Saturday, 8 August 2015

Keunikan Bahasa Melayu


Setiap bahasa daerah pasti ada sisi keunikan tersendiri. Terkadang dari uniknya itu kita menjadi penasaran dan akhirnya mempelajari keunikannya yang tersimpan. Sebagian orang yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tentu agak kaget mendapatkan arti kata yang tidak sebagaimana ia maksud. Dan itu tidak didapatkan perbedaan arti setiap kata kecuali dari bahasa daerah di indonesia. 

Maka pada artikel kali ini saya menuliskan beberapa keunikan dari bahasa melayu khususnya di kepulauan Riau, di Kelurahan Pulau Terong. Kenapa dikhususkan hanya kelurahan? karena di luar kelurahan itu terkadang ada istilah baru yang bisa jadi hanya dimengerti oleh orang yang tinggal dipulau tersebut. Artikel ini masih sambungan dari judul "Melayu tak Terbetik".


Unik 1
 Bahasa yang sering dipakai selama ini, ada beberapa kata yang mengandung arti lain. Seperti kata “kok”. Bagi kita yang bukan orang sana tentu maksud kata ini digunakan pada akhir kalimat. Walaupun dalam kamus bahasa indonesia tak terdaftar kata tersebut. Tapi orang sudah paham maksud kalimat yang disusupi kata “kok” dalam percakapan. 

“Saya udah makan kok”. “saya gak mukul kok”. Seakan kata tersebut digunakan sebagai penekanan, atau seperti tiang penyangga, tak pantas jika tak disandarkan kata tersebut, atau terasa kurang mantap. Namun hanya sebagian orang saja yang menggunakannya.

Berbeda dengan kata “kok” untuk orang disana. Mereka biasa jika ditanya sesuatu kemudian tidak tahu, kata tersebut akan keluar, “kok ade”. maksudnya tidak ada. Atau ditawari sesuatu, tetapi tidak mau, mereka akan bilang, “qod ah”. Maksudnya gak  ah.

 Namun anehnya orang yang berada dipulau tetangga mengatakan, kata tersebut hanya dimiliki dari Pulau Terong, yaitu pulau dimana kami tinggal. Tapi masih perlu ditinjau lagi kebenarannya. Apa mungkin mereka yang membuat kata itu? unik, satu pulau membuat istilah bahasa yang menjadi terkenal bagi orang-orang disitu. Dan juga orang Melayu dipulau itu mengatakan bahasa “kok” dan “qod” tidak digunakan di Malaysia. Nah, berarti dua kata satu arti itu hak cipta suku siapa? Hemm...sepertinya ada bahasa ciptaan sendiri yang menjadi pasaran orang dipulau itu dan sekitarnya.

        Unik 2
Ada lagi sebuah kata yang sering kita dengar, bahkan dipakai sehari-hari oleh kita, yaitu “boleh”.  Kita pasti tahu arti kata tersebut. Namun bagi orang disana maksudnya bukan apa yang kita selama ini artikan. Walaupun tak terlalu bersebrangan arti kata tersebut, tapi jika salah maksud akan sedikit salah paham. Kata “boleh”maksudnya adalah “bisa”. “Pak Ahmad boleh mancing”. Maksudnya “pak Ahmad bisa mancing”. Dan bahasa ini memang melayu punya. Akupun sering mendengar iklan dan berita, begitu juga film yang disiarkan Malaysia yang menggunakan bahasa tersebut. Tidak seperti kata bahasa sebelumnya, yang hanya satu pulau saja pembuatnya.

      Unik 3
Berbeda dengan dua kata diatas, kata ini hanya sedikit diucapkan, tapi mengandung arti yang dalam. Yaitu “aok”. Artinya adalah “iya”. Agak lucu mendengarkan kata tersebut. apalagi jika diucapkan oleh orang yang sudah dewasa. Tapi, lagi-lagi bahasa yang sudah pasaran, jadi hal yang biasa didengar khususnya oleh mereka.

Selingan canda yang pernah disampaikan da’i kondang dan memiliki jam terbangnya  sampai kenegeri tetangga, kudengar ketika ceramah acara menyambut mauled di pulau Terong, menyinggung salah satu kata melayu tersebut. Katanya, “Inilah yang menjadi pembeda jauh, antara anak kota dengan anak  di pulau. Jika anak kota dipanggil,  “Alfin, kemari!”  Iya mama, iya papa”. Kalau anak pulau dipanggil, “Saskia, kemari!” aok, aok, aok. Persis seperti suara lembu”... katanya sambil sedikit menirukan suara hewan tersebut.

Kemudian ada salah satu teman, menyamakan kata tersebut dengan suara kucing. “Aooook aooook aooook”. Suara yang sering keluar dimalam hari. Apa mungkin mereka terinspirasi dengan suara hewan tersebut? pengamatan yang serampangan. Akupun belum tahu, apakah kata bahasa tersebut digunakan oleh suku Melayu yang berada di Malaysia.

Justru lama-lama kurasa tidak menggunakan bahasa itu sepertinya malah aneh sendiri. Bahkan temanku yang juga tinggalnya satu tempat denganku, tak mau ketinggalan menggunakannya. jika menggunakan kata bahasa itu, terkadang ditertawakan oleh orang sana. Bukan tanpa alasan atau tak pantas, tapi ketika mengucapkannya, teori ilmu tajwidnya juga masuk kedalam kata tersebut. Jadi seperti ada tekanan dan dengungan setiap ucapan itu keluar.
Beda lagi dengan yang diucapkan oleh salah seorang teman dipulau seberang. Tempat yang tak jauh dari pulau kami. Ia menambah kata “aok” dengan “h” setelah huruf “a”. “ahook”. Ia seperti memanggil nama orang terkenal yang ada dijakarta saja. kayaknya butuh privat agar penggunaan bahasa disana tidak ” dirusak” oleh orang pendatang.

        Unik 4
Ada satu kata, tapi memiliki dua arti yang yang berseberangan. Sebenarnya kata ini juga sering kudengar dari orang bersuku padang. Yaitu kata “awak”. Pernah kutanyakan dengan orang sana, kata ini bisa diartikan “aku” dan “kamu”. Nah, mana yang benar? kenapa kata-kata yang berseberangan, tapi bisa masuk dalam satu kata? Hemm...entahlah. Harus cerdas memakainya.
Sedikit susah memang jika dipraktekkan. Jika tak pandai menggunakannya, akan terjadi salah paham nanti. Namun kalau kata awak untuk orang jawa sangat kupahami apa maksudnya. He.

       Unik 5
Atoook, ooo...atoook... masih saja teringat dengan kalimat itu. Kalimat seru yang diucapkan dua orang anak disebuah film kartun. Dan malah sudah sampai dibuat musik dengan orang yang “kreatif”. Ternyata kalimat tersebut sebuah panggilan. Tapi uniknya ada tambahan huruf yang berlipat-lipat. Jika menggunakan kata itu, tinggal diganti saja apa yang mau dipanggil. Akupun sering dipanggil dengan kalimat tersebut. Hanya tertawa dalam hati saja jika dipanggil seperti difilm jiran itu. “pak...oooo pak....”

      Unik 6
Ada sedikit persamaan dalam ucapan bahasa ini dengan bahasa suku ditanah kelahiranku. Khususnya jika melafadzkan kata yang diakhiri huruf “R” atau kata yang mengandung huruf tersebut. Misalnya “tidur”, menjadi “tido”. “Besar” menjadi “besa”. Dan kata-kata yang lain.

Begitu juga dengan suku lampung. Justru pengucapannya lebih greget dari suku Melayu. Semua yang mengandung huruf “R” disamar habis, seakan dihilangkan dari peredaran huruf abjad. Hanya saja logat mereka seperti membentak. Kalau mendengar mereka berbicara seolah sedang ada perang mulut. Padahal begitu adanya. Tak dibuat-buat. Bisa dibilang logat yang murni, kemungkinan bawaan dari buyut mereka.

      Unik 7
 Siapa yang tak tahu dengan arti “ndak”? pasti akan menebak dan tertuju pada bahasa jawa. Karena kata itu  masuk dalam kamus jawa, yang mungkin tak tertulis. Kalau bahasa jawa ndak, artinya tidak. Tapi tidak sama untuk bahasa Melayu. Mereka mengartikan dengan kata “mau”. Ndak maksudnya mau. Jika sudah terbiasa bilang ndak (bahasa jawa) ketika ditawari sesuatu dengan niatan menolak, maka orang melayu justru makin mantap memberi tawaran itu. Bisa dikata, ia “tertipu” dengan ucapannya sendiri.

      Unik 8
Daerah kepulauan sangat minim sekali yang menggunakan kendaraan roda dua. Hanya beberapa orang saja yang memilikinya. Bukan karena mereka miskin atau tak mampu membelinya. Tetapi keadaan mereka yang memaksa seperti itu. kebutuhan akan kendaraan tersebut sangat sedikit.Daratan disana tak begitu luas sehingga jika ingin bepergian silaturrahim kesaudara atau membeli sesuatu tak butuh waktu lama. Kalaupun jauh, mereka menempuhnya dengan boat atau speed. Karena disana dikelilingi oleh lautan luas.

Namun, penyebutan untuk kendaraan roda dua disana sangat unik. Mereka menyebutnya “honda”. Entah itu merk yamaha, honda, suzuki atau lainnya. Sebagian mereka sempat bingung bila dikatakan motor. Mereka hanya paham bahasa “honda” saja.

Anak muda disana,walaupun tidak semua, mereka menggunakan “honda” tadi untuk atraksi. bahasa gaulnya jumping. Mengangkat roda depannya sambil berjalan. Akupun pernah meyaksikan atraksi tersebut yang tak sengaja lewat disebuah lapangan. Anak SMP mencoba memainkan “honda” dengan temannya. Mereka masih terlihat kecil.

Ketika dua anak itu mencoba, atraksi itu mampu menarik perhatian karena bisa mengangkat roda depannya. Tapi tak lama kendaraannya condong kearah kiri yang terdapat tembok. Karena gasnya masih tertahan kuat, akhirnya honda itu menabrakkan tembok yang tak punya salah. kerasnya tabrakan sampai pengemudinya tak mampu menahan keseimbangan dan kemudian jatuh. Mereka tertimpa honda mereka sendiri. kepala dan body depan honda tersebut rusak sedikit.


. Aku yang menyaksikan tak jauh dari tempat mereka, hanya terpaku saja. Mengelus dada akan peristiwa tersebut. Kejadian itu terasa sangat cepat sekali. Tak menyangka akan terjadi kecelakaan... hondanya mungkin ingin menaiki pengendaranya. Gantian mengendarai pemiliknya.

     Unik 9
Selain bahasa mereka yang menarik dan banyak menyimpan keunikannya, ternyata bahasa disana sudah tercampur dengan bahasa inggris. Sampai anak kecilpun tak luput mengucapkan kata inggris dalam percakapan mereka. Malah jika kita menggunakan bahasa indonesia dari kata itu, mereka agak lama memahaminya. Mesin untuk boat/speed, mereka menyebutnya “enggine”. Sama saja mesin yang kecil maupun yang besar. Kemudian kata “coba”, menggunakan kata “try”. Jika menyebut kata waktu, mereka menggunakan kata “time”. Misal “time 1:10, atau “time 1:30.

Bahasa yang bercampur dengan inggris ini sering kudengar jika menonton film-film Malaysia atau yang berbahasa Melayu. Mendengarnya saja seolah mereka membajak beberapa bahasa indo dirubah menjadi inggris.

Tak heran memang, kenapa bahasa pulau sama bahasanya dengan orang yang ada di Malaysia. Orang tua dulu sangat mudah sekali jika ingin bepergian ke Malaysia. Hanya memakai sampan saja bisa kesana. Bahkan ke Singapura lebih dekat lagi. Dulu tak ada peraturan memasuki perbatasan Malaysia ataupun ke negeri singa tersebut.

mereka tak harus sibuk mengurus paspor maupun kependudukan mereka disana. Bahkan beberapa keluarga mereka yang dibesarkan dipulau, ada yang menetap lama dinegeri  Jiran. Beberapa bulan keluarga dari pulau selalu mengunjungi secara rutin kesana. Dari situlah suku dan bahasa negeri tetangga mewarnai dan saling mengisi masyarakat disana.

Begitu juga ada keluarga mereka yang bekerja di Singapora. Dahulu sama mudahnya mereka bolak-balik kesana untuk mengunjungi keluarga mereka. Namun setelah ada peraturan harus membuat paspor dan “I SEE” (KTP kependudukan), maka kemudahan itu pun luntur. Tetapi beberapa orang dipulau masih saja ada yang bolak-balik kesana untuk mencari penghidupan atau sekedar berjalan-jalan dan mengunjungi saudara yang sudah menjadi warga sana.

Hampir sebagian orang pulau disitu memiliki saudara yang tinggal di Singapora. Beruntung jika dapat teman orang pulau, bisa ke Singapora tanpa harus banyak mengeluarkan uang karena tak tinggal di Hotel yang harganya tinggi. mungkin bisa bermalam dirumah saudaranya.

      Unik 10
Keragaman suku di nusantara terkadang membuat kita bangga akan kayanya bahasa yang dipakainya. Walaupun disisi lain bahasa itu sendiri menuai perselisihan yang berujung pada membeda-bedakan suku dan ras. Namun jika digali lebih dalam lagi, pastinya menemukan banyak kandungan kata bahasa yang hati ini terusik karena lucu. Salah satunya adalah kata “sedap”. Arti kata yang sering digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang dimakan. Ya, kita mengartikannya seperti itu. Tapi orang Melayu menggunakannya jika melihat orang misalnya “pandai dalam melakukan sesuatu”.

Mereka akan bilang “Pak Labib itu sedap sekali main bolanya”. Atau jika bagus ngajinya, mereka akan bilang “Sedap sekali anak itu mengaji”. Kita menggunakannya untuk makanan, mereka menggunakannya untuk diluar makanan.

Jadi kata sedap mereka artikan dengan kata “bagus”. Walaupun sebenarnya kata itu masih dalam satu komplek pengertian yang sama, tapi mereka lebih condong menggunakan kata “sedap” dari pada menggunakan kata “enak”.

Bersambung.......

No comments:

Post a Comment