Senin, 15 April 2013

Maaf di Fathul Mekah


Penghormatan Untuk Abu Sufyan
Ibnu Ishaq berkata diriwayatkan dari Abbas tentang rincian Islamnya Abu Sofyan menghadap : Keesokkan harinya aku bawa Abu Sofyan menghadap Rasulullah saw dan setelah melihatnya Rasulullah saw berkata :“Celaka wahai Abu Sofyan, tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui sesungguhnya tidak ada Illah kecuali Allah?“ Abu Sofyan menyahut :“Alangkah penyantunnya engkau, alangkah mulianya engkau dan alangkah baiknya engkau! Demi Allah aku telah yakin seandainya ada Ilah selain Allah niscaya dia telah membelaku.“ Nabi saw bertanya lagi :“Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui bahwa aku adlaah Rasul Allah ?“ Abu Sofyan menjawab :“Sungguh engkau sangat penyantun, pemurah, dan suka menyambung keluarga. Demi Allah, mengetahi hal yang satu ini sampai sekarang di dalam diriku masih ada sesuatu yang mengganjal.“ Abbas ra menukas : Celaka! Masuk Islamlah dan bersaksilah tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, sebelum lehermu dipenggal.“ Kemudian Abu Sofyan mengucapkan syahadah dengan benar dan masuk Islam.
Abbas ra melanjutkan : Kemudian aku katakan, wahai Rasulullah saw, sesungguhnya Abu Sofyan adalah seorang yang menyukai kebanggaan dirinya.“ Nabi saw menjawab :“Ya, barangsiapa yang masuk rumah Abu Sofyan, ia selamat, barangsiapa yang menutup pintu rumahnya ia selamat, dan barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram ia selamat.“ (Siroh Al Buthy)

Hari Kasih Sayang di Fathul Mekkah
Disampaikan kepada Rasulullah saw bahwa ketika Sa‘ad bin ‚Ubadah melewati Abu Sofyan di mulut lembah, ia berkata : „Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini dibolehkan melakukan segala hal yang dilarang di Ka‘bah.“Kemudian Nabi saw membantah dengan sabdanya : „Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang, di hari ini Allah mengagungkan Ka‘bah“.(Siroh Al Buthy)

Pembebasan Untuk Quraisy
Selanjutnya Nabi saw bertanya : „Washai kaum Quraisy! Menurut pendapat kalian, tindakan apakah yang hendak kuambil terhadap kalian?“Jawab mereka : „Tentu yang baik-baik! Hai saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia.“Beliau lalu berkata : „Pergilah kalian semua! Kalian semua bebas.“(Siroh Al Buthy)

Hari Fathu Makkah, ya pada hari pembukaan kota Mekkah itu Rasulullah Saw datang bersama pasukan berkekuatan 10.000 tentera dengan persenjataan yang lengkap. Abu Sufyan, pemimpin Quraisy memperhatikan kekuatan itu dari atas sebuah bukit. Ia
berkata kepada Abbas, paman Rasulullah Saw. “Wahai Abbbas, tak seorangpun yang sanggup dan kuat menghadapi pasukan sehebat ini.”
Namun apakah Nabi Saw melampiaskan dendamnya pada saat berkuasa seperti itu? Apakah Nabi mencari Hindun dan Wahsyi yang telah membunuh dan memakan jantung Hamzah paman nabi? Apakah Nabi membalas dendam atas kematian Mus’ab bin Umair di perang Uhud yang mayatnya dicincang orang kafir? Tidak , tidak! Pada masa itu baginda tidak menghukum sesiapapun. Baginda Saw menyebarkan rahmat dan cinta kasih kepada orang
Mekkah yang selama ini memusuhinya dan ingin menghancurkannya. Pada masa itu baginda Saw memaafkan mereka semua seraya berkata:
“Siapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram dia selamat. Dan siapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan dia juga selamat.”
Subhanallah.. hari itu sejarah mencatat bahwa baginda telah
memberikan ampun, maaf dan janji keselamatan kepada musuh-musuhnya. Hari itu runtuhlah benteng kesombongan kafir Quraisy.
Ditebarnya senyum kepada seluruh kafir Quraisy dan dituturkannya dengan lembut kepada manusia-manusia berhati besi itu, “Idzhabuu wa antum
Thulaqaa….pergilah, kamua semua bebas.”
Maaf untuk Shofwan dan Umair
Shofwan bin Umayyah adalah seorang yang memusuhi Rasululullah saw. Bapaknya, Ummayyah, juga memusuhi Rasulullah. Jadi, komplit sudah. Anak dan bapak sama-sama memusuhi Rasulullah.
Ketika Rasulullah memasuki Makkah dalam peristiwa Fath Makkah (Penaklukkan kota Makkah), banyak orang-orang Quraisy yang merasa ketakutan, bahkan tidak sedikit yang melarikan diri. Mereka takut kalau Rasulullah akan balas dendam atas perbuatan mereka selama ini. Di antara yang melarikan diri adalah Shofwan. Ia pergi menuju Jeddah. Dari Jeddah ia berencana menuju Yaman, dengan menyeberangi lautan. Shofwan merasa bahwa lebih baik ia mati di tengah lautan daripada mati di tangan Rasulullah. Padahal, Rasulullah memaafkan semua orang-orang yang sejak lama memusuhinya. Bahkan, Rasulullah memberi mereka hadiah-hadiah.
Shofwan tetap bersikeras dengan keinginannya. Maka, berangkatlah ia menuju Jeddah.
Pada saat yang sama, Umayr bin Wahb datang kepada Rasulullah. Umayr berkata, ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shofwan sudah melarikan diri darimu. Saat ini ia akan menyeberangi lautan dan ia akan bunuh diri di sana. Maka, berilah ia jaminan keamanan’.
Rasulullah berkata, ‘Dia akan aman’. Umayr berkata, ‘Wahai Rasulullah, berikan padaku tanda jaminan keamananmu’. Maka, Rasulullah memberikan imamah(sorban yang melilit di kepala) yang dipakainya saat itu.
Maka, berangkatlah Umayr menuju Jeddah, menyusul Shofwan. Umayr berhasil menemukan Shofwan, yang saat itu akan menaiki kapal. Lalu Umayr berkata, ‘Wahai Sofyan, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya. Ingatlah dirimu. Jangan kau celakakan dirimu sendiri! Aku datang kepadamu dengan membawa jaminan kemananan dari Rasulullah’. Umayr menunjukkan sorban Rasulullah kepada Shofwan.
Shofwan berkata, ‘Tapi aku kuatir dengan keselamatan diriku’. Umayr berkata, ‘Dia (Rasulullah) lebih lembut dan mulia dari yang kau kira’. Shofwan membatalkan niatnya naik kapal. Lalu, bersama Umayr ia kembali ke Makkah, mendatangi Rasulullah.
Sesampainya di hadapan Rasulullah, Shofwan berkata, ‘Inikah orang yang telah engkau berikan jaminan kemananan?’ Rasulullah menjawab, ‘Benar’. Shofwan berkata, ‘Kalau begitu, beri aku waktu 2 bulan untuk menentukan sikap (apakah masuk Islam atau tidak)’.
Rasulullah menjawab, ‘Engkau aku beri waktu 4 bulan’.
Subhanallah… Begitulah akhlak Rasulullah terhadap musuh-musuhnya.
Rasululullah tidak menekan Shofwan untuk mengambil keputusan dengan cepat, namun memberinya waktu lebih lama dari yang ia minta.
Allahu Akbar..saudaraku Sofwan telah membawa seluruh pasukannya untuk memerangi Nabi Saw ketika pembukaan kota Mekah.Rasulullah Saw berhasil mengalahkannya sehingga dia lari sampai ke tepi laut. Tapi  Rasulullah saw masih juga memafkannya
bahkan mengirimkan serbannya yang mulia sebagai bukti maafnya. Tidak hanya itu, ternyata Sofwan ini berhati keras sehingga tidak juga mau menerima ampunan dan maaf baginda. Dia minta masa dua bulan untuk menerima kemaafan itu. Namun baginda Saw sangat memahami kebekuan hati orang kafir. Justru baginda memberinya masa empat bulan. 

Penghargaan untuk abu sufyan 2
Dari Abu Zumail, dia berkata, "Ibnu Abbas RA pernah bercerita kepada saya bahwasnya ia berkata, 'Dulu kaum muslimin tidak menghargai dan tidak memberikan kedudukan yang layak bagi Abu Sufyan. Oleh karena itu, pada suatu hari ia {Abu Sufyan} berkata kepada Rasulullah SAW, 'Ya Rasulullah, berikanlah tiga hal kepada saya!' Rasulullah menjawab, 'Ya.' Abu Sufyan melanjutkan pembicaraannya, "Pertama, saya mempunyai seorang puteri yang terbaik dan tercantik di negeri Arab, yaitu Ummu Habibah. Saya ingin menikahkannya dengan engkau." Rasulullah menjawab, "Ya." "Kedua, lanjut Abu Sufyan, "Saya berharap engkau menjadikan Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai juru tulis engkau yang selalu mendampingi engkau." Rasulullah menjawab, "Ya." Abu Sufyan mengakhiri permintaannya, "Ketiga, saya harap engkau menugaskan saya untuk bertempur di medan perang melawan orang-orang kafir, sebagaimana dulu —sebelum masuk Islam— saya memerangi kaum muslimin." Rasulullah pun menjawab, "Ya." Abu Zumail berkata, "Seandainya saja Abu Sufyan tidak meminta tiga hal tersebut kepada Rasulullah, maka Rasulullah pasti tidak akan memberikannya. Karena, bagaimana pun juga, Rasulullah tidak pernah menjawab selain 'ya' jika beliau diminta tentang sesuatu." (HR. Muslim)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar