Rabu, 24 April 2013

Kasih Sayang Rasulullah


Menghargai Perbedaan Pendapat
Dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma, ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika perang al-Ahzab: "Janganlah seseorang melaksanakan shalat 'Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah." Setelah berangkat, sebagian dari pasukan melaksanakan shalat 'Ashar di perjalanan sementara sebagian yang lain berkata; "Kami tidak akan shalat kecuali setelah sampai di perkampungan itu." Sebagian yang lain beralasan; "Justru kita harus shalat, karena maksud beliau bukan seperti itu." Setelah kejadian ini diberitahukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau tidak menyalahkan satu pihakpun." (HR. Bukhari)

Menjenguk Orang Sakit
Dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menjenguk seorang Arab badui, Ibnu Abbas melanjutkan; "Setiap kali beliau menjenguk orang sakit, maka beliau akan mengatakan kepadanya: "Tidak apa-apa, Insya Allah baik-baik saja." Ibnu Abbas berkata; lalu aku bertanya; "Baik?!, tidak mungkin, sebab penyakit yang di deritanya adalah demam yang sangat kritis, yang apabila diderita oleh orang tua akan menyebabkannya meninggal dunia." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalau begitu, memang benar." (HR. Bukhari)

Tidak Menghinakan Orang Yang Melaksanakan Perintah Allah
Dari Abu Hurairah, mengatakan; seorang pemabuk dihadapkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi menyuruhnya untuk dicambuk. Diantara kami ada yang memukulnya dengan tangan, diantara kami ada yang memukulnya dengan sandal, dan diantara kami ada yang memukulnya dengan pakaiannya. Tatkala selesai, ada seorang sahabat mengatakan; 'sekiranya Allah menghinakan dia! ' Kontan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk menjerumuskan kawan kalian!." (HR. Bukhari)

Memperhatikan Tukang Sapu Masjid
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Seorang wanita berkulit hitam —atau pemuda— yang menjadi tukang sapu di masjid, lalu Rasulullah SAW tidak melihatnya lagi, maka beliau bertanya keberadaannya dan para sahabat menjawab, 'Ia telah meninggal.' Lalu beliau berkata, 'Kenapa kalian tidak memberitahuku?'" Abu Hurairah berkata, "Seolah-olah mereka menyepelekan perkara ini atau meremehkannya." Kemudian beliau berkata, "Tunjukkan kepadaku kuburnya." Lalu mereka menunjukkannya, dan Rasulullah menshalatinya (ghaib) kuburan. Kemudian beliau bersabda, ' Sesungguhnya kuburan ini terasa gelap gulita oleh penghuninya, dan sesungguhnya Allah SWT akan menerangi kuburnya dengan shalatku untuk mereka'"(HR. Muslim)

Memboncengkan Orang Yang Lemah
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Dalam sebuah perjalanan Rasulullah biasanya tertinggal di belakang, guna memberikan pertolongan kepada yang lemah serta membonceng dan mengajaknya. (HR. Abu Daud)

Menjenguk Orang Sakit
Dari Ummu Ala', ia berkata: Ketika saya sedang sakit, Rasulullah SAW membesukku, kemudian beliau bersabda, "Bergembiralah kamu wahai Ummu Ala', sesungguhnya sakitnya seorang muslim itu dapat menghapus dosanya kepada Allah sebagaimana api dapat membersihkan kerak dari emas dan logam perak. " (HR. Abu Daud)

Kasih Sayang Untuk Pasukan Badar
Pertimbangan mereka ialah, pertama menunjukkan rasa belas kasih kepada para tawanan dengan harapan mereka akan tergugah untuk beriman kepada Allah. Kedua sebagai ganti dari harta kaum Muhajirin yang tertinggal di Mekkah dengan harapan akan dapat membantu memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Kecenderungan Rasulullah saw kepada pendapat ini menunjukkan rasa belas kasih Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Perasaan belas kasih inilah yang mendorong Nabi saw untuk mengangkat kedua tangannya memanjatkan do'a buat kaum Muhajirin ketika beliau melihat mereka berangkat menuju Badr dalam kondisi yang serba kekurangan : Ya, Allah mereka berjalan tanpa alas kaki, maka ringankanlah langkah mereka. Ya Allah mereka kekurangan pakaian, anugerahkanlah mereka pakaian. Ya Allah mereka itu lapar, maka kenyangkanlah mereka.“ (Siroh Al Buthy)

Kelembutan Rasulullah
Selanjutnya aku berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku :“Maukah kau menjual untamu itu apdaku , wahai Jabir ?“ Aku jawab :“Wahai Rasulullah saw , aku hadiahkan saja untukmu“. Nabi saw berkata :“Tidak juallah padaku.“ Aku berkata :“Kalau begitu, tawarlah, wahai Rasulullah.“ Nabi saw menawar :“Aku beli satu dirham:“ Aku jawab :“Tidak, itu merugikan aku, wahai Rasulullah.“ Nabi saw menawar lagi :“ Dua dirham ?“ Aku jawab : Tidak.“ Kemudian Rasulullah saw terus menaikkan tawarannya sampai mencapai harga satu‘Uqiyah. Lalu aku bertanya :“Apakah engkau telah rela wahai Rasulullah saw?“ Nabi saw menjawab :“Ya sudah.“ Aku berkata :“Dia milikmu.“. Nabi saw menjawab :“ Aku terima ..“ Kemudian Nabi saw bertanya :“Wahai Jabir, apakah kamu sudah menikah?“ Aku jawab :“Sudah wahai Rasulullah saa. Nabi saw bertanya :“ Janda atau gadis ?“ Aku jawab :“Janda.“ Nabi saw bersabda :“Mengapa tidak memilih gadis sehingga kamu dan dia bisa bercumbu mesra.?“ Aku jawab :“ Wahai Rasulullah saw , sesungguhnya ayahku telah gugur di Uhud. Dia meninggalkan sembilan anak wanita. Aku menikah dengan wanita yang pandai mengemong, trampil merawat dan mengasuh mereka.“ Nabi bersabda :“Engkau benar, insya Allah. Kalau kita sudah sampai di Shirara (nama sebuah tempat di Madinah), kita suruh penyembelih untuk memotong sembelihan. Kita semua tinggal di situ sehari, agar dia (istari Jabir) mendengar kedatangan kita, lalu mempersiapkan bantalnya“. Aku bertanya :“ Demi Allah swt, wahai Rasulullah saw, kami tidak punya bantal.“ Nabi saw menjawab:“Dia pasti punya. Karena itu apabila kamu datang, lakukanlah suatu perbuatan yang menyenangkan.“
Jabir berkata :“Ketika kami sampai di Shirara, Rasulullah saw memerintahkan tukang sembelih untuk melakukan tugasnya, lalu hati itu kami tinggal di situ. Keesokan harinya Rasulullah saw bersama kami masuk Madinah.
Jabir berkata :“Pada pag hari aku menuntun unta, aku bawa sampai ke depan pintu rumah Rasulullah saw , kemudian aku duduk di mesjid berdekatan dengan Rasulullah saw. Setelah keluar, Rasulullah saw melihat unta dan bertanya :“ Apa ini ?“ Mereka menjawab :“Wahai Rasulullah saw , ini adalah unta yang dibawa oleh Jabir.“ Nabi saw bertanya :“Dimana Jabir ?“ Kemudian aku dipanggil menghadap beliau, lalu beliau bersabda :“Wahai anak saudaraku, bawalah untamu, dia milikmu.“ Lalu Nabi saw memanggil Bilal dan bertanya kepadanya :“Pergilah bersama Jabir dan berikan kepadanya satu ‚Uqiyah.“ Kemudian aku pergi bersamanya lalu dia memberiku satu ‚uqiyah dan menambahkan sesuatu padaku. Demi Allah swt, uang itu terus bertambah dan bisa dilihat hasilnya di rumah kami.“ (Siroh Al Buthy)

Pertolongan Untuk Banu Bakar
Fat-hu Makkah ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Sebabnya adalah karena orang-orang dari Banu Bakar meminta bantuan personil dan senjata kepada para pemimpin Quraisy guna menyerang orang-orang Khuza‘ah. (Khuza‘ah telah menyatakan diri berpihak kepada kaum Muslimin sesuai perjanjian Hudaibiyah). Permintaan bantuan ini disambut oleh Quraisy dengan mengirim sejumlah militer Quraisy kepada mereka dengan cara menyamar. Di antara mereka terdapat Shafwan bin Umayyah, Huwaithib bin Abdul Izzi dan Makraz bin Hafsh. Kemudian mereka bertemu dengan Banu Bakar di sebuah tempat bernama al-Watir lalu mengepung selama semalam Banu Khuza‘ah yang tengah tidur dengan tenang. Akhirnya mereka membunuh 20 orang lelaki dari Khuza‘ah. Setelah peristiwa ini, Amer bin Salim al-Khuza‘I bersama 40 orang dari Khuza‘ah berangkat dengan menunggang kuda menemui Rasulullah saw guna melaporkan apa yang baru saja terjadi. Setelah mendengarkan laporan tersebut, Nabi saw berdiri dengan menyeret selendangnya seraya bersabda : „Aku tidak akan ditolong jika aku tidak membantu Banu Ka‘ab sebagaimana aku menolong diriku sendiri.“ Ditegaskan pula : „Sesungguhnya awan mendung ini akan dimulai hujannya dengan kemenangan Banu Ka‘ab“ (Siroh Al Buthy)

Khawatir Keadaan Sahabat Saad bin Rabi
Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya : „Siapa di antara kalian yang bersedia mencari berita untukku tentang keadaan Sa‘ad bin Rabi ? Masihkah ia hidup atau sudah matikah ? Salah seorang Anshar menyatakan kesediaannya, kemudian pergi mencari Sa‘ad bin Rabi. Akhirnya Sa‘ad ditemukan dalam keadaan luka parah, sedang menanti datangnya ajal. Kepadanya orang Anshar itu memberitahu :“Aku disuruh Rasulullah saw untuk mencari engkau, apakah engkau masih hidup atau telah mati…“ Sa‘ad menjawab :“ Beritahukan kepada beliau, bahwa aku sudah mati, dan sampaikanlah salamku kepada beliau. Katakan kepada beliau, bahwa Sa‘ad bin Rabi menyampaikan ucapan kepada anda (yakni Rasulullah saw ) : Semoga Allah swt melimpahkan kebajikan sebesar-besarnya atas kepemimpinan anda sebagai seorang Nabi yang telah diberikan kepada ummatnya ! Sampaikan juga salamku kepada pasukan Muslimin , dan beritahukan bahwa Sa‘ad bin Rabi berkata kepada kalian :
Allah tidak akan memaafkan kalian jika kalian meninggalkan Nabi saw, sedangkan masih ada orang-orang hidup di antara kalian.“
Orang Anshar itu melanjutkan ceritanya :“Belum sampai kutinggalkan, Sa‘ad pun wafat. Aku lalu segera menghadap Nabi saw dan kusampaikan kepada beliau pesan-pesannya. (Siroh Al Buthy)

Mendoakan Kebaikan
Dari Abu Hurairah, dia berkata,”Ath Thufail bin Amr Ad Dausy menemui Nabi, seraya berkata,”Sesungguhnya kaum Daus telah durhaka dan menolak masuk Islam. Maka berdoalah kepada Allah agar menimpakan kehancuran kepada mereka.” Rasulullah segera menghadap kiblat sambil menengadahkan tangan. Melihat hal itu orang-orang berkata,”Tentu mereka akan binasa.” Tapi ternyata beliau berdoa,”Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaum Daus dan anugerahilah mereka.”Beliau mengucapkannya tiga kali.” (HR. Syaikhani)

Tidak Membunuh Orang Buta
Setelah terjadinya pembelotan Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, Rasulullah memimpin sisa pasukan yang berjumlah 700 untuk melanjutkan perjalanannya menuju arah musuh. Antara lokasi perkemahan pasukan musyrikin dan gunung Uhud terhalang oleh tempat-tempat yang banyak, maka Rasulullah bertanya, “Siapakah diantara kalian yang bisa mengantarkan kami mendekati pasukan musuh melalui jalan yang dekat tanpa harus melewati mereka?”. Abu Khaitsamah berkata, “Aku wahai Rasulullah”, lalu dia mengambil jalan pintas menuju Uhud dengan melalui tanah lapang dan ladang Bani Haritsah, sedangkan posisi musuh di kanan mereka.

Dalam perjalanan ini pasukan Muslimin melewati kebun Marba’ bin Qaidhi – seorang munafik yang buta matanya – ketika ia merasakan kehadiran mereka, ia menaburkan debu ke muka kaum Muslimin seraya berkata, “Jika engkau Rasulullah, aku tidak memberimu ijin masuk kebunku!”. Maka pasukan Muslimin bergegas hendak membunuhnya, tetapi Rasulullah berkata, “Kalian jangan membunuhnya, orang ini buta mata dan buta hati”. (Sirah Al Mubarakfury)


Luka Di Uhud
Dalam Shahih Bukhari disebukan bahwa gigi seri Nabi patah, kepalanya terluka dan darah mengalir darinya, kemudian beliau bersabda,”Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung sedang mereka melukai wajah Nabi mereka dan mematahkan gigi serinya sedang dia menyeru mereka kepada Allah?” Maka Allah menurunkan ayat,”Tak ada sedikit pun (kami memiliki hak) campur tangan dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.” (QS. Ali Imran: 128) (Sirah Shafiyyurahman Al Mubarakfury)

Shalat Ghaib untuk Raja Najasy
Dari Jabir radliallahu 'anhu; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika meninggalnya an Najasyi: "Hari ini telah meninggal dunia seorang laki-laki shalih. Maka berdirilah kalian untuk mendirikan shalat (jenazah) untuk saudara kalian yang telah tiada itu".(HR. Bukhari)

Berbuat Baik kepada mesir
Ibnu Ishaq berkata bahwa Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku bahwa Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik Al-Anshari kemudian As-Sulami berkata kepadanya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Jika kalian berhasil menaklukkan Mesir, maka wasiatkan hal-hal yang baik kepada penduduknya, karena mereka mampunyai tanggungan, dan kekerabatan."
Ibnu Ishaq berkata bahwa aku pernah bertanya kepada Muhammad bin Muslim Az-Zuhri, "Apa yang dimaksud dengan kekerabatan yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mereka pada hadits tersebut?" Muhammad bin Muslim Az-zuhri menjawab,"Ibu Nabi Ismail, Hajar berasal dari mereka."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar