecil.

     Hanya beberapa detik saja toples itu berubah kosong. Setelah mereka pergi dari ruang tamu,  terdengar suara ricuh diluar dari mulut mereka dengan logat suku disana yang menyebut kata permen. Mungkin ada yang mendapat tangkapan banyak, juga bahkan ada yang tidak kebagian satu bungkuspun. Perdebatan yang tak kupedulikan, teralih dengan tumpukan susunan rencana rumah mana saja yang akan kami kunjungi. Ide kami tertangkap dan tertuju pas depan rumah yang kami huni. Rumah yang kami tinggali termasuk tanah dan rumahnya, tak sopan jika tidak mendahului rumahnya untuk dikunjungi.

      Mengawali kerjaan pemanjang umur itu, untuk lebih dekat dan kenal masyarakat sana adalah dengan kunjungan pertama kali ke mantan lurah, yang memiliki sekitar 20 anak. Meski sudah saling kenal dengan tuan rumahnya waktu pertama kali datang, tapi kunjungan kali ini mengenal anak-anaknya dan mengetahui urutan mereka. 

      Terkadang sering ketukar urutan, walaupun hafal sebagian besar nama-nama mereka. Senyum-senyum sendiri saat membayangkan jika dikumpulkan semua anak-anaknya dan menyebut urutan beserta nama. Seperti peserta seminar saja.


       Kunjungan keberbagai penduduk sampai beberapa hari. Lebaran kala itu, banyak kami isi dengan silaturrahim, sekaligus hal ini menjadi media agar lebih mengenal lagi setiap rumah yang kami kunjungi. Terlebih status kami sebagai orang baru beberapa minggu, harus menambah kenalan sebagai ganti orang-orang yang telah kami tinggal di tanah kelahiran. 

     Walaupun bisa disebut tempat terasing, tapi bagi kami disinilah pengalaman baru yang akan menghilangkan keasingan ditempat ini. Mereka masih orang-orang bumi. Bukan dari planet lain. Islam sebagai icon agama mereka, dan suku yang lebih condong pada budaya Islam. Hanya belum kenal secara personal saja yang membuat kami masih kaku. Namun jika ada tekad yang kuat menyelami masyarakat lebih dalam untuk perubahan, Tangan-Nya, akan turut dalam urusan hamba dan takkan segan-segan terus menolongnya. Insya Allah.

No comments:

Post a Comment